Sore harinya sepulang sekolah, Fina memilih berjalan-jalan santai di sekitar komplek rumahnya. Karena merasa suntuk dan bosan selalu menghabiskan waktu di rumah dan mengurung diri di kamar setelah pulang sekolah, Fina akhirnya memilih berjalan-jalan untuk menyegarkan otak.
Angin sore yang menyegarkan, ditambah langit berwarna jingga membentang nan luas di atas kepalanya. Burung-burung yang kembali pulang kerumahnya masing-masing, sambil bernyanyi bersama hingga malam tiba. Waktu-waktu inilah yang paling ia sukai.
Fina terus mengembangkan senyumnya, walaupun hanya seorang diri, rasanya lebih baik ketika hanya berdiam diri di rumah.
Fina kembali teringat pada Nathan. Meskipun ia sudah tidak lagi memikirkan cowok itu akhir-akhir ini, tapi tetap saja, ia selalu mengkhawatirkan keadaan cowok itu.
Sudah empat hari, Fina sama sekali tidak menemukan keberadaan Nathan di sekolah, dan teman-teman sekelasnya tidak ada yang tahu Nathan dimana, termasuk Al dan Raihan sama-sama tidak tahu. Tapi Fina yakin, kalau Al dan Raihan itu tahu dimana Nathan, mereka hanya menyembunyikannya dari Fina.
Masih teringat jelas ucapan sinis Al yang diucapkan padanya saat Fina mencoba menanyakan keadaan Nathan.
“Ngapain sih lo nyariin Nathan terus? Gak cukup lo sama satu cowok? Apa pacar lo gak bisa puasin lo?”
Fina hanya diam mendengarkan cacian Al untuknya. Jujur, hatinya sakit mendengarnya, tapi ia sudah siap menerima cacian itu sebelumnya.
“Berhenti deketin temen gue. Nathan berhak bahagia, jadi lo bisa ‘kan jauhin dia?”
Fina akhirnya menyerah, ia memilih untuk pergi dari hadapan Al dan Raihan yang waktu itu begitu menyeramkan. Mereka terlihat seperti tidak suka padanya dan membenci dirinya, entah kenapa.
Fina menghela napas panjang lalu mengembuskannya secara perlahan. Dia tidak bisa jika tidak memikirkan Nathan. Hatinya tak tenang, seakan ada sesuatu yang terjadi pada cowok itu.
Dan akhirnya Fina memilih untuk bertanya soal Nathan pada Tasya. Siapa tahu temannya itu bisa memberikan jawaban agar hatinya sedikit lebih tenang.
Fina memandang layar ponselnya yang sedari tadi ia genggam, lalu mencari kontak Tasya. Setelah menemukan kontak tersebut, jari-jari lentiknya langsung menari di atas keyboard ponselnya.
Fina : Sya, aku mau nanya boleh gak?
Setelah mengirim pesannya, Fina menunggu balasan dari Tasya sambil mendudukkan bokongnya di trotoar jalan kompleks rumahnya. Tak butuh waktu lama, Tasya langsung membalas pesannya.
Tasya : Tanya apa, Fin?
Tasya : Tanya aja sepuas lo. Gue bakalan jawab kok.
Tasya : Karena hari ini gue bahagia banget.
Fina mengerutkan keningnya, apa yang membuat Tasya sebahagia ini? Sungguh mencurigakan.
Fina : Bahagia karena apa?
Fina : Abis dapet lotre?
Fina : Oh, aku tau! gara-gara coklat itu?
Tasya : Bukan. Iya juga sih karena coklat dari Dino, tapi ini lebih membahagiakan.
Fina : Apa?
Tasya : Oh, jadi lo cuma pengen tanya kebahagiaan gue hari ini karena apa gitu?
Fina : Sebenarnya sih bukan, tapi aku penasaran juga kenapa kamu bahagia. Hehee:)
Tasya : Nanti gue jelasin deh semuanya.
Tasya : Gue boleh nginep di rumah lo, gak Fin?
Fina : Tasya mau nginep di rumah aku?
Tasya : Iya, boleh gak?