Too Many Boys

Rey Orphan
Chapter #17

00.16

Dino memainkan jarinya kala melihat kedua orangtuanya sedang asik berduaan sambil menonton TV di ruang keluarga. Dengan langkah pelan tapi pasti, ia menghampiri mereka. “Pa, Ma,” panggil Dino, membuat kedua orangtuanya langsung menoleh padanya.

“Kenapa, No? Uang jajan kamu habis?” tanya Bagas, karena memang sudah saatnya ia memberikan anaknya uang jatah bulanannya.

Dino menggelengkan kepalanya, karena bukan itu tujuannya memanggil orangtuanya. Ia lalu duduk di sofa yang berhadapan langsung dengan Bagas dan Revalina. “Bukan, Pa. Dino... emm... Dino cuma mau bilang, kalau sepertinya perjodohan Dino sama Fina sebaiknya dibatalkan.”

Revalina langsung menatap Dino tak percaya. Ia sangat terkejut karena putranya itu tiba-tiba ingin membatalkan rencana perjodohannya dengan Fina. “Kamu serius, No? Bukannya kemarin kamu bilang kamu gak mau batalin perjodohannya?” tanya Revalina.

Dino mengangguk. Benar, ia memang tidak mau membatalkan perjodohan itu, tapi ia juga tidak mau mengambil kebahagiaan Fina. Dino tidak mau egois, yang memaksakan kehendaknya kepada orang lain tanpa memedulikan perasaan mereka. “Dino rasa ini yang terbaik, Ma, Pa,” katanya sambil menunduk dalam-dalam.

“Kenapa? Kalian berantem?” tanya Bagas. Ia masih belum mengerti kenapa putranya itu tiba-tiba ingin membatalkan perjodohannya, padahal dulu Dino semangat sekali saat tahu dia akan dijodohkan dengan Fina.

“Dino gak berantem sama Fina. Cuma, Dino merasa kalau perjodohan ini tetap dilanjutkan, Fina akan kehilangan kebahagiaannya. Karena sekarang Dino tahu, Dino gak bisa buat Fina bahagia.” Dino menjeda ucapannya, menghirup napas dalam-dalam lalu mengembuskannya kasar. “Dino gak mau merebut kebahagiaan Fina. Karena sekarang, ada seseorang yang bisa buat Fina bahagia. Dino liat sendiri orang itu berhasil buat Fina tertawa, bahkan Fina terlihat lebih ceria dengan orang itu. Mulai sekarang, Dino akan coba melepas dan mengikhlaskan Fina,” sambungnya. Sebenarnya ada rasa sesak yang terus menggelayuti hatinya. Tapi ia harus menerimanya, meski harus menahan rasa sakit dihatinya.

Revalina langsung memeluk putra semata wayangnya itu. Ia sangat bangga karena putranya memiliki pemikiran yang dewasa. Yang tidak mementingkan ego sendiri, meskipun harus dihadapkan dengan pilihan yang berat. “Sekarang, Mama mau tanya. Apa kamu betul-betul mau membatalkan perjodohan ini?”

Dino tampak diam sejenak, memejamkan matanya dan dengan berat hati ia menganggukkan kepalanya.

Revalina tersenyum lalu mengelus kepala Dino lembut penuh kasih sayang. “Kamu sudah dewasa, kamu sudah bisa memilih jalan hidup kamu sendiri. Mama dan Papa di sini akan selalu mendukung apapun yang menjadi keputusan kamu. Selama itu baik, Mama sama Papa tidak akan melarangnya.”

“Makasih, Ma, Pa. Tapi Dino minta Mama gak bicara tentang ini dulu ke Tante Riana atau Fina, ya. Biar Dino sendiri yang bilang ke mereka.”

Bagas dan Revalina mengangguk. Mereka percaya putranya sudah bisa memilih mana yang baik dan mana yang tidak. Termasuk hal ini, mereka tidak memaksakan kehendak mereka dan akan selalu mendukung apapun yang menjadi pilihan anaknya.


***


Melodi berjalan tergesa menuju kelas XII IPA 5 setelah diberi tahu Kanaya bahwa Arfika ada dikelas itu. Sudah lama ia menanti cowok itu, dan meminta kepastian untuk hubungannya yang masih tidak jelas kelanjutannya.

Melodi berhenti tepat didepan pintu kelas XII IPA 5. Pintu itu tertutup, tapi ia bisa mendengar ada suara orang didalam kelas itu.

Melodi menghentikan seorang cewek yang akan masuk kedalam kelas. Kebetulan ia kenal pada cewek itu. “Rere,” panggilnya pada cewek tersebut.

Cewek bernama Rere itu menoleh, “Apa?”

“Dikelas lo ada anak baru ya? Namanya Arfika?” tanya Melodi.

Rere mengerutkan keningnya, lalu menggeleng. “Afrika?” tanyanya bingung.

Melodi memutar matanya, “Ar-fi-ka,” ralat Melodi. “Dia, ada disini, kan?”

Rere menggaruk belakang kepalanya, bingung. “Arfika itu siapa? Setahu gue, anak baru di kelas gue itu namanya Alex, bukan Afrika, eh, siapa namanya?”

Kini giliran Melodi yang mengerutkan keningnya. Apa Kanaya salah memberikan informasi, atau dirinya yang salah dengar? Tapi tidak mungkin, karena jelas-jelas Kanaya bilang Arfika ada di kelas ini. Kelas XII IPA 5.

“Oh, gue inget!” seru Rere dengan suara cemprengnya, membuat Melodi tersentak mundur selangkah. “Arfika Alexander, kan?”

Melodi mengangguk. Kenapa ia baru sadar kalau nama belakang Arfika. Mungkin selama di Jerman, cowok itu telah mengganti nama panggilannya. “Iya. Dia ada, kan?”

Lihat selengkapnya