Bugh!
“Beraninya lo permainin hati Fina! Mau lo apa, bangsat!” Kepalang emosi, Dino menghajar Alex dengan membabi-buta. Ia sangat tidak suka dengan perlakuan Alex pada Fina. Dan itu benar-benar membuatnya marah.
Alex sama sekali tidak melawan Dino, karena sadar, disini dirinya yang salah. Ia tahu Dino kecewa atas kejadian yang sama sekali tidak ia inginkan. Tapi ia masih berharap Dino mengerti, bahwa dirinya benar-benar tidak berniat untuk melakukan hal itu.
Alex sayang Fina. Ia juga sudah berjanji pada Fina untuk tidak membuatnya menangis. Tapi kejadian ini terjadi diluar kendalinya. Ia dan Melodi dijebak. Dijebak oleh seseorang yang bersembunyi dibalik kata teman dan sahabat.
“Sialan!”
Saat Dino akan kembali melayangkan tinjunya pada Alex, Angga datang dan langsung melerai keduanya. “No, tenang No! Jangan pake emosi, lo bisa bikin Alex celaka kalau gini,” ucap Angga sambil berdiri dihadapan Dino. Ia sangat terkejut ketika melihat emosi Dino yang meluap-luap seperti ini. Cowok yang biasanya selalu tenang dalam segala situasi, kini terlihat seperti monster yang tidak terkendali.
“Minggir lo! Jangan ikut campur urusan gue!” bentak Dino, lalu menyingkirkan Angga dari hadapannya. Menyentaknya, hingga Angga mundur beberapa langkah.
Alex diam mematung melihat Dino yang sedang dikendalikan oleh emosinya. Ia tak pernah menyangka Dino akan semarah ini padanya.
“No, dengerin gue! Lo boleh marah, lo boleh kecewa! Tapi jangan gini caranya. Fina gak bakalan suka kalau cara lo belain dia, kayak gini!” teriak Angga berusaha untuk menyadarkan Dino. “Lagipula, dengan lo pukulin Alex sampai dia tewas pun, kejadian itu udah terjadi, No. Semuanya gak bisa diulang, dan Alex udah ceritain semuanya ke gue, kalau semua yang terjadi itu benar-benar kecelakaan, bukan kemauannya,” lanjutnya mencoba menjelaskan semuanya. Ia berharap Dino mengerti dengan ucapannya, dan sedikit lebih tenang.
Ucapan Angga berhasil menyadarkan Dino, perlahan kepalan tangannya mengendur. Dino menghela napas, sembari memejamkan matanya. Benar, ini semua sudah terjadi. Bahkan jika ia menghabisi Alex sekalipun, kejadian itu tetap akan terjadi. Semuanya sudah menjadi kehendak Tuhan, dan ia tidak sepantasnya menyalahkan Alex seperti ini.
Dino sadar, apa yang dilakukannya itu sedikit berlebihan. Ia tahu Alex memang salah, tapi cowok itu tidak sepenuhnya bersalah. Dan hanya gara-gara perasaannya yang masih mencintai Fina, emosinya menjadi tidak terkontrol seperti ini hingga hampir saja mencelakai temannya sendiri.
Dino mengerang. Mengacak rambutnya. Menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya. Ia memejamkan matanya berusaha mengatur emosinya.
“No.” satu tepukan kecil di pundak berhasil menyadarkan Dino. Ia membuka matanya dan menemukan Angga yang berdiri di sampingnya. Dino lalu menoleh kearah Alex, cowok itu masih berdiri sedikit membungkuk sambil memegang perutnya. Wajahnya sudah babak belur karena menjadi sasaran empuk emosinya.
“Duduk dulu,” Angga menggiring Dino untuk duduk. Halaman belakang sekolah sudah sepi karena jam pelajaran sudah berakhir dan para murid sudah kembali ke rumahnya.
“Lex, sini.” Angga beralih menatap Alex, lalu menepuk-nepuk tempat disebelahnya agar cowok itu duduk. Pasalnya, sedari tadi Alex hanya diam ditempatnya tak melakukan apa-apa. Mungkinkah Alex takut kepada Dino?
Alex mengangguk. Lalu dengan langkah gontai, sembari menahan sakit akibat beberapa bogeman dari Dino, ia duduk di sebelah Angga. Kini, Angga kembali menjadi penengah di antara mereka.
Dan suasana berubah hening. Semuanya lebih memilih diam, bergelut dengan pikiran masing-masing. Sesekali, Alex melirik Dino, yang sepertinya masih mencoba mengatur emosinya. Dan Angga yang sepertinya kebingungan harus berbuat apa.
Alex meringis, merasakan nyeri dibeberapa bagian tubuhnya. Tak pernah ia bayangkan sebelumnya akan mendapatkan pukulan super-duper kuat dari seseorang yang dikenal sangat tenang dan tanpa emosi seperti Dino. Jadi benar, emosi orang yang lebih banyak diam akan sangat berbahaya dibandingkan preman pasar.
“Gue tahu, gue brengsek, No. Apa yang udah gue lakuin pasti bikin Fina sakit hati. Tapi jujur, gue gak berniat melakukan hal itu, apalagi sampai menyakiti hati Fina. Lo tahu sendiri bukan, kalau gue sayang banget sama Fina?” Alex berusaha kembali menjelaskan semuanya pada Dino. Ia sudah tidak nyaman dengan situasi serba canggung seperti ini. Dan sekali lagi, ia masih berharap Dino mengerti dan mau memaafkannya.
Dino masih diam.
“Terserah lo mau percaya sama gue atau nggak. Yang jelas, kejadian itu terjadi karena Kanaya jebak gue sama Melodi. Dia kasih gue minuman yang ternyata dicampur obat perangsang kedalam minuman itu. Gue gak tahu apa motif dia lakuin itu, padahal Melodi itu sahabatnya sendiri.”
“Gue gak mau ada salah paham, No. Gue jelasin semuanya ke elo sejujur-jujurnya. Gak ada yang gue tutup-tutupi, mau lo percaya atau nggak, itu hak lo. Yang penting, gue udah jelasin semuanya.”