“Fina.”
Setelah yakin bahwa cewek yang dilihatnya itu Fina, dengan cepat Nathan meraih payung di bangku belakang dan segera keluar dari mobilnya. “Fina!” teriak Nathan, namun tak dihliraukan oleh Fina. Cewek itu malah berlari menjauhinya.
Nathan bergeming sejenak melihat Fina yang berlari menjauhinya. Dahinya mengernyit, lalu segera berlari mengejar gadis itu.
“Fina! kenapa lo hujan-hujanan?” tanya Nathan setelah ia berhasil meraih tangan Fina. Menahan cewek itu agar tidak lari darinya. Ia sedikit berteriak agar suaranya tak kalah suara hujan.
“Lepasin! Jangan ganggu aku!” Fina berontak mencoba melepaskan tangannya dari Nathan.
Fina nangis? Pikir Nathan.
Walaupun hujan mengguyur kota dengan derasnya, Nathan masih bisa mendengar suara isak tangis Fina. Meskipun wajah cewek itu basah oleh air hujan, tapi mata dan hidungnya memerah, ciri khas Fina ketika sedang menangis. Tapi kenapa? Apa yang membuat cewek itu menangis, hingga hujan-hujanan seperti ini?
Nathan juga melihat bahu Fina bergetar juga terisak tanpa suara. Nathan yakin, ada sesuatu yang telah terjadi pada cewek itu. “Fin, lo kenapa?” tanyanya khawatir.
“Lepasin! Aku bilang lepasin tangan aku, Nathan!” Fina kembali membentak Nathan. Dengan sisa tenaganya ia mencoba memberontak namun sayang, Nathan seperti tak akan melepaskannya.
Dengan satu tarikan, tubuh Fina terhuyung menabrak dada bidang Nathan. Cowok itu mendekapnya erat, memberikan kenyamanan dan kehangatan untuk Fina.
Sejenak, tubuh Fina menegang, tak ada satu katapun keluar dari mulutnya. Hanya ada isak tangis yang terdengar ditelinga Nathan.
“Kenapa lo lakuin ini?” tanya Nathan lembut tak peduli dengan pakaiannya yang ikut basah karena kehujanan.
“Lepasin! Lepasin aku, Nathan!” Fina kembali memberontak, memukul-mukul dada Nathan dengan sisa tenaganya.
Nathan menggelengkan kepalanya, dan malah mempererat pelukannya. “Nggak! Gue gak bakalan lepasin lo lagi. Cukup sekali gue lepasin lo, jangan harap gue bakalan lepasin lo untuk yang kedua kali,” jawab Nathan yang langsung membuat Fina diam.
Di dalam pelukannya, Nathan bisa merasakan tubuh mungil itu bergetar. Perlahan, tubuh Fina rileks dan mulai membalas pelukannya. Nathan tersenyum, karena Fina tak lagi berontak.
Fina menumpahkan segala emosi dihatinya dalam pelukan Nathan. Cowok itu memberikan kenyamanan untuknya, yang tak bisa dipungkiri pelukan itu membuatnya hangat.
“Gue sayang sama lo, Fin.”
Samar-samar, Fina mendengar suara Nathan yang sedikit tersamarkan oleh suara gemericik air hujan. Sebelum semuanya berubah gelap dan ia tak ingat apa yang terjadi berikutnya.
***