Too Many Boys

Rey Orphan
Chapter #23

00.22

Dino dan Angga berjalan tergesa berniat untuk menyusul Alex. Pasalnya, tadi saat mereka di kantin, cowok itu kelihatan cemas dan langsung menghilang entah kemana.

Langkah Dino terhenti ketika berpapasan dengan Fina. Keningnya mengerut saat melihat Fina berlari sambil menunduk diikuti Tasya dibelakangnya. “Fina nangis?” gumamnya pelan.

Angga pun sama, keningnya mengerut sembari menatap punggung seorang cewek yang berjalan sambil menunduk. “Itu Fina, kan?” tanyanya pada Dino.

“Iya, tapi kayaknya dia lagi nangis. Tapi kenapa?”

“Lo tanya gue? Gue tanya siapa? Rumput yang bergoyang?” Angga menanggapinya dengan candaan. Ya, setidaknya dengan Angga, Dino tidak terlihat seperti sadboy banget.

Dino tak menggubris ucapan Angga dan malah berniat untuk menyusul Fina, namun temannya itu langsung mencekal lengannya. “Mau kemana lo?”

Dino menatap Angga dengan alis bertaut. “Nyusul Fina lah.”

“Gak perlu, emang lo mau Alex salah paham sama lo?”

Dino menggelengkan kepalanya. Meskipun ia baru berteman dengan Alex, tapi ia tak mau pertemanannya hancur hanya gara-gara masalah perasaan. Ah, cinta memang tidak semenyenangkan yang dipikirkan. “Tapi dimana Alex? Dia tadi gak sama Fina.”

Angga mengedikan bahunya, “Gue gak tahu. Mungkin itu sebabnya tadi si Alex keliatan cemas banget, pasti dia juga lagi cari Fina sekarang,” jawabnya.

Dino mendesah, sebenarnya ia penasaran kenapa Fina menangis. Apa gara-gara Alex? pikirnya.

Dino langsung menggelengkan kepalanya, dia tidak mau berburuk sangka. Mungkin saja ada hal lain yang membuat Fina menangis. Karena disekolah ini, Fina sering menjadi bahan bullying, terutama oleh Melodi dan Kanaya. Dino sampai heran kenapa dua orang itu selalu saja mengganggu Fina padahal Fina tidak mengganggu mereka.

Saat sedang melamun memikirkan Fina, Alex datang dengan rusuh. Dino terlonjak, lalu menatap wajah Alex yang terdapat luka lebam di wajah cowok itu. Bisa ia tebak, cowok itu habis berantem.

“Muka lo kenapa?” tanya Angga cepat sambil terus memperhatikan wajah Alex.

Alex menyeringai lebar memperlihatkan deretan gigi putihnya. “Biasalah, masalah cowok,” ujarnya sambil menggaruk belakang kepalanya. “Eh, kalian liat Fina gak?”

Angga manggut-manggut mengerti, sedangkan Dino, cowok itu masih mencoba menebak-nebak apa penyebab Fina menangis. Apa ada hubungannya dengan Alex?

“Tadi gue liat dia ke arah belakang, kayaknya ke taman belakang deh,” lagi-lagi Angga yang menyahut.

“Oh, yaudah gue susulin Fina dulu ya.” saat hendak bergegas untuk menyusul Fina, Dino menahan pergelangan tangannya. “Kenapa, No?” tanya Alex sambil menatap Dino heran.

“Lo habis berantem ya, Lex?” tanya Dino, dan Alex mengangguk. “Didepan Fina?” lagi, Alex mengangguk dengan polosnya.

Alex mengerutkan keningnya, bingung. “Kenapa memangnya?”

“Pantes,” Dino mengangguk-angguk paham, sedangkan Alex dan Angga saling lempar pandangan dengan bingung. “Tadi gue liat dia nangis. Lo harus tahu Lex, Fina paling gak suka liat orang yang dia sayang berantem. Dia punya trauma, karena dulu bokapnya meninggal karena dikeroyok orang-orang gak bertanggungjawab didepan matanya sendiri,” ujarnya menjelaskan.

Alex diam, jadi itu alasan tadi Fina tiba-tiba menamparnya dan meninggalkannya. Jujur, Alex belum tahu kalau Fina memiliki trauma seperti itu. “Jujur gue gak tahu, No. Tapi sumpah, gue gak bermaksud bikin Fina nangis. Tadi Melodi gangguin dia, gue belain dia tapi ternyata Barra, pacarnya Melodi dateng dan tiba-tiba nyerang gue,” tutur Alex menjelaskan kronologi kejadian di perpustakaan tadi. Dia tidak mau Dino salah paham padanya.

Dino mengangguk mengerti, “Gue paham. Lo ngelakuin itu karena lo belum tahu. Sekarang lo cari Fina, tenangin dia.”

“Thanks, bro. Kalau gitu gue cari Fina dulu ya.” Alex tersenyum lalu menepuk-nepuk pundak Dino Sebelum pergi untuk mencari Fina.

Setelah Alex hilang dari pandangan mereka berdua, Angga menepuk-nepuk pundak Dino. “Gila, No. Lo hebat banget. Kalau gue jadi lo, gue gak bakalan bisa lakuin apa yang lo lakuin tadi," ujarnya bangga.

Dino tersenyum, “Gue lakuin ini semua demi Fina, gue pengin dia bahagia.”

“Ahh, kalau gue cewek, pasti gue udah baper sama lo, No,” celetuk Angga dengan cengiran khasnya.

Dino menoyor kepala Angga, “Apaan sih, geli anjir!”

Lihat selengkapnya