Too Many Boys

Rey Orphan
Chapter #15

00.14

Nathan, Al dan Raihan sedang berada di roof top sekolah. Sebenarnya sekolah tidak mengijinkan para siswa memasuki area itu, tapi bukan Nathan namanya yang akan menuruti peraturan sekolah. Seperti murid-murid nakal pada umumnya, Nathan pun memegang teguh kata-kata ini; peraturan dibuat untuk dilanggar.

“Gue tadi liat Arfika ada di sekolah ini,” ucap Nathan memulai pembicaraan mereka. Ia menghisap rokoknya, lalu mengembuskan asap rokok dari bibir hingga membumbung tinggi di udara, dan menghilang diterpa angin.

Al yang tahu siapa Arfika langsung menoleh menatap Nathan tidak percaya. Sedangkan Raihan, yang tidak tahu-menahu tentang siapa Arfika hanya mengerutkan dahinya, sambil menunggu Nathan melanjutkan ucapannya.

“Lo serius?” tanya Al.

Nathan mengangguk, “Iya, gue liat sendiri tadi,” jawabnya lesu. Entahlah, kedatangan Arfika di sini membuatnya semakin tidak menyukai cowok itu. Apalagi ditambah, Arfika sedang dekat dengan... ah! Nathan tidak mau mengingatnya.

“Bentar, bentar,” Raihan menyerobot pembicaraan, “gue masih bingung, Arfika itu siapa? Dan kenapa juga lo, Nathan, kayak gak suka gitu sama si Arfika-Arfika itu?” sambungnya, karena memang ia tidak tahu siapa Arfika.

“Dulu, Arfika itu temen gue sama Nathan pas SMP. Kita dulu deket banget, kemana-mana bertiga, sampe dikira kembar tiga. Kayak kita sekarang, lah. Tapi—”

“Stop!” potong Nathan cepat.

Raihan menoleh, menatap Nathan penasaran. Ada apa sebenarnya diantara mereka bertiga? Jika memang mereka dulu pernah berteman, lalu kenapa sekarang Nathan terlihat tidak menyukai cowok bernama Arfika itu?

“Kenapa lo kesel kayak gitu? Lo takut Melodi balikan lagi sama dia? Lo udah mulai suka sama Melodi?” tanya Al bertubi-tubi.

“Bukan gitu, Al,” sahut Nathan kesal. Menyukai Melodi adalah hal terakhir yang akan dipilih olehnya. Nathan akui, Melodi memang cantik tapi ia sangat-sangat membenci apa yang ada didalam diri cewek itu.

“Kalau bukan itu, terus kenapa?” Al kembali bertanya dengan dahi yang semakin bergelombang, penasaran.

Nathan mendengus, lalu mengedikan bahunya. “Gak tahu. Gue pusing!” jawabnya tiba-tiba sensitif. Ia langsung beranjak dari tempatnya meninggalkan teman-temannya yang kebingungan melihat tingkahnya.

Raihan dan Al saling berpandangan, lalu mengerutkan keningnya. “Kenapa tuh bocah? Tumben amat,” gumam Raihan.

Al mengedikan bahunya, tanda ia juga tidak tahu. “Entah. Tapi menurut pandangan gue sebagai teman dari orok, kayaknya tuh anak lagi potek hati, deh,” katanya sok tahu.

“Lah, kenapa? Bukannya Nathan gak suka sama Melodi?” tanya Raihan dengan dahi mengerut.

“Nah, itu! Kayaknya ada sesuatu yang disembunyiin Nathan dari kita. Dan sepertinya kita harus jadi detektif Upin Ipin, deh. Kita bikin misi rahasia, buat mata-matain Nathan. Gimana?” ucap Al sambil menaik-turunkan alisnya meminta persetujuan dari Raihan.

Raihan tersenyum picik, sepertinya menarik. Ia dan Al akan menjalankan misi rahasia untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Nathan. Ia juga curiga, diam-diam Nathan menyembunyikan sesuatu dari mereka berdua.

Lihat selengkapnya