“Bangun tidur ku terus mandi, tapi lupa menggosok gigi. Habis mandi ku tidur lagi, kebablasan sampe pagi lagi. Aye!” Tasya menyanyikan lagu anak-anak itu dengan ceria, walau sedikit mengubah liriknya dari lagu aslinya dengan seenak udelnya.
Tasya berjalan menyusuri koridor kelas, dengan semangat. Wajahnya begitu ceria, entah karena apa.
Tasya menghentikan langkahnya ketika melihat Fina yang sedang duduk di depan kelas. Tidak seperti biasanya, cewek itu terlihat murung sambil menatap layar ponselnya. Karena hati Tasya sedang cerah-cerahnya, ia menghampiri Fina dengan senyuman menghiasi wajah cantiknya.
“Fina!” Tasya langsung duduk disebelah Fina. tapi Fina sepertinya tidak menyadari kehadirannya. “Eh? Kenapa lo?” tanyanya dengan dahi mengerut.
Tak juga mendapatkan respon dari Fina, Tasya mengguncangkan tubuh temannya itu, “Fin? Lo kenapa sih?”
Fina mengerjap, terkejut karena Tasya tiba-tiba ada disebelahnya, “Eh? Kok ada kamu?” tanyanya bingung. Setahunya, tadi dia hanya duduk sendirian disini, dan kenapa sekarang sudah ada Tasya?
Tasya mengembuskan napasnya. Dia tahu, Fina pasti sedang ada masalah. Karena dia tahu betul kalau tingkah laku Fina sudah seperti ini, pasti cewek itu sedang menyembunyikan sesuatu. Walaupun Tasya sendiri belum tahu sesuatu yang sedang Fina sembunyikan itu apa. “Akhir-akhir ini, gue perhatiin lo ngelamun terus, Fin? Mikirin apa sih?”
“Siapa yang ngelamun? Aku gak ngelamun,” jawab Fina mengelak. Entahlah, walaupun sudah hampir dua tahun berteman dengan Tasya, rasanya masih sangat berat untuk menceritakan tentang apa yang terjadi pada Tasya. Apalagi masalahnya kali ini sangat berbeda dengan yang sebelumnya. Mungkin kalau masalah sepele, Fina bisa menceritakannya, tapi ini bukan. Masalahnya kali ini bukanlah hal yang bisa disepelekan.
Tasya mendengus, “Oke, fine kalau lo gak mau cerita sama gue. Tapi gue gak mau liat lo kayak gini, Fin. Gue gak suka,” ucapnya sambil menatap Fina yang kembali melamun, entah memikirkan apa.
Tangan Tasya terulur, mengusap pundak Fina pelan. “Lo tau kan nyeritain masalah ke orang yang tepat, bisa membantu meringankan masalah? Ya, walaupun gak sepenuhnya membantu, tapi setidaknya beban di pikiran lo sedikit berkurang,” Tasya menjeda ucapannya, memberikan waktu untuk Fina berpikir. “jadi, apa salahnya lo cerita sama gue? Gue sahabat lo, Fin. Gue gak suka liat lo kayak gini. Ngelamun sendirian kayak gini.”
Fina diam, matanya menatap kosong ke arah depan. Benar kata Tasya. Menceritakan tentang apa yang sedang dirasakan pada seseorang yang tepat bisa sedikit membantu meringankan beban di pikiran. Tapi... apakah harus dia menceritakan perjodohannya dengan Dino pada Tasya?
Jujur saja, Fina masih berat untuk menerima kenyataan itu. Jangankan dijodohkan, untuk mengubah statusnya menjadi pacar Dino saja belum ada dipikirannya. Walaupun Fina tahu, banyak perempuan diluar sana yang menginginkan hal itu. Dan Fina juga sadar dengan tatapan iri dari cewek-cewek di sekolahnya ketika dia sedang bersama Dino. Meskipun hanya sekedar mengobrol.
Tasya menggenggam tangan Fina, membuat cewek itu tersadar dari lamunan yang berkelanjutan. “Gue bukannya kepo atau apalah itu. Gue cuma pengin kehadiran gue sebagai sahabat lo, lebih berguna. Itu aja,” ucap Tasya sembari menatap Fina. “Gue cuma pengin bantu lo. Karena gue ngerasa, setiap gue ada masalah, lo yang selalu ada buat gue dan bantu gue. Jadi, apa gue salah kalau gue pengin balas budi ke elo?”
Ya, memang benar. Setiap Tasya memiliki masalah, dia selalu menceritakannya pada Fina. Hanya pada Fina dia bisa terbuka dan menceritakan semua yang terjadi dalam hidupnya. Hingga berakhir dengan Fina yang selalu memberikannya saran yang sangat berguna. Dan Tasya ingin seperti itu. Tasya ingin ketika keadaannya terbalik, ia bisa membantu Fina. Walaupun sedikit. Dan Tasya akan sangat senang kalau Fina juga terbuka padanya. Tapi nyatanya, Fina masih belum memercayainya.
Fina mengembuskan napasnya, lalu menatap Tasya yang juga sedang menatapnya. Tatapan itu tulus, dan Fina bisa merasakan bahwa Tasya sangat ingin membantunya. Fina benar-benar merasa beruntung memiliki sahabat yang pengertian seperti Tasya. Mungkin, dia harus bisa memberikan kepercayaannya kepada Tasya. Seperti yang dilakukan Tasya padanya.
Melihat Fina yang sepertinya masih belum bisa menceritakan apa yang sedang dirasakannya, Tasya tersenyum lalu menepuk pundak Fina, pelan. “Kalau belum siap, gue gak maksa kok,” katanya seraya bergegas untuk masuk kedalam kelas. Walaupun jam pelajaran masih sangat lama, mengingat mereka selalu datang lebih awal dari murid-murid lainnya, Tasya melangkah meninggalkan Fina. Tapi langkahnya terhenti ketika cewek itu menahan pergelangan tangannya.
“Maaf.”