Too Many Boys

Rey Orphan
Chapter #28

00.27

Satu minggu Nathan menghabiskan waktunya di rumah sakit menunggu papanya yang terbaring tak berdaya dengan beberapa alat medis yang menempel di tubuhnya. Dan kini, Nathan dapat bernapas lega karena kondisi papanya sudah membaik dan besok sudah diijinkan untuk pulang.

“Gimana kondisi Papa? Baik?” tanya Nathan yang baru saja masuk kedalam ruangan rawat Reynald sembari menghampiri pria yang tengah menatapnya dengan tatapan kosong. Wajahnya pucat, bibir kering, dan kantung mata yang menghitam serta tubuh yang terkulai lemas tanpa tenaga.

Reynald mengangguk, lalu tanpa diduga pria itu meneteskan air matanya. Rasa bersalah terus bersarang di hatinya, ketika mengingat semua perlakuannya pada putranya itu. Semua perlakuan kasar, ucapan yang tak pantas diucapkan oleh orangtua pada anaknya, dan semua yang telah ia perbuat terekam jelas dalam kepalanya dan terus berputar bagaikan kaset kusut. Reynald menyesal, kenapa baru sekarang ia sadar bahwa dirinya belum bisa menjadi orangtua yang baik untuk anak-anaknya.

“Papa kenapa? Ada yang sakit lagi?” Nathan mempercepat langkahnya, raut khawatir tercetak jelas dimatanya.

Reynald menggelengkan kepalanya, “Maafin Papa, Nathan. Papa belum bisa jadi orangtua yang baik buat kamu,” ucap Reynald lirih.

Nathan tersenyum lalu memeluk papanya. Pelukan yang sangat ia rindukan selama ini. Ia memeluk erat tubuh lemas papanya, tubuh yang dulu kuat kini mulai rentan dan lemah. Dan kini, bagian Nathan untuk menjaga dan merawat papanya.

“Nathan juga minta maaf, karena Nathan belum bisa jadi anak yang Papa inginkan. Nathan gak pernah dengerin apa kata Papa, dan Nathan selalu buat Papa marah.”

Reynald melepaskan pelukannya, lalu mengelus rambut Nathan. “Makasih, kamu udah jagain Papa. Papa bangga sama kamu.”

“Itu udah jadi tugas Nathan sebagai anak. Karena mau bagaimanapun, orangtua tetaplah orangtua bagi seorang anak. Dan Papa, tetaplah Papa yang berjasa bagi Nathan,” kata Nathan sembari tersenyum.

“Kenapa kamu masih khawatirkan Papa? Padahal selama ini, Papa selalu kasar sama kamu.”

“Nathan kan udah jawab tadi, itu udah kewajiban Nathan sebagai anak. Lagipula, Nathan belum siap kehilangan seseorang yang paling berjasa dalam hidup Nathan. Cukup perceraian Papa sama Mama yang bikin Nathan sedih, Pa. Selebihnya Nathan belum siap,” jawab Nathan, lalu menundukkan kepalanya saat mengungkapkan kesedihan yang ia pendam selama ini.

Reynald menunduk, menyesal. Orangtua macam apa dirinya yang membuat anaknya memendam luka seperti ini? Dan orangtua seperti apa yang tidak mengerti pada perasaan anaknya? Apa masih pantas dirinya disebut orangtua? Dan apa seperti ini cara orangtua merawat anaknya? Sungguh, Reynald merasa dirinya bukanlah orangtua yang baik untuk anak-anaknya. Dan iapun merasa tidak pantas untuk di panggil sebagai orangtua.

Dan sekarang, Reynald mengerti kenapa Nathan selalu bersikap keras kepala, tak mau diatur dan tak pernah mendengarkan ucapannya. Itu semuanya karena dirinya. Ya, dirinya sendirilah yang membuat Nathan seperti itu.


***


Alarm ponsel berbunyi nyaring, membangunkan seorang cewek cantik yang masih bergelung dengan selimut tebalnya seperti seekor kepompong. Sambil menguap, dia mengucek matanya lalu meraba-raba nakas mencari ponselnya.

Lihat selengkapnya