Nathan terus mencuri pandang pada Fina yang sedang sibuk menulis. Ia masih penasaran dengan Fina, karena tadi pagi dia sempat melihat cewek itu menangis? Apa yang membuat cewek itu menangis? Dan siapa yang sudah berani membuat Fina menangis?
Segala pertanyaan berkecamuk di pikiran Nathan. Ia tidak suka melihat Fina menangis, apalagi saat melihat cewek itu pura-pura tegar dihadapannya, seperti sekarang ini.
“Fin,” panggil Nathan.
Fina menghentikan aktifitas menulisnya, lalu menoleh menatap Nathan. “Iya?”
“Tadi lo nangis? Kenapa?” tanya Nathan to the point.
Fina mengernyitkan dahinya. Bagaimana bisa Nathan tahu dia menangis? Apa cowok itu melihatnya? Apa Nathan memata-matai dirinya?
“Siapa yang nangis? Aku gak nangis. Kamu salah liat kali, Nathan,” jawab Fina.
Nathan mendengus, “Gak usah bohong. Kan gue udah bilang, lo gak ada bakat berbohong. Jelas-jelas tadi gue liat sendiri lo nangis pas bareng Tasya. Ngaku lo.”
Fina memutar matanya malas. Kenapa Nathan selalu saja mengganggunya? Apa cowok itu tidak memiliki pekerjaan lain selain merecoki kehidupan orang?
Fina mengembuskan napasnya, lalu menatap Nathan jengah. “Emang kalau aku nangis, kenapa? Kamu mau ledek aku lagi kayak kemarin di perpustakaan?”
“Sensi banget, lagi PMS ya lo?”
“Aku nangis, karena aku mau. Lagi pula, gak ada larangan kan buat nangis?” ujar Fina lalu memalingkan wajahnya kearah luar kelas.
Nathan sebenarnya tahu ada yang disembunyikan oleh Fina. Kalau tidak, mana mungkin sikap cewek itu berubah drastis seperti itu. Fina jadi lebih sensitif sekarang, dan Nathan pun sering memergokinya sedang melamun sendirian ditempat yang sepi. Tapi yang membuatnya bingung, kenapa dia bisa memperhatikan Fina sampai sejauh ini? Apakah hanya penasaran saja, atau ada perasaan lain di hatinya? Entahlah, yang jelas Nathan sangat tidak suka melihat Fina seperti ini. Nathan lebih suka dengan Fina yang dia kenal, yang selalu tersenyum di situasi apapun. Itu saja.
Fina akhirnya bisa bernapas lega karena bel istirahat berbunyi. Setidaknya dengan ini, ia bisa terbebas dari Nathan karena cowok itu tidak akan mengganggunya di luar kelas.
“Fina, kantin yuk!” ajak Tasya sambil berjalan kearah meja Fina.
Fina tersenyum senang. Tasya datang disaat yang tepat, dan dengan semangat Fina memasukkan alat-alat tulisnya ke kolong meja. “Ayo.”
“Nathan permisi dong, aku mau lewat,” ucap Fina pada Nathan. Fina mendengus sebal karena sepertinya Nathan sengaja menghalangi jalannya. Pasalnya, cowok itu malah menelungkupkan kepalanya di atas meja saat Fina akan lewat. Benar-benar menyebalkan.
“Lewat atas aja,” ujar Nathan tanpa mengubah posisinya. Itu hanya alibinya. Karena sebenarnya Nathan tidak ingin Fina keluar dari kelas. Entah kenapa, saat bersama Fina hatinya menjadi tenang. Semua permasalahannya seakan hilang hanya dengan menatap mata dan menjahili Fina.
Itu alasan Nathan selalu mengganggu Fina. Ada kesenangan tersendiri ketika melihat Fina yang kesal karena ulahnya. Ditambah lagi, ketulusan dan kebaikan Fina membuat Nathan merasa dia membutuhkan cewek itu. Ya, bisa dibilang Fina sudah memberikan perhatian yang sama sekali belum pernah Nathan rasakan sebelumnya.
Fina mendengus kesal, “Ih! Nathan minggir dulu.”
Entah karena refleks atau sengaja, Fina menarik lengan Nathan, membuat cowok itu langsung menatapnya. Fina menelan ludahnya lalu melepaskan tangannya dari lengan Nathan. Dengan cepat, ia menundukkan kepalanya sebelum jantungnya meledak. Entah karena apa, saat bertatapan dengan Nathan, jantungnya selalu bekerja lebih cepat dari biasanya.
“Nathan minggir, dong! Resek banget sih lo,” gerutu Tasya sambil menarik tangan Nathan. “Fin, ayo!” ajak Tasya ketika Nathan sudah berdiri dari duduknya.
Fina mengangguk, menatap Nathan sekilas dan langsung mengalihkan kembali pandangannya. Entahlah, Fina merasa ada sesuatu yang aneh saat ia menatap Nathan, padahal cowok itu hanya menatapnya datar.
Tapi ada satu hal yang terus mengganggu hatinya, kenapa tatapan Nathan seolah-olah memintanya untuk tetap berada di kelas untuk menemaninya. Entah itu hanya perasaannya saja atau memang benar adanya, tapi yang jelas itu membuat Fina penasaran, ada apa dengan Nathan?
Tasya menarik tangan Fina, mengajaknya keluar dan langsung menuju kantin. Tapi baru saja selangkah keluar dari pintu kelas, seseorang memanggil Fina membuat langkah kedua cewek itu terhenti.
“Fina!” panggil seorang cowok sambil berlari kearah Fina dan Tasya. “Mau ke kantin ya?” tanyanya dengan napas terengah-engah.
Fina menoleh, ternyata yang memanggilnya itu Alex. Ia tersenyum dan mengangguk sebagai jawaban.
Tasya yang merasa tidak tahu apa-apa serta tidak tahu siapa cowok yang ada dihadapan Fina, menyikut lengan Fina sambil menaikkan sebelah alisnya meminta penjelasan.
Seakan mengerti, Fina langsung mengenalkan Alex pada Tasya. “Emm... Sya, ini Alex. Dan Alex, ini Tasya temen aku,” ucap Fina memperkenalkan keduanya.