Prang!!!
Suara nyaring itu mengejutkan dua orang yang masih tertidur pulas di atas ranjang. Sadar akan perbuatannya, Alex segera meloncat turun dari kasurnya. Dan cewek yang ada disebelahnya, langsung menutup tubuh telanjangnya dengan selimut.
Alex mengerjapkan matanya, lalu menoleh kearah sumber suara. Di sana, Fina yang sedang berpegangan pada pintu sambil menangis.
“Fina, aku bisa jelasin semuanya,” ucap Alex namun tak didengar oleh Fina. Cewek itu langsung berlari keluar dari kamarnya.
Saat Alex akan mengejar Fina, ia sadar bahwa dirinya tidak mengenakan apa-apa. Dengan cepat, ia mengambil baju yang berserakan di lantai dan memakainya secara asal.
“Arfika! Apa yang lo lakuin ke gue, bangsat!” teriak Melodi sambil memeluk lututnya. Ya, Melodi, cewek yang tidur dan melakukan itu dengan Alex semalaman. Cewek itu terisak, mengingat apa yang dijaganya selama ini hilang dalam satu malam.
Alex menghentikan langkahnya, ia mengurungkan niatnya untuk mengejar Fina dan memilih menghampiri Melodi yang terduduk dengan kepala tenggelam di antara lututnya. “Seharusnya gue yang nanya, apa yang lo kasih ke gue semalam?!” bentaknya. Ia mengacak rambutnya frustrasi karena telah melakukan hal yang tidak pantas.
Isak tangis Melodi semakin kencang, membuat Alex semakin merasa bersalah. Ia tahu seharusnya tidak membentak Melodi, karena disini semuanya salah. Dirinya salah, Melodi juga begitu. Dan yang menjadi pertanyaan, kenapa Melodi bisa berada di apartemennya? Padahal seingatnya, semalam ia sedang berada di kelab.
“Mel, sorry. Gue gak tau apa yang terjadi semalam, tapi jujur gue gak ada niat buat lakuin itu ke elo,” ucap Alex dengan intonasi pelan, lalu duduk diujung ranjang sambil menatap Melodi yang masih terisak tanpa mau menatapnya.
“Gue benci lo, Arfika!” teriak Melodi dengan suara bergetar.
“Mel.” Alex mencoba meraih Melodi, namun cewek itu langsung menepis tangannya.
“Jauh-jauh dari gue, bangsat!” umpat Melodi. Ia benci cowok itu dan juga dirinya. Kenapa ia tidak bisa menjaga apa yang sudah ia jaga selama ini? Kenapa dengan mudahnya ia memberikan mahkotanya kepada laki-laki? Kenapa?!
Meski dikenal sering bergonta-ganti pasangan, Melodi tak pernah sekalipun memberikan tubuhnya pada laki-laki yang menjadi kekasihnya. Meski dikenal matre, Melodi masih tetap mempertahankan harga dirinya sebagai seorang wanita.
Alex mengembuskan napasnya melalui mulut, memejamkan matanya berusaha tetap tenang. “Mel, dengerin gue. Disini bukan cuma gue yang salah, tapi lo juga salah. Sekarang gue mau tanya, minuman apa yang sebenarnya lo kasih ke gue semalam?”
Kini Melodi mengangkat kepalanya, pipinya basah dengan air mata, juga mata dan hidungnya pun ikut memerah. “Gue gak ttahu” jawab Melodi sambil tersedu-sedu.
Alex mengernyitkan dahinya, “Itu minuman yang biasa kita minum dulu, kan?” tanyanya lagi karena masih penasaran kenapa ia dan Melodi bisa berakhir di sini padahal semalam ia rasa masih berada di kelab.
Melodi hanya mengangguk sambil sesenggukan. Ia tidak bisa menghentikan tangisnya, hidupnya telah hancur hanya gara-gara satu malam bersama Alex, mantan kekasihnya.
“Dari mana lo dapet minumannya?”
Melodi menghapus jejak air matanya, lalu menatap Alex yang duduk dihadapannya. Cowok itu sudah mengenakan kembali pakaiannya, sedangkan dia masih menggunakan selimut untuk menutupi tubuhnya yang tidak mengenakkan apa-apa. “Gue dapet minuman itu dari Kanaya. Semalam...”
Musik DJ mengalun kencang memekakkan telinga. Tapi para pengunjung kelab sama sekali tidak memedulikan itu, yang ada hanyalah mereka yang berdansa dengan riang sambil mencoba untuk melupakan semua masalah hidup mereka.
Tapi tidak untuk Melodi dan Kanaya. Dua cewek cantik itu hanya duduk di sofa sambil menatap orang-orang yang sedang berjoget dilantai dansa.
“Mel, lo putus ya sama Barra?” tanya Kanaya lantang. Melodi mengangguk tanpa menoleh pada Kanaya. “Kenapa?” tanyanya lagi. Ia harus sedikit berteriak agar suaranya tidak kalah oleh dentuman musik.
“Dia bilang, gue gak bisa puasin dia. Ya gue juga gak bodoh kali, gue masih punya harga diri. Dan gue gak mau apa yang gue jaga selama ini hilang hanya untuk mempertahankan cowok yang cuma cari kepuasan dari seorang wanita,” sahut Melodi sambil memejamkan matanya.
Kanaya manggut-manggut mengerti. Walaupun terkenal sering berganti-ganti pasangan, Melodi tidak akan mau memberikan kehormatannya pada seorang cowok secara cuma-cuma. “Yaudah lah, mending lo move on aja dari tuh cowok. Nathan kan masih ada,” ujar Kanaya mencoba menghibur Melodi.