Too Many Boys

Rey Orphan
Chapter #27

00.26

Setelah empat hari tidak masuk, hari ini Nathan kembali masuk sekolah. Walaupun masih ada rasa khawatir pada kondisi papanya, tapi Bibi terus meyakinkannya bahwa papanya akan baik-baik saja.

Dan disinilah Nathan sekarang, duduk termenung di kelas seorang diri karena masih terlalu pagi untuk murid-murid datang ke sekolah. Cowok itu memilih untuk memasang earphone ditelinganya lalu menelungkupkan kepalanya di atas meja.

Sebenarnya ada alasan lain mengapa Nathan lebih memilih masuk sekolah. Dia ingin menghindar dari mamanya, Nathan belum siap untuk membiarkan luka lama yang sudah ia kubur rapat-rapat terbuka kembali.

Tak lama, seseorang masuk kedalam kelas. Nathan bisa mendengar derap kaki mendekat kearahnya, tapi ia tak peduli pada siapa yang baru saja datang itu.

“Nathan? Kamu masuk sekarang? Akhirnya kamu gak milih begadang lagi,” ujar Fina, lalu duduk di bangkunya. Entah kenapa, melihat Nathan sudah anteng duduk dibangkunya membuat hatinya senang.

Nathan mengangkat kepalanya, menatap Fina yang sudah duduk disebelahnya. “Hmm.” gumamnya lalu mengalihkan pandangannya, menatap lurus-lurus pada papan tulis yang masih bersih.

“Bagus deh.”

Nathan mengerutkan keningnya, ia rasa ada yang berbeda dengan Fina pagi ini. Entah hanya perasaannya atau memang itu kenyataannya, sepertinya Fina kembali mencoba membangun jarak dengannya. Tapi kenapa?

“Jangan liatin aku terus Nathan,” ujar Fina sembari membuang muka. Menyembunyikan semburat merah diwajahnya karena Nathan terus menatapnya.

Nathan tersenyum, setidaknya dengan Fina pikirannya sedikit teralihkan. Gadis polos itu selalu bisa membuatnya gemas akan tingkahnya. Tapi sayang, untuk mendapatkannya ternyata bukan hal yang mudah. Apalagi saat tersipu malu seperti ini, rasanya...

Tanpa sadar telapak tangan Nathan mengambang di udara hendak menyentuh puncak kepala Fina. Sadar akan perbuatannya, Nathan mengurungkan niatnya dan memilih menatap keluar jendela kelas.

Keduanya sama-sama canggung, sama-sama tidak tahu harus berbuat apa. Tak ada satu pun yang membuka suara, keduanya sibuk dengan pikirannya masing-masing hingga satu persatu teman-teman sekelasnya berdatangan dan Bu Laila memulai pelajaran.


***


Pulang sekolah, Nathan masih berada di kelasnya entah sedang menunggu apa. Cowok itu terus memperhatikan Fina, yang juga masih ada di kelas. Cewek itu sedang membereskan barang-barangnya kedalam tas.

“Kamu belum pulang?” tanya Fina pada Nathan yang masih duduk anteng di bangkunya. Entahlah, Fina merasa seharian ini Nathan terus memperhatikannya. Tapi kenapa rasanya canggung seperti ini? Padahal sebelumnya, mereka sudah sangat dekat dan Nathan seringkali melakukan hal tersebut.

“Males di rumah,” jawab Nathan seadanya.

Fina bergumam pelan, lalu mengangguk-anggukkan kepalanya. “Yaudah, aku pulang duluan, ya,” pamitnya, dan langsung bergegas keluar kelas.

Nathan tidak menjawab, tapi pandangannya terus mengikuti Fina sampai cewek itu menghilang dari pandangannya. Nathan menghela napasnya gusar. Ternyata seperti ini rasanya cinta bertepuk sebelah tangan, gumamnya dalam hati.

Ingin sekali ia tertawa, menertawakan diri sendiri yang seperti pengecut itu. Membuat onar di kelas itu hobinya sampai-sampai membuat Bu Laila seperti ingin mencoreng namanya dari kelas ini. Tapi untuk menyatakan perasaannya? Untuk sekadar mengungkapkan bahwa ia menyukai gadis itu, kenapa ia tidak bisa?

Kenapa ia selalu takut untuk mengungkapkan perasaannya? Tidak seperti Al yang dengan mudahnya menggandeng banyak wanita dalam satu kedipan mata. Tidak seperti Raihan yang bisa mencumbu perempuan yang bahkan baru dikenalnya. Dan tidak seperti Alex—dengan malas Nathan mengakuinya—yang bisa dengan mudah menyatakan perasaannya. Kenapa ia tidak bisa seperti itu?

Lihat selengkapnya