Nathan mengembuskan napasnya sebelum ia melangkah masuk kedalam rumahnya. Rumah mewah yang sama sekali tidak memberikan kenyamanan untuknya. Dan terasa seperti neraka bagi Nathan. Bahkan Nathan sama sekali tidak percaya dengan Perumpamaan; rumahku, surgaku. Karena baginya, rumahnya bukan surga melainkan neraka.
Dan hal pertama yang ia dapatkan saat membuka pintu rumahnya adalah; Reynald yang dengan santainya menenggak minum keras diruang tengah rumahnya. Ini yang membuatnya malas untuk pulang. Ia sangat membenci pemandangan seperti ini, dimana papanya seperti orang kesetanan yang tidak memedulikan kesehatannya.
Selalu saja, setiap ada masalah papanya akan minum-minuman keras. Menjadikan minuman keras sebagai pelarian, padahal minuman sama sekali tidak akan membantu menyelesaikan masalah dan malah menambah masalah, nantinya.
“Habis dari mana kamu, Nathan? Masih berani kamu pulang ke rumah saya?” racau Reynald saat melihat kedatangan Nathan. Pria itu menenggak kembali minumannya. Rasanya begitu melegakan. Tubuhnya menjadi ringan, dan semua masalahnya seakan hilang dari pikirannya.
Reynald berjalan sempoyongan menghampiri Nathan yang masih diam didepan pintu, dengan botol minuman masih ia pegang ditangan kanannya. “Kenapa kamu pulang? Kenapa kamu tidak tidur saja dipinggir jalan seperti anak-anak jalanan, hmm?”
Nathan mengepalkan tangannya, menarik napasnya, mencoba menekan emosinya. Dia tidak boleh terpancing emosi, apalagi sampai melawan orangtuanya. Nathan tahu papanya sudah kelewatan, tapi ia juga sadar papanya sudah kehilangan separuh kesadarannya karena minuman sialan itu.
“Lalu apa gunanya saya memiliki orangtua? Apa ini yang disebut orangtua? Yang sama sekali tidak pernah mendidik anak-anaknya kejalan yang benar,” balas Nathan, membuat Reynald mengepalkan tangannya. Ia tahu ini keterlaluan, tapi rasa kesalnya yang membuat dirinya berkata demikian.
Prang!
Tanpa aba-aba, Reynald memukulkan botol minuman yang dipegangnya tepat mengenai pelipis Nathan, hingga botol itu hancur berkeping-keping dan menyisakan pecahan beling yang berserakan di lantai.
“Ahh!” Nathan yang tidak siap limbung seketika, dan merasakan nyeri yang luar biasa saat pecahan dari botol itu menyobek kulit pelipisnya.
“Ini hukuman buat kamu yang tidak pernah mendengarkan apa kata saya!” bentak Reynald. Ia sama sekali tidak merasa bersalah, justru ia merasa apa yang dilakukannya itu hal yang wajar untuk memberi hukuman pada anaknya yang tidak mau mendengarkan ucapannya.
Perih. Itu yang Nathan rasakan saat pecahan kaca dari botol itu menyobek kulitnya. Darah segar mengalir dari pelipisnya, tapi rasanya tidak lebih sakit dari rasa sakit dihatinya.
Sambil memegangi kepalanya, Nathan mencoba bangkit kembali. “Orangtua macam apa yang selalu menggunakan kekerasan pada anaknya, hmm? Apa ini cara Anda mendidik anak Anda?” tanya Nathan sambil tersenyum miris. Sedih rasanya melihat Papanya melakukan ini padanya. Apa salahnya? Tapi mau sebenar apapun yang dilakukannya, tetap akan salah di mata ayahnya.
“Shit!” umpat Reynald. Ia mengepal kuat hingga urat-urat tangannya menegang. Matanya memerah, tak terima dengan perkataan Nathan barusan.
Bugh!
Satu bogeman mentah kembali dilayangkan oleh Reynald. Nathan mengeraskan gigi gerahamnya, lalu menghapus darah yang keluar dari ujung bibirnya dengan ibu jarinya.
“Pergi kamu, sialan! Angkat kaki dari rumah ini. Saya tidak sudi orang seperti kamu menginjakkan kaki di rumah ini!” berang Reynald. Wajahnya memerah, akibat emosi yang sudah menguasai dirinya.
Nathan berusaha berdiri, meski harus menahan rasa nyeri di kepalanya dan juga hatinya. Benarkah ayahnya mengusirnya? Meski dalam keadaan tidak sadar, perkataan Reynald benar-benar membuat hatinya sakit. Bahkan lebih sakit dibandingkan pukulan yang melukai fisiknya.
Nathan tersenyum, tapi matanya jelas memperlihatkan bahwa dirinya sangat sedih. Ia mengembuskan napasnya, dan ia akan menuruti kemauan ayahnya. “Baik, tanpa Anda minta pun, saya akan pergi dari rumah neraka ini.”
Nathan langsung bergegas menuju kamarnya, keputusannya sudah bulat, ia akan pergi dari rumah yang sudah ia tinggali sejak kecil itu. Dari awal memang ini yang ia inginkan, tapi Nathan mencoba bertahan. Karena ia sadar kondisi ayahnya sudah tidak lagi kuat seperti dulu, dan ia tak mau terjadi sesuatu yang tidak-tidak pada ayahnya.
Tapi kali ini, Reynald sendiri yang mengusirnya, bukan? Jadi tanpa pikir panjang, Nathan membereskan barang-barangnya kedalam koper besar miliknya, dan setelahnya ia kembali keluar dari kamar dengan menyeret koper besar itu dibelakangnya.
“Aden serius mau pergi dari rumah ini? Bibi ikut ya, Den. Bibi khawatir sama Aden,” ucap Bibi, mencoba menghentikan Nathan dengan mencekal pergelangan tangannya.