Kelas terasa sedang membara karena ulangan dadakan yang diadakan Bu Laila. Ulangan harian yang diberitahu dari jauh-jauh hari pun sangat sulit untuk dikerjakan, apalagi sekarang tidak ada angin dan hujan tiba-tiba Bu Laila memberikan selembar kertas ulangan harian matematika.
Tidak banyak soal yang diberikan oleh guru itu, hanya lima soal, namun penyelesaiannya bisa menghabiskan setengah buku catatan.
Kalau kata Bu Laila, pelajaran matematika itu seperti kehidupan. Terlihat mudah, namun saat mengerjakannya sangatlah rumit. Matematika juga mengajarkan bagaimana caranya mencari penyelesaian agar hasil akhirnya sesuai, karena jika melenceng sedikit, penyelesaiannya akan jauh berbeda dari yang seharusnya.
Sama seperti masalah dalam hidup manusia. Semua manusia pasti punya masalah. Dan setiap manusia punya cara masing-masing dalam menyelesaikan masalahnya. Masalah kecil akan menjadi besar jika terus dibiarkan. Meskipun terlihat kecil, namun perlu perlu perjuangan dan kesabaran untuk menyelesaikannya.
Tapi beda lagi artian matematika dalam pandangan seorang Nathan. Menurutnya, matematika itu pelajaran yang malas. Pelajaran yang hanya membuat otak pusing hanya gara-gara satu permasalahan, yaitu mencari variabel X dan Y. Tidak pernah berubah, dari jaman sekolah dasar sampai sekarang, matematika adalah pelajaran yang paling malas dalam menyelesaikan masalahnya sendiri.
Dan yang terjadi setelah Bu Laila keluar adalah kericuhan yang menyebabkan kelas seketika menjadi ramai. Mereka langsung membereskan alat tulisnya dan segera bergegas untuk pulang.
Begitupun Nathan, saat cowok itu sedang sibuk membereskan buku-bukunya kedalaman tasnya, ponselnya bergetar.
Nathan merogoh saku celananya, mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menelponnya. Ternyata Bibi, tanpa pikir panjang ia segera mengangkat teleponnya.
“Halo, Bi. Kenapa? Tumben nelpon,” ucap Nathan seraya menempelkan ponselnya ditelinga.
“...”
“Baik kok, Bi. Papa gimana kabarnya?”
“...”
“Apa?! Kok bisa? Terus dimana Papa sekarang, Bi?”
“...”
“Iya, Nathan segera ke sana ya, Bi.”
Nathan mematikan ponselnya, dan menaruhnya kembali ke saku celananya. Wajahnya berubah tegang, dengan rahang yang mengeras.
Tanpa Nathan sadari, Fina terus memperhatikan cowok itu dengan dahi mengerut. Apalagi saat melihat perubahan raut wajah Nathan, membuat banyak pertanyaan berkecamuk di kepalanya.
“Nathan,” panggil Fina pelan, sembari memberanikan diri untuk menyentuh tangan Nathan.
Nathan menoleh dan langsung mengubah ekspresi wajahnya. Ketegangannya sirna ketika melihat wajah lugu Fina. Nathan sendiri tidak tahu kenapa ia bisa seperti itu hanya karena menatap mata bulat yang jernih dan polos itu. Tatapan Fina seakan membuat ketegangan di hatinya hilang, tergantikan oleh rasa tenang yang menghanyutkan.
Fina mengerjapkan matanya, melihat wajah Nathan yang langsung melunak saat ia menyentuhnya. Sebegitu berefeknya kah sentuhannya?