Hari ini, Fina merasa ada yang berbeda dan sedikit kehilangan. Kalau biasanya, setiap pagi Alex sudah nongkrong di teras rumah, tapi sekarang cowok itu tidak ada. Biasanya saat Fina membuka pintu rumahnya, ia akan disambut senyuman hangat yang langsung membuatnya berbunga-bunga. Hanya gara-gara masalah kemarin, semuanya jadi berantakan.
Dan sekarang disinilah Fina, berjalan sendirian di koridor sekolah yang masih sepi, seperti biasa. Kemarin, sebelum hal menyakitkan itu terjadi, ia masih bercanda dengan Alex. Bahkan sampai sekarang, ia masih bisa merasakan hangatnya tangan cowok itu yang mengisi kekosongan ruas-ruas jarinya.
Tanpa dikomando, air matanya terjun begitu saja di pipinya. Dengan cepat, ia menyeka air matanya sebelum orang-orang melihatnya sedang menangis. “Jangan nangis, Fina. Kamu gak boleh tangisin mereka,” gumamnya lirih. Namun semakin ia berusaha terlihat kuat, air matanya semakin mengalir deras.
Fina segera berlari masuk kedalam kelasnya, duduk di bangkunya lalu menelungkupkan kepalanya di atas meja. Rasa sesak itu kembali menyerangnya. Padahal kemarin, saat bersama Nathan, ia sudah sedikit lebih tenang.
“Jangan nangis. Lo terlalu baik buat tangisin mereka,” ucap seorang cowok dengan suara baritonnya yang khas.
Fina sempat terkejut karena tiba-tiba ada orang yang bicara padanya. Ia kira dikelas belum ada siapa-siapa, tapi ternyata Nathan sudah ada di sana, dan duduk di bangku paling belakang. Dengan cepat, Fina mengangkat kepalanya lalu menyeka air matanya. “A-aku gak nangis,” kilahnya.
Nathan tersenyum, lalu berjalan menghampiri Fina dan duduk di bangkunya. Dengan gerakan kaku tangannya terulur mengusap sisa air mata di pipi Fina. “Dengan lo memutuskan untuk jatuh cinta, berarti lo udah siap menerima semua konsekuensinya. Jatuh cinta gak selamanya bikin kita senang, namanya juga jatuh pasti akan ada rasa sakitnya. Dan inget, jatuh cinta hanya untuk manusia yang kuat,” kata Nathan membuat Fina membisu seribu bahasa.
Fina masih diam dengan kaku sembari menatap Nathan yang kini sedang tersenyum kearahnya. Ketulusan Nathan mengingatkannya pada Alex, cowok yang berhasil membuatnya luluh karena ketulusannya. Tapi apa? Ketulusan itu justru menghancurkan hatinya tanpa ampun.
Dalam hati, ingin sekali Nathan menarik Fina kedalam pelukannya. Melihat sorot mata yang menunjukkan bahwa dirinya terluka, entah kenapa Nathan pun seperti ikut merasakannya. Gadis polos dan lugu itu terlihat menyedihkan sekarang.
Nathan memaklumi, karena ia tahu ini adalah cinta pertamanya Fina. Jadilah cewek itu akan sangat terluka saat dikhianati oleh pasangannya. Apalagi Alex mampu meyakinkan Fina sampai cewek itu benar-benar mencintainya. Rasanya pasti akan sangat menyakitkan. Ketika sudah saling cinta, dan saling sayang, tiba-tiba satu kejadian datang dan menghancurkan semuanya, tanpa diduga dan diluar harapan.
“Udah dong, ah. Muka lo udah kayak badut tau, jelek! Jangan nangis lagi, ya.” Nathan berusaha menghibur Fina, meski dengan cara receh asalkan Fina tidak sedih lagi.
“Senyum dong,” ucap Nathan sembari menarik ujung bibir Fina membentuk sebuah senyuman yang manis. “Nah, ini baru Fina yang gue kenal,” katanya sembari tersenyum.
Fina tersenyum karena dengan keberadaan Nathan, sedikit membantunya untuk mengalihkan pikirannya. Nathan selalu ada untuknya, cowok itu juga selalu menghiburnya meski terkadang dengan cara yang sedikit menyebalkan.
“Fina! Fina, kenapa lo nangis?!” Tasya yang baru saja datang langsung berteriak heboh ketika melihat sahabatnya sedang menangis. Dengan rusuh, ia menarik Nathan dan segera duduk di bangku cowok itu.
Nathan mendengus karena kedatangan Tasya menghancurkan semuanya. Padahal ia masih ingin memandangi wajah Fina yang menggemaskan itu. Meskipun sedang menangis, Fina masih terlihat menggemaskan.
***
“Mel, apaan sih? Lo mau bawa gue kemana?” tanya Kanaya sedikit kesal karena Melodi terus menyeretnya entah kemana.
Melodi tak menjawab, ia terus menarik tangan Kanaya sampai di taman belakang sekolah. Barulah Melodi menoleh menatap Kanaya.
Plak!
Tanpa aba-aba, tangan Melodi melayang tepat mengenai pipi Kanaya. Matanya berkaca-kaca, melihat orang yang ia anggap sahabat ternyata musuhnya sendiri. Hatinya sakit karena masalah kemarin, tapi rasa sakitnya tidak seberapa dengan rasa sakit ditikam dari belakang oleh sahabatnya sendiri.
Kanaya memegang pipinya yang menghangat karena tamparan Melodi. “Lo kenapa sih, Mel?! Kenapa lo tiba-tiba tampar gue?” tanya Kanaya masih dengan memegang pipinya.