Too Many Boys

Rey Orphan
Chapter #9

00.08

“Iya. Tante, Om Bagas, sama Mama kamu, udah sepakat untuk menjodohkan kalian.”

Ucapan Revalina bagaikan bom waktu yang meluluh-lantahkan hati Fina. Bagaimana tidak? Tidak ada angin, tidak ada hujan, tiba-tiba petir menyambar disiang bolong. Dengan entengnya mereka bilang, kalau dirinya akan dijodohkan dengan Dino.

“Ma-maksudnya?” tanya Fina terbata. Fina menoleh menatap Mamanya dan semua yang ada di sana meminta penjelasan. “Ini maksudnya apa? Fina mau dijodohin sama Dino?”

Riana mencoba menenangkan Fina, mungkin putrinya masih syok dengan informasi yang baru diterimanya. “Sayang, biar Mama jelasin,” ucap Riana sembari mengelus punggung Fina, mencoba menenangkan. “Jadi, Mama sama Tante Revalina itu udah rencanain ini sejak kalian masih kecil. Kalian udah sama-sama dari dulu, jadi apa salahnya kalau kita jodohin kalian berdua?” terang Riana.

Fina membulatkan matanya serta tak sanggup berkata-kata. Dia harap ini hanya mimpi buruk, dan ia akan terbangun sebentar lagi. Tapi nyatanya tidak, ini bukan mimpi, ini kenyataan yang sangat sulit untuk diterima bahwa dia akan dijodohkan dengan sabahatnya sendiri, Dino.

What the hell? Ini bukan lagi jamannya Siti Nurbaya dimana jodoh-menjodohkan sudah tidak asing dilakukan. Ini jaman milenial, di mana anak-anak muda dapat mencari pasangannya sendiri, bahkan dapat dengan mudah bergonta-ganti pasangan untuk mencari jodoh yang terbaik sebelum menjadi pasangan sejati.

Fina tak mengerti lagi dengan pemikiran orangtuanya dan orangtua Dino, tentunya. Bagaimana bisa mereka memiliki pemikiran yang kolot seperti itu?

Fina menggeleng kuat. “Nggak, Ma. Fina gak mau!” bantahnya tegas. Ini kali pertamanya ia membantah dan menyentak mamanya. Tapi ini juga karena mamanya, kenapa mereka setega itu kepadanya?

“Fina sama Dino cuma sebatas teman, gak lebih. Fina juga udah anggap Dino seperti kakak Fina sendiri, dan Fina gak mau lebih dari itu!” lanjutnya dengan mata berkaca-kaca. Sungguh, ia tidak menyangka akan seperti ini akhirnya. Kalau tahu akan seperti ini, dia akan lebih memilih untuk mengunci diri di kamarnya.

Fina menolak mentah-mentah perjodohan itu bukan karena ia tidak sayang pada Dino. Fina sayang Dino, tapi sayangnya dia pada cowok itu hanya sebatas sahabat karena ia dan Dino sudah biasa bersama layaknya saudara kandung. Dan lagi, Fina sama sekali tidak memiliki pemikiran untuk mengubah statusnya dengan Dino. Sekedar teman yang mengerti satu sama lain, itu saja sudah cukup baginya.

Fina lalu beralih menatap Dino. Cowok itu hanya diam tak bersuara setelah apa yang orangtuanya katakan barusan membuat Fina yakin, Dino juga ikut terlibat dalam hal ini. “Dino, kenapa kamu diem aja? Kenapa kamu gak nolak perjodohan konyol ini?”

“Fina kamu tenang dulu, ya. Biar aku jelasin semuanya,” Dino menggenggam tangan Fina, berusaha menenangkannya, tapi sayang Fina malah menarik tangannya seperti tak mau disentuh olehnya. Dino menghela napasnya sebelum melanjutkan kembali ucapannya, “sebenarnya, udah dari lama aku suka sama kamu. Beberapa kali juga aku coba ungkapin perasaan aku ke kamu, tapi kamu gak pernah sadar dan terus beranggapan bahwa kita hanya sekedar teman.”

Dino menjeda ucapannya, menarik napasnya dalam-dalam lalu mengembuskannya perlahan. “Kali ini aku serius, Fin. Aku suka sama kamu, dan ijinkan aku jadi pelindung kamu dan menjaga kamu. Aku mau kita lebih dari sekedar teman. Kamu mau kan, Fin?”

Fina menggelengkan kepalanya, air matanya yang sedari tadi ia tahan akhirnya jatuh begitu saja tanpa komando darinya. Fina bangkit dari duduknya, dan segera berlari keluar rumah. Ia terus menyakinkan dirinya bahwa ini hanyalah mimpi buruk semata.

“Fina!” teriak Dino. Dengan cepat, ia segera menyusul Fina yang sudah menuju gerbang rumahnya.

“Fina, Fina tunggu! Tunggu penjelasan aku dulu, aku mohon,” ujar Dino memohon agar Fina mau mendengarkan penjelasannya.

“Fin, sebelumnya aku minta maaf karena udah lakuin ini ke kamu. Jujur, dari hati aku yang terdalam, aku beneran suka sama kamu. Aku cinta sama kamu. Kamu ngerti, kan maksud aku?” Dino menggenggam tangan Fina, berusaha menahan Fina agar mendengarkan penjelasan darinya.

Fina melepaskan tangannya, lalu menggelengkan kepalanya. “Maaf Dino, aku gak bisa. Kamu sahabat aku, gak lebih. Aku juga udah anggap kamu seperti kakak aku sendiri, jadi sekali lagi aku minta maaf. Aku gak bisa.”

Setelah mengatakan itu, Fina langsung meninggalkan Dino yang masih mematung di tempatnya. Hatinya sesak, air matanya tak berhenti mengalir. Ia kecewa. Kecewa pada semua orang, termasuk pada Dino dan tentunya pada dirinya sendiri.

Kenapa ia tidak bisa menerima Dino? Padahal Dino sangat baik padanya, dan Dino sudah sangat mengenalnya. Tapi ia sudah sangat nyaman dengan statusnya dengan Dino yang hanya sekedar teman. Itu yang membuatnya tidak mau merubah statusnya. Cukup sebagai teman, tanpa melibatkan perasaan.


***


Lihat selengkapnya