Too Many Boys

Rey Orphan
Chapter #20

00.19

Minggu pagi yang cerah, matahari pun sudah menunjukkan eksistensinya. Menghangatkan bumi setelah diterpa dinginnya malam.

Fina membuka matanya perlahan, menggeliat lalu menyibak selimut yang menutupi tubuh mungilnya. Perlahan ia merangkak turun dari ranjangnya, lalu membuka jendela kamarnya.

Fina menoleh ketika pintu kamarnya diketuk oleh seseorang diluar kamarnya. Fina menduga, itu pasti mamanya. “Masuk aja, Ma, gak dikunci, kok,” ucapnya dengan suara serak khas orang bangun tidur.

Perlahan pintu terbuka, menampilkan Riana yang tersenyum padanya. “Morning, anak Mama,” sapa Riana.

“Morning, Ma,” sahut Fina riang, sembari tersenyum lebar.

“Mama masuk, ya?” Fina mengangguk, mempersilahkan mamanya untuk masuk. “Kamu belum mandi?” tanya Riana ketika melihat penampilan putri semata wayangnya yang masih mengenakan piyama tidur bermotif hello Kitty.

Fina menggeleng, “Aku baru bangun,” jawabnya sembari menyeringai lebar. “Kenapa emang? Ini kan hari Minggu, terus aku juga gak punya acara hari ini.”

“Yakin gak punya acara hari ini?” Fina mengerutkan keningnya, lalu mengangguk karena memang ia tidak akan kemana-mana hari ini. “Dibawah ada cowok, dia bilang temen spesialnya kamu. Siapa dia?” tanya Riana lagi.

Dahi Fina semakin mengerut. Cowok? Teman spesial? Siapa? Emang aku punya temen spesial ya? Fina bertanya dalam hati. “Siapa sih, Ma?”

“Lah, mana Mama tahu, dia kan temen kamu, masa yang temennya gak tahu,” jawab Riana sambil mengedikan bahunya.

“Yaudah, aku temuin dia dulu, deh.” Fina beranjak dari tempatnya, berniat untuk menemui cowok yang dimaksud mamanya.

Riana mencekal lengan Fina, membuat gadis itu berhenti dan menoleh padanya. “Kamu yakin mau nemuin dia dengan penampilan kayak gini?” tanya Riana sambil menatap penampilan Fina dari atas sampai bawah.

Fina menggaruk tengkuknya, baru ingat kalau dirinya belum mandi dan masih mengenakan baju tidur kesayangannya yang bermotif Hello Kitty. Astaga, penampilannya sudah seperti gembel di persimpangan jalan menuju komplek rumahnya.

“Aku lupa kalau aku belum mandi,” ujar Fina sambil menggaruk belakang kepalanya.

“Mandi dulu sana, terus temuin temen kamu dibawah. Tapi kalau dilihat-lihat, cowoknya ganteng. Mama jadi curiga sama kamu, jangan-jangan...” Riana memicingkan matanya seperti menyelidiki sesuatu.

“Mama jangan berpikiran yang macem-macem. Lagian, aku aja belum tahu siapa cowok itu. Emang Mama gak tanya nama dia?” potong Fina cepat.

“Mama udah tanya siapa namanya, tapi dia jawabnya temen spesialnya kamu,” jelas Riana. “Yaudah, sekarang kamu mandi. Kasian dia udah nunggu lama.”

Fina mengangguk, dan langsung bergegas masuk kedalam kamar mandinya. Didalam, Fina menatap cermin yang memantulkan bayangannya yang benar-benar membuatnya syok. Bagaimana tidak? Rambutnya yang mengembang seperti singa, wajahnya kusam dan berminyak seperti kertas gorengan dan... astaga, ada sebuah garis membentang dibawah bibirnya. Bagus Fina, kembangkan!

Fina lalu teringat kembali dengan seseorang yang katanya teman spesialnya. “Cowok? Siapa ya?”


***

Dino termenung sambil menatap kearah rumah berlantai dua yang ada disebrang jalan tempatnya berhenti. Sambil memegangi stir mobilnya, ia terus menguatkan hatinya. Semua ini ia lakukan demi kebahagiaan Fina. Ya, demi Fina, Dino tidak peduli dengan rasa sakit yang harus ia rasakan.

Dino tersenyum getir, pagi-pagi sekali, Alex datang ke rumahnya dan memintanya untuk mengantarkan cowok itu ke rumah Fina. Kalau boleh jujur, ia belum sepenuhnya bisa melepaskan Fina. Tapi lagi-lagi, ia tidak mau menghancurkan kebahagiaan orang yang paling ia cintai itu.

“Itu rumahnya?” tanya Alex sambil menunjuk kearah sebuah rumah berlantai dua disebrang jalan. Ia mengerutkan keningnya ketika Dino tak kunjung menjawabnya. “No. Woy, Dino!” Alex menepuk pundak Dino sedikit keras, sehingga membuyarkan lamunan cowok itu.

Dino mengerjapkan matanya, lalu menoleh menatap Alex. “Eh? Iya, kenapa?"

“Kok lo ngelamun, sih? Mikirin apa?” tanya Alex dengan satu alis terangkat.

“Nggak. Gue gak ngelamun, siapa yang ngelamun?” elak Dino sambil mengalihkan pandangannya dari Alex.

Alex mengedikan bahunya, “Itu rumahnya?” tanyanya lagi, karena tadi Dino belum menjawabnya.

Dino mengangguk, “Iya. Semoga berhasil ya, bro!” ucapnya sambil menepuk-nepuk pundak Alex.

“Thanks, bro. Yaudah, gue masuk ya.”

Dino hanya tersenyum tipis menanggapi Alex. Sakit, tapi ia harus menerimanya dengan lapang dada. Tapi, selapang apa hatinya untuk menerima kenyataan ini? Kenyataan yang sangat menyakitkan, dan sampai kapan ia terus terjebak dalam situasi seperti ini?

“Doain gue ya, bro.” Alex tersenyum ceria, lalu bergegas pergi masuk ke area rumah Fina.

Dino hanya mengangguk, sambil menatap punggung Alex yang berjalan memasuki halaman rumah Fina. Ia mengembuskan napas gusar, mengusap wajahnya, lalu memilih untuk segera pergi dari sana.


***


Fina melangkah menuruni tangga sambil terus menebak-nebak siapa cowok yang datang pagi-pagi kerumahnya di hari Minggu ini. Ia sangat penasaran, karena tidak seperti biasanya ada orang yang datang kerumahnya.

Saat sampai diruang tengah rumahnya, Fina melihat figur seorang cowok. Tapi ia tak tahu siapa cowok itu karena posisinya membelakangi dirinya.

Lihat selengkapnya