Untuk pertama kalinya, alarm yang dipasang di ponselnya berhasil membangunkan Nathan yang masih bergelung dengan selimut hangatnya. Cowok itu mengucek matanya, menguap lebar lalu merangkak turun dari ranjang.
Nathan membuka jendela kamarnya, berjalan menuju balkon lalu menghirup udara pagi yang menyegarkan. Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat betapa sibuknya kota Jakarta. Kendaraan terlihat kecil dari ketinggian hampir dua puluh meter di atas permukaan tanah, seperti bala tentara semut yang sedang berbaris mencari makanan. Nathan kembali masuk kedalam kamarnya, segera bergegas untuk mandi. Hari ini, ada rencana besar yang akan ia lakukan.
Sekitar sepuluh menit bergelut di kamar mandi, Nathan keluar dengan telanjang dada, menyisakan handuk putih yang melingkar di pinggangnya. Cowok itu segera mengenakan seragamnya, memakai sepatu dan meraih ranselnya. Nathan keluar dari apartemennya, memasuki lift dan berakhir di basement apartemen.
Setelah menemukan mobilnya, Nathan langsung masuk kedalam mobilnya lalu segera menjalankan mobil BMW hitam metaliknya membelah keramaian jalanan kota Jakarta.
“Kok gue jadi deg-degan ya?” gumam Nathan sambil memegang dadanya. Jujur saja, sekarang jantungnya sudah seperti genderang perang.
Nathan menghentikan mobilnya tepat disebrang rumah berlantai dua. Matanya terus tertuju pada rumah itu, berharap si pemilik rumah segera keluar. Jantungnya semakin tak karuan saat melihat orang yang ia tunggu-tunggu.
“Akhirnya, yang ditunggu-tunggu datang juga.” Nathan tersenyum, lalu menjalankan kembali mobilnya mengikuti Fina. Iya, Fina. Rencananya pagi ini adalah menculik cewek polos itu dan mengajaknya berangkat sekolah bersama. Entah kenapa, rasanya begitu menyenangkan melihatnya pagi-pagi seperti ini.
Seperti biasa, Fina berjalan menuju halte bus yang ada di ujung kompleks perumahannya. Setelah sampai, Fina duduk sambil memainkan ponselnya sembari menunggu bus itu datang. Awalnya ia tak merasa ada yang aneh, tapi saat sebuah mobil BMW berwarna hitam berhenti tepat didepannya, membuatnya sedikit ketakutan. Takut seseorang dibalik mobil itu berniat jahat padanya.
Fina mengerutkan keningnya, merasa tidak asing dengan mobil itu. Ia sering melihat mobil itu disekolah, tapi kan mobil seperti itu ada banyak dengan warna yang serupa. Dan Fina mulai berdoa, berharap si pemilik mobil bukan orang jahat.
Tapi semua pikiran negatifnya hilang ketika orang yang berada dibalik kemudi mobil itu menampakkan dirinya. Nathan. Cowok itu yang keluar dari mobil berwarna hitam itu dengan tampilan yang acak-acakan, ciri khasnya.
Fina bersyukur dan langsung bernapas lega karena ternyata pemilik mobil itu bukan orang jahat. Tapi, ia heran sekaligus penasaran, untuk apa Nathan berada di sini?
“Ka-kamu. Kamu ngapain di sini?” tanya Fina ketika Nathan berada di hadapannya.
“Gue mau jemput lo. Gue mau berangkat sekolah bareng sama lo,” jawab Nathan to the point.
Fina menatap Nathan tidak percaya. Sesekali ia mengucek matanya, memastikan bahwa yang ada dihadapannya itu benar-benar Nathan. Cowok kurang kerjaan yang selalu mengganggunya, kini entah karena apa, cowok itu menjemputnya dan mengajaknya berangkat sekolah bersama.
Mimpi apa aku semalam?
Ya Tuhan, dalam keadaan acak-acakan seperti itu saja Nathan terlihat tampan. Rahangnya yang tegas, hidungnya yang mancung, alis tebal, dan jangan lupakan tatapan mata tajamnya yang selalu membuat Fina menelan ludah saat bertatapan dengannya dan selalu sukses membuat jantungnya menggila.
Fina menggelengkan kepalanya keras-keras, berusaha menghapus pikiran tentang Nathan dari otaknya. Sepertinya otaknya mulai tidak waras sekarang. “Aku gak mau!” tolak Fina sambil memalingkan wajahnya dari Nathan karena cowok itu terus saja memandangnya.
Bukan tanpa alasan Fina menolak ajakan Nathan, justru ia akan dengan senang hati menerima tawaran itu karena sekarang ia sedang menabung untuk membeli novel dari penulis favoritnya yang baru saja terbit. Jadi ia bisa menghemat uangnya, dan bisa segera membawa pulang novel idamannya. Tapi... yang mengajaknya itu Nathan, bisa heboh satu sekolah kalau tahu ia berangkat bersama dengan Nathan. Tidak, tidak, Fina tidak mau itu terjadi.
“Lah kenapa?” tanya Nathan dengan alis bertaut. “Jarang-jarang loh gue baik sama lo? Harusnya lo seneng, diajak bareng sama cowok ganteng kayak gue," sambungnya dengan percaya diri yang tinggi.
Fina memutar matanya, tapi dalam hatinya ia mengiyakan perkataan Nathan. Tapi apakah harus menyombongkannya seperti itu?
“Heh? Ayok!” Nathan tiba-tiba menarik tangan Fina, membuat cewek itu terkejut.
“Aku gak mau, Nathan!” Fina berusaha berontak, namun cowok itu tak mau melepaskan tangannya.
Nathan menyeringai, lalu mendekatkan wajahnya pada Fina. “Gue gak terima penolakan, ikut bareng gue atau gue cium lo,” ucap Nathan dengan senyum penuh kemenangan karena telah berhasil membuat Fina mati kutu dihadapannya.
Fina berusaha untuk menjaga jaraknya dengan Nathan. Ia menelan ludahnya kala Nathan semakin nekad, dan terus berusaha mempertipis jaraknya. “Ka-kamu mau ngapain?”
“Ikut gue, atau gue cium lo. Mau?” ulang Nathan dengan seringai jahilnya. Sebenarnya ia ingin tertawa melihat Fina yang sudah pucat pasi seperti mayat hidup, tapi kalau ia tertawa rencananya akan gagal.
Fina menggelengkan kepalanya, apa yang harus ia lakukan? Ia harus mencari cara untuk melepaskan diri dari Nathan. “Emm... aku mau ikut sama kamu, asalkan kamu harus rapihin dulu seragam kamu. Gimana?” tantang Fina.
Nathan menaikan sebelah alisnya sambil tersenyum. sepertinya ia tertarik dengan tantangan yang diberikan Fina. “Oke. Tapi gue maunya lo yang rapihin seragam gue. Gimana?” jawab Nathan balik menantang Fina.
Fina mengerjapkan matanya berulang-ulang, apa-apaan Nathan ini. Kenapa dia malah menantangnya balik? Kalau seperti ini, senjata makan tuan namanya.
Fina melihat senyuman licik dari Nathan, ia mendengus sebal melihat cowok yang menyebalkan seperti Nathan. Kenapa ia harus dipertemukan dengan spesies cowok seperti ini? “Gak mau! Rapihin sendiri lah, kenapa aku yang harus rapihin seragam kamu?”