Hampir satu bulan berlalu, setelah kejadian itu, hubungan Fina dan Alex masih belum jelas kelanjutannya. Selama itu pula, Fina sama sekali tidak pernah melihat Alex disekolah. Cowok itu seperti hilang ditelan perut bumi.
Dan sekarang, Fina tengah membaca novelnya seperti biasa. Ia juga sudah tidak memikirkan hubungannya dengan Alex, toh ia yakin kalau Alex tidak benar-benar mencintainya. Cowok itu hanya ingin mempermainkannya.
Seharusnya, jika memang dia benar-benar mencintai Fina, setidaknya dia tidak menghilang selama ini, bukan? Seharusnya dia berusaha menjelaskan semua yang terjadi, bukan malah bersikap seperti pengecut yang tidak punya nyali. Ya, seharusnya begitu.
“Fina.”
Fina menoleh, menutup buku novelnya, dan beralih menatap Nathan. “Ya?”
Nathan garuk-garuk kepala, membuat Fina mengerutkan keningnya. “Emm... nanti pulang gue anterin, ya?”
Dahi Fina semakin mengerut, menatap Nathan, bingung. Bukankah setiap hari cowok itu mengantar-jemput dirinya ke sekolah? “Bukannya setiap hari juga kamu anterin aku pulang, Nathan,” jawab Fina heran.
Nathan meringis sambil menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba gatal. “Emm... biar lebih keren aja,” gumamnya sambil memalingkan wajahnya.
Fina tersenyum, senang melihat Nathan yang sedang salah tingkah. Setidaknya dengan Nathan, ia bisa melupakan sedikit masalahnya. Hatinya tenang ketika sedang bersama cowok itu. Perasaan senang karena ulahnya yang sedikit menyebalkan, membuatnya lupa dengan rasa sedihnya. “Iya, iya, gimana kamu aja,” ujarnya sambil mengibaskan tangannya tak peduli, lalu kembali melanjutkan membaca novelnya.
Nathan merengut, alis tebalnya menyatu ditengah. Ia meraih novel yang sedang dibaca oleh Fina, membuat cewek itu melotot tajam kearahnya.
“Ih, Nathan! Kamu apaan sih!” pekik Fina kesal. Ia mencoba mengambil lagi novelnya, tapi Nathan malah mengangkat tinggi-tinggi tangannya dan membuat Fina limbung. Fina terjatuh, menabrak dada bidang Nathan.
Fina mengerjapkan matanya. Badannya kaku. Jantungnya berdegup kencang. Aroma maskulin dari tubuh Nathan memenuhi indera penciumannya. Dan apa ini? Detak jantung Nathan juga berdetak kencang seperti dirinya.
“Jangan sedih lagi, ya, Fin. Gue sayang sama lo. Lebih dari yang lo tahu, dan dari yang Alex punya,” ucap Nathan lembut, lalu mengecup puncak kepala Fina.
Fina sendiri tidak tahu apa yang sudah terjadi padanya. Otaknya menyuruh untuk menjauhkan dirinya dari Nathan, tapi hatinya berkata sebaliknya. Ada desiran aneh di dadanya, hingga membuatnya melupakan akal sehatnya. Tak bisa dipungkiri, Fina nyaman dengan posisinya saat ini, bersandar di dada bidang Nathan, dan merasakan hangatnya hembusan napas yang menerpa puncak kepalanya.
“Astaga!” pekik Fina, lalu menjauhkan dirinya dari Nathan. Ia celingukan kesana-kemari melihat kondisi kelas. Fina bisa bernapas lega karena kondisi kelas sudah sepi, hanya tinggal mereka berdua, karena yang lainnya sudah pulang terlebih dahulu.
Nathan kembali menekuk wajahnya. Fina sama sekali tidak menanggapi ucapannya barusan, dan itu membuatnya kesal. Ah! Kapan sih Fina peka?! batinnya kesal.
“Eh, emm... Nathan,” Fina berujar tak jelas, membuat Nathan menatapnya dengan dahi mengerut.
Fina memegang pipinya yang terasa menghangat, berusaha menutupinya dari Nathan. Jujur, perkataan Nathan tadi membuatnya salah tingkah. Dan semoga saja, cowok itu tidak menyadarinya.
“Emm...” Fina menggaruk tengkuknya, “Itu, aku mau ke toilet dulu. Kamu tunggu di parkiran aja, ya,” ucapnya lalu melesat pergi keluar kelas meninggalkan Nathan yang masih terpaku ditempatnya.
Nathan tersenyum, lalu geleng-geleng kepala. “Gimana gue gak suka sama lo, Fin? Lo gemesin banget kalo lagi salah tingkah kayak gitu,” gumamnya sambil terkekeh geli. Ia pun segera keluar kelas, menutup pintu kelasnya lalu berjalan menyusuri koridor sekolah yang sudah sepi, sambil terus tersenyum mengingat kejadian yang baru saja terjadi.