Too Many Boys

Rey Orphan
Chapter #25

00.24

Tiga hari berlalu terasa lambat bagi Fina. Ia merasa tiga hari itu menjadi sepi dan kurang. Fina merasa seperti ada yang hilang. Dan yang hilang itu adalah Nathan.

Fina melirik bangku di sebelahnya, tempat duduk Nathan yang selalu kosong karena pemiliknya tidak masuk sekolah. Sudah tiga hari Nathan tidak masuk tanpa kabar dan kejelasan kenapa cowok itu sampai tidak masuk sekolah. Dan selama itu pula, Fina berusaha mencari tahu kemana cowok itu pergi.

Entah kenapa, rasanya sangat berbeda ketika biasanya Nathan akan mengganggunya saat jam pelajaran, kali ini cowok itu menghilang entah kemana. Tidak ada lagi yang mengacak-acak isi tasnya, dan juga tingkah menyebalkan lainnya yang dilakukan Nathan padanya. Tanpa sadar, Fina merindukan cowok itu.

Fina seperti merasa kehilangan. Nathan menghilang tanpa kabar, dan ketika ia mencoba mencari tahu keberadaannya pun, hasilnya selalu sama. Tidak ada yang tahu keberadaan Nathan.

Kemarin Alex sempat marah pada Fina karena ia terlalu banyak melamun saat bersamanya. Fina tahu memang yang ia itu salah, tapi entah kenapa hatinya terus saja tidak mau untuk tidak memikirkan Nathan.

Fina sendiri bingung pada dirinya sendiri, kenapa ia sampai kelabakan seperti ini ketika tidak mendapatkan kabar dari Nathan. Padahal selama ini, ia dan Nathan hanya sekedar berbincang dikelas, selebihnya tidak. Bahkan untuk sekedar saling follow Instagram dan bertukar nomor WhatsApp pun tidak mereka lakukan.

Bertemu hanya dikelas, bercanda selayaknya teman semeja, tidak ada yang istimewa. Tapi entah kenapa, rasanya begitu menyenangkan saat Fina berada didekat Nathan. Dan sekarang Fina sadar, kalau ternyata ia menyukai Nathan.

Cowok yang dulu ia hindari karena tidak mau berurusan dengannya, terpaksa harus duduk satu meja, dan akhirnya semakin dekat hingga tanpa sadar, Fina membuka hatinya. Mengijinkan Nathan masuk dan menguasai hatinya.

Mungkin itu sebabnya ia sulit sekali untuk percaya pada Alex, karena sebenarnya hatinya sudah lebih dulu ada yang mengisinya.

“Fina!”

Fina terlonjak ketika suara dibarengi tepukan kecil dipundaknya menyadarkannya dari lamunan sesaat. Ia menoleh, dan menemukan Tasya yang sedang tercengir disebelahnya.

“Nathan masih belum masuk?” tanya Tasya. Fina hanya mengangguk singkat sebagai jawaban. “Gue duduk sama lo deh, males gue duduk sama Al. Dia mesum banget. Boleh, kan?”

Fina kembali mengangguk. Ia begitu malas untuk sekedar membuka mulut dan mengatakan ‘iya’ kepada Tasya. Entahlah, pikirannya masih melayang-layang entah kemana. Atau mungkin, masih memikirkan keberadaan Nathan.

Merasa diacuhkan, Tasya menatap Fina dengan dahi mengerut. “Heh? Lo kenapa sih?”

Fina tetap diam, membuat Tasya semakin heran padanya. Pasalnya, jika sedang ada masalah, Fina akan langsung bercerita padanya. Tapi kali ini, Fina seperti menyembunyikan masalahnya.

“Lo kenapa? Ada masalah lagi? Atau... lo lagi berantem sama Alex?”

Fina akhirnya menoleh, seraya mengangguk pelan. “Iya, Alex lagi marah sama aku.”

“Kenapa? Lo lupa balas chatt dia?” Fina menggelengkan kepalanya. “Terus kenapa?” Tasya gemas karena hanya mendapat respon gelengan kepala dari Fina. Jujur, sikap Fina yang seperti ini selalu membuatnya kesal.

“Alex marah karena aku karena aku sering mikirin Nathan di depan dia,” jawab Fina dengan suara pelan. Beruntung dikelas hanya ada mereka berdua karena yang lainnya masih berada diluar.

Untuk sejenak Tasya diam, berusaha memahami ucapan Fina. “Lo tuh, ya,” Tasya geleng-geleng kepala, tidak mengerti lagi dengan cara pikir temannya itu. “Kalau gue jadi Alex, gue juga pasti marah lah kalau pacar gue pikirin cowok lain didepan gue. Lagian, kenapa lo masih mikirin Nathan? Alex aja gak cukup buat lo?”

Fina langsung menggelengkan kepalanya, “Bukan, bukan gitu. Aku cuma masih bingung sama perasaan aku,” jawab Fina sambil menunduk.

Tasya mengangkat dagu Fina, lalu menatap Fina dengan dahi mengerut. “Maksudnya?”

“Aku masih bingung sama perasaan aku. Aku emang pacaran sama Alex sekarang, tapi hati aku terus kepikiran Nathan. Aku rasa... aku suka sama Nathan,” jelas Fina dengan suara pelan di akhir kalimatnya.

Tasya manggut-manggut mengerti, sudah ia duga kalau Fina memang menyukai Nathan. Hanya saja, cewek itu terlalu gengsi untuk menyatakannya atau mungkin selalu mengelak dari perasaannya. “Lo tahu? Apa yang lo lakuin ini salah, Fin. Tanpa lo sadari, lo udah nyakitin dua cowok sekaligus.”

“Aku gak bermaksud seperti itu, Sya.”

“Coba lo pikirin lagi, lo pacaran sama Alex, tapi lo suka sama Nathan. Lo egois Fin, dan tanpa sadar, lo akan kehilangan semuanya. Emang lo mau itu terjadi?”

Fina menggelengkan kepalanya, ia tidak mau itu terjadi. Ia menyayangi Alex juga Nathan. Entah kenapa, hatinya begitu sulit untuk memilih satu diantara keduanya. “Aku harus gimana, Sya?” tanya Fina pelan.

Tasya menggenggam tangan Fina, menatap temannya itu dan mencoba menenangkannya karena ekspresi Fina sudah mulai panik, bahkan mungkin akan menangis. “Menurut gue, lo minta maaf sama Alex. Jangan sampai lo kehilangan apa yang udah lo genggam sekarang. Emang lo yakin kalau Nathan masih suka sama lo, setelah dia tahu lo pacaran sama Alex? Alex tulus sayang sama lo, tapi apa yang lo lakuin? Lo malah sia-siakan ketulusan dia.”

Fina menundukkan kepalanya, kalimat terakhir yang Tasya ucapkan membuat Fina sadar kalau ia sudah menyia-nyiakan ketulusan Alex. Harusnya ia sadar, harusnya ia bersyukur, ya, seharusnya begitu. Tapi, apa yang ia buat? Dirinya malah menyia-nyiakan ketulusan seseorang yang begitu mencintainya, padahal belum tentu ia bisa mendapatkan ketulusan seperti itu dari orang lain. Termasuk Nathan, mungkin.

“Jangan serakah dan mencoba menggenggam semuanya. Genggam apa yang udah lo genggam dengan kedua tangan. Karena dengan cara seperti itu, lo gak akan kehilangan apa yang ada dalam genggaman lo,” kata Tasya mengingatkan.

“Beda lagi ketika lo mencoba menggenggam semuanya. Lo akan kehilangan semuanya. Kenapa? Karena genggaman satu tangan tidak sekuat ketika lo menggenggamnya dengan kedua tangan. Lo paham maksud gue?”

Fina menganggukkan kepalanya, ia paham dengan apa yang diucapkan oleh Tasya. Dan benar, Fina tidak bisa menggenggam semuanya. Ia hanya bisa menggenggam salah satunya dengan kedua tangannya, agar ia tidak kehilangan apa yang sudah ada dalam genggamannya.

Fina menarik napasnya dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan. Ia memejamkan matanya, dan menjernihkan pikiran. Ini pilihannya, semoga pilihannya tidak salah. “Aku coba cari Alex, semoga dia mau maafin aku,” ucap Fina mantap.

Tasya tersenyum, “Nah gitu dong. Udah, sana cari si Alex.”

Lihat selengkapnya