Too Many Boys

Rey Orphan
Chapter #18

00.17

“Fina! Fina, tunggu!”

Fina menghentikan langkahnya ketika seseorang memanggilnya. Ketika menoleh, ia mendapati Dino yang berlari kearahnya. “Dino, kenapa?”

Fina terdiam memperhatikan Dino yang masih berjalan kearahnya. Sejak acara perjodohan itu, Fina belum bertemu cowok itu lagi. Ya, bisa dibilang Fina menghindari Dino. Dan sekarang, setelah hampir satu minggu, mereka kembali bertemu.

Dino mengatur napasnya yang tersengal-sengal, “Aku mau ngomong sama kamu, boleh?” tanyanya setelah berada dihadapan Fina.

Fina mengangguk, “Boleh. Mau ngomong apa?”

“Ada, tapi gak disini.”

“Dimana?” tanya Fina dengan dahi mengerut.

“Ikut aku.” Dino langsung menarik tangan Fina, ia sedikit senang karena gadis itu tidak menolaknya kali ini. Tidak seperti sebelum-sebelumnya yang selalu menolak ajakannya, dan juga menghindarinya.

Fina mengikuti Dino tanpa banyak bicara. Ia penasaran dengan apa yang akan dikatakan cowok itu padanya. Ia menghentikan langkahnya ketika Dino mengajaknya untuk naik ke tangga menuju roof top sekolah. Setahunya, siswa dilarang ke tempat itu.

“Kenapa?” tanya Dino heran. Ia menatap Fina, cewek itu terlihat cemas dan sedikit ketakutan.

“Kamu yakin mau kesana? Bukannya siswa dilarang, ya?” tanya Fina cemas.

Dino mengangguk, “Iya. Emang kenapa? Kamu takut? Tenang aja, kan sama aku.” Dino kembali menggenggam tangan Fina, lalu mengajaknya naik keatas.

Fina menatap tangan Dino yang menggenggam tangannya. Rasanya hangat, cowok itu memang mampu membuat Fina nyaman. Nyaman dalam artian seorang teman, dan seorang adik yang selalu merasa aman saat dekat dengan kakaknya.

Ini kali pertamanya Fina menginjakkan kakinya di area roof top sekolah. Tidak terlalu buruk, meski panas, hembusan angin dapat mengimbangi suhu udara di sana. Tanpa sadar, Fina melepaskan tangan Dino. Berjalan menuju sisi roof top, hingga ujung sepatunya menyentuh pagar pembatas.

Fina menatap pandangan sekitar, seulas senyuman terbit dari bibirnya. Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat luasnya halaman sekolah. Fina tak menyangka, berada roof top sekolah begitu menyenangkan dan menenangkan. Sebut saja Fina seperti orang norak, tapi memang itu kenyataannya. Walaupun gedung sekolah tidak terlalu tinggi, namun ia masih bisa menikmati pemandangan sekitar.

Dino tersenyum, senang rasanya melihat orang yang kita cintai terlihat bahagia. Andai saja. Ya, seandainya cintanya terbalaskan, mungkin rasa senangnya akan jauh lebih besar daripada yang dirasakannya sekarang. Namun sayang, itu hanya harapannya saja. Dino menggelengkan kepalanya, lalu berjalan menghampiri Fina. “Bagus bukan?” tanya Dino setelah berdiri di samping Fina.

Fina mengangguk, lalu menoleh kesamping untuk menatap Dino. “Hmm,” sahutnya sambil tersenyum. “Oh iya, kamu mau ngomong apa?”

Dino menggaruk tengkuknya ketika rasa gugup tiba-tiba menyerangnya. Kenapa rasanya sulit sekali untuk mengucapkan apa yang ingin ia katakan pada Fina? Padahal, semalaman ia mempersiapkan semuanya dengan matang. Tapi sekarang, lidahnya terasa berat sekali untuk berkata.

Dengan menarik napasnya dalam-dalam, memejamkan mata dan mencoba menata ulang hatinya, Dino meraih kedua tangan Fina dan menatap sepasang mata bulat indah yang juga sedang menatapnya. Ia harus bisa melakukannya. Semuanya demi kebahagiaan Fina, meskipun harus mengorbankan perasaannya dengan menguburkannya dalam-dalam.

Dino menarik napasnya, lagi. “Soal perjodohan itu...”

“Maaf Dino, aku gak bisa. Aku—”

“Ssstttt!” Dino menempelkan telunjuknya di bibir Fina, membuat gadis itu diam dan mengatupkan bibirnya rapat-rapat. “Aku tahu, dan aku gak bakalan paksa kamu buat terima perjodohan itu.”

Fina mengernyitkan keningnya, “Ma-maksud kamu?”

“Aku mau membatalkan perjodohan itu,” jawab Dino cepat. “Aku gak mau egois dengan memaksa kamu buat terima perjodohan ini. Aku gak mau kamu tertekan karena masalah ini. Jadi, aku putuskan buat batalin perjodohan kita, dan... kita kembali berteman seperti biasa. Hanya teman, tanpa melibatkan perasaan, seperti yang kamu mau.”

Fina menatap Dino dengan mata berkaca-kaca, seriuskah Dino mengatakannya barusan? Apa dia benar-benar akan membatalkan rencana perjodohan ini? Fina merasa jadi orang yang paling jahat untuk Dino. Apalagi melihat senyum yang terkesan sangat terpaksa dari bibir cowok itu, hatinya pun ikut merasakan sakit. Tapi ia yakin, rasa sakitnya tidak sebanding dengan yang dirasakan Dino saat ini.

Fina mengusap air matanya dengan punggung tangan. “Kamu serius?”

Meski sempat ragu, Dino mengangguk. Berat rasanya ketika harus merelakan karena tidak memiliki alasan untuk mempertahankan dan mengikhlaskan karena tidak ada pilihan. Tapi ia harus bisa, demi Fina dan demi kebahagiaan seseorang yang sangat ia sayangi, ia pasti bisa menerimanya. “Ya, aku serius,” jawabnya diiringi seulas senyum tulusnya.

Fina terenyuh melihat senyuman tulus Dino. Ia tak menyangka Dino akan melakukan ini untuknya. Yang rela mengorbankan perasaannya, demi perempuan egois seperti dirinya. Ya, Fina merasa seperti itu. Dia egois, yang selalu memikirkan perasaannya sendiri tanpa memikirkan perasaan orang lain.

Inilah alasan Fina tidak mau mengubah status pertemanannya. Ia tidak mau ada salah satu diantara mereka yang terluka, dan terjadi sekarang. Tapi jauh dari lubuk hatinya yang terdalam, Fina selalu berharap Dino dapat menemukan perempuan yang jauh lebih baik darinya. Yang mampu membahagiakannya dan mengerti akan perasaannya. Hanya itu harapan Fina.

Lihat selengkapnya