Too Many Boys

Rey Orphan
Chapter #22

00.21

“Galau aja terus, bingung gue sama lo. Kenapa sih? Ditinggal jadian ya,” ujar Al yang terdengar sangat menyebalkan ditelinga Nathan.

Nathan yang sedang memakan kacang polong, langsung melemparkan kacang itu pada Al. “Berisik lo!”

“Wuishh! Santai bro! Gue tahu lo lagi potek hati, marah-marahnya jangan ke gue dong,” ucap Al, lalu tertawa melihat wajah Nathan yang seperti ingin menerkamnya.

“Apaan sih. Gak jelas lo.”

Raihan yang duduk disebelah Nathan menepuk-nepuk pundak cowok itu. “Kita tahu kok, lo ditinggal jadian kan?” tebak Raihan, lalu tertawa, mengingat rencananya dengan Al berjalan dengan baik. Dan mereka juga tahu apa yang membuat Nathan terlihat murung akhir-akhir ini. “Dan gue harap lo gak jadi Jodi, bro.”

“Jodi? Apaan?”

“Jomblo sampai mati!” jawab Raihan dan Al berbarengan. Keduanya tertawa puas, karena berhasil meledek Nathan.

“Sialan!” umpat Nathan. Namun kedua temannya tetap menertawakan dirinya. “Berisik lo berdua. Gak lucu tahu gak!”

Tawa Raihan dan Al semakin menggelegar membuat orang-orang disekitar memperhatikan mereka. Wajah badmood Nathan sangat lucu, kapan lagi mereka bisa meledek temannya itu. Hal seperti ini sangat jarang sekali terjadi.

“Kan bener kan kata gue juga. Hati-hati kemakan omongan sendiri, eh, ternyata beneran terjadi,” kata Al disela-sela tawanya.

“Apaan sih? Siapa yang kemakan omongan sendiri? Gak jelas lo berdua.” Nathan beranjak dari tempatnya, bergegas untuk pergi meninggalkan kedua temannya yang benar-benar menyebalkan itu.

“Woy Nath! Mau kemana lo? Mau gantung diri? Jangan dulu, nanti aja gue belum puas ledekin lo!” teriak Al.

Nathan tak peduli, ia terus melangkah keluar kantin. Sambil berjalan, Nathan mengacungkan jari tengahnya tinggi-tinggi, membuat Al dan Raihan semakin gencar meledeknya.


***


Melodi meremas botol air mineral ditangannya ketika melihat kedekatan Fina dengan Arfika. Ia semakin yakin, bahwa mereka sudah berpacaran.

“Gila Mel, cewek cupu itu bener-bener ngambil Arfika dari lo. Lo harus berbuat sesuatu, Mel,” ucap Kanaya, seperti biasa dia selalu mengompori Melodi agar lebih berbuat nekad.

Melodi mengangguk, “Iya, lo bener. Gue harus berbuat sesuatu, dan sekarang waktunya.” Melodi tersenyum picik, sambil menatap lurus kearah dua orang yang sedang berangkulan dengan mesra itu. Tak bisa dipungkiri, hatinya sakit melihatnya.

Melodi mengepalkan tangannya, lalu mengikuti Fina dan Arfika dari belakang. Dia ingin tahu, kemana mereka akan pergi. Tangannya itu sudah gatal sekali ingin menampar wajah Fina yang sok polos itu.

Sementara dalam rangkulan Alex, Fina merasa ada yang mengikuti, tapi saat menolehkan kepalanya kebelakang, ia tidak menemukan keanehan, karena ini disekolah dan posisinya sekarang sedang berjalan di koridor yang banyak siswa berlalu-lalang. Fina mengedikan bahunya, berusaha untuk tidak berpikir macam-macam.

“Kenapa, Fin?” tanya Alex lalu menatap Fina yang seperti sedang mencari sesuatu.

“Hah? Enggak, gak apa-apa,” sahut Fina, lalu berbelok masuk kedalam perpustakaan.

Tasya yang sedari tadi mengikuti mereka berdua hanya bisa menghela napas pasrah. Pasalnya, ia seperti kambing congek yang ngintilin orang pacaran. Gak ada kerjaan banget, kan? Oh ganti, kesannya ngenes banget, kan?

“Kita duduk disini aja, ya,” ucap Fina ketika memilih meja paling ujung untuk mereka duduk.

Tasya mengangguk, lalu duduk berhadapan dengan Fina—tentunya dengan Alex juga. Sedari tadi, cowok itu menempel terus pada Fina, dan itu membuatnya semakin yakin bahwa mereka sudah berpacaran. Ya, kurang lebih seperti itu dugaannya saat ini.

“Kita mau ngapain disini?” tanya Alex. Sebenarnya dia tidak ada niat untuk ke perpustakaan, jadilah ia bingung harus berbuat apa ditempat ini.

“Kita mau ngerjain tugas,” jawab Fina berbohong, tentunya.

Lihat selengkapnya