Fina duduk sendirian di meja perpustakaan, sesuatu yang bahkan ia sendiri bingung darimana datangnya keberaniannya hingga berani datang sendirian ke tempat ini. Mungkin disini, tidak akan ada Nathan yang akan mengganggunya. Cowok menyebalkan itu selalu saja menjahilinya, yang akhirnya membuat Fina memilih kabur dari kelas.
Sambil menopang dagunya, Fina membulak-balikan halaman buku yang ada dihadapannya. Untuk pertama kalinya, Fina bolos dari kelas dan memilih untuk menyendiri di perpustakaan.
Keluar dari kelas pada waktu pembelajaran memang bukan hal yang baik, tapi Fina butuh waktu untuk sendiri. Fina butuh ketenangan, agar bisa berdamai dengan pikirannya dan juga hatinya.
Fina masih memikirkan tentang perjodohan itu. Di satu sisi ia ingin menolak perjodohan itu, tapi disisi lain ia tak mau mengecewakan Mamanya.
Fina tak tahu harus apa sekarang, bahkan hubungan pertemanannya dengan Dino kini semakin merenggang. Tanpa ia sadari, dirinya sendiri yang membuat jarak dan membentengi dirinya sehingga Dino tak bisa menyentuhnya lagi.
Ting!
Fina mengerjapkan matanya, lalu menatap ponselnya yang tergeletak tak berdaya di atas meja. Sebenarnya ia malas untuk sekadar mengambil ponselnya, tapi melihat nama Tasya terpampang jelas di layar ponselnya, dengan cepat ia meraihnya dan melihat pesan dari temannya itu.
Tasya
Lo dimana woy? Di cariin bu Laila, lo.
Cepetan balik!
Fina mengembuskan napasnya gusar. Suasana hatinya masih belum membaik, jadi ia lebih memilih untuk tetap berada disini. Belajar pun percuma, sudah pasti semua materi pelajaran tidak akan ada yang masuk ke otaknya.
Fina
Aku masih di toilet, sakit perut.
Bilang ke Bu Laila, aku belum bisa masuk.
Tasya
Oh. Oke.
Fina mengembuskan napas lega karena Tasya tidak bertanya macam-macam seperti biasanya. Dia langsung meletakkan kembali ponselnya di atas meja. Dan kembali melanjutkan lamunannya yang sempat tertunda.
Karena bosan dan jenuh, rasa kantuk mulai menyerang. Hampir satu jam lebih ia duduk ditempatnya tanpa bergeser sedikitpun. Hingga tanpa sadar, Fina memejamkan matanya dengan menelungkupkan kepalanya di atas meja.
Baru saja Fina memejamkan matanya, ia dikejutkan dengan suara bedebum keras yang berasal tak jauh dari tempatnya duduk. Dan itu sukses membuat jiwa penakutnya kembali.
Fina menatap horor ke arah suara tadi, “Siapa?” tanyanya entah pada siapa. Karena tak mendapatkan jawaban, Fina melangkahkan kakinya pelan menuju kearah suara itu berasal, meski dengan jantung yang berdebar-debar.
Rasa takutnya hilang begitu saja ketika ia melihat seorang laki-laki yang sedang berjongkok dengan beberapa buku tergeletak didepannya. “Eh? Kamu kenapa?” Fina langsung menghampiri seorang cowok itu, dan membantunya membereskan buku-buku yang berserakan di lantai.
Cowok itu mendongakkan kepalanya menatap Fina dengan kedua alis bertaut. Seolah sedang mengingat-ingat sesuatu.
Fina mengerjap, ketika menyadari bahwa laki-laki itu adalah orang yang sama dengan yang menabraknya tempo hari. “Kamu? Kamu anak baru itu, kan?”
Laki-laki itu mengangguk, karena baru ingat bahwa ia pernah bertemu perempuan yang ada dihadapannya itu. “Iya, ketemu lagi kita,” ucapnya diiringi kekehan kecil, lalu menaruh kembali buku-buku yang berjatuhan tadi ketempat semula.
Fina tersenyum kaku, baru kali ini ia berbicara dengan orang lain di sekolahnya selain Dino, Tasya, para guru, dan Nathan, tentunya. Selama bersekolah disini, Fina jarang—atau bahkan tidak pernah—mengobrol dengan siapapun selain yang tadi ia sebutkan. Tapi kali ini rasanya berbeda, mungkin pembawaan cowok itu yang membuat Fina bisa berkomunikasi dengan baik dengannya.
Fina rasa, cowok yang ada di hadapannya itu sedikit berbeda dengan kebanyakan cowok yang ada di sekolahnya. Jika biasanya dia akan dipandang dari atas sampai bawah oleh laki-laki lain dan berakhir dengan tatapan meremehkan, kali ini tidak. Cowok itu tidak menatapnya seperti itu, bahkan sepertinya cowok itu tidak keberatan dengan keberadaannya. Dan lagi, ia merasa lebih dihargai oleh cowok itu.
“Eh, soal yang kemarin gue minta maaf, ya. Gue gak sengaja,” ucap cowok itu setelah semua buku-bukunya kembali ke tempat semula.
Fina tersenyum sembari mengangguk. “Gak apa-apa, kok. Lagian aku juga udah lupa.”
Fina menatap iris mata cowok itu yang lagi dan lagi mengingatkannya pada seseorang. Tapi Fina rasa bukan, karena mungkin saja itu hanya kebetulan karena mereka memiliki warna mata yang sama. Dan mungkin juga, itu yang membuat Fina tidak merasa canggung saat bersama cowok itu.
“Eh? Kita belum kenalan ya? Kenalin, gue Arfika Alexander, panggil aja Alex. Gue kelas dua belas IPA 5. Lo tahu Dino? Gue sekelas sama dia,” ujar cowok itu memperkenalkan dirinya. Ia menjulurkan tangannya kehadapan Fina, menunggu Fina untuk menyambut tangannya.
Fina menatap cowok yang ternyata bernama Alex dan uluran tangan cowok itu, bergantian. Meski sempat ragu, akhirnya ia meraih uluran tangan Alex sambil tersenyum, “Aku, Fina,” jawabnya kaku.
***