Hari ini, setelah jam pelajaran berakhir, Alex memantapkan hatinya untuk menemui Fina. Setelah hampir satu bulan pasca kejadian itu, ia baru memiliki keberanian untuk menemui kekasihnya.
Hingga sebuah keraguan membuatnya menghentikan langkahnya. Ia takut kalau Fina akan sangat marah padanya. Ia takut Fina kecewa dan tidak mau memaafkannya. Dan yang paling ia takuti, Fina meminta untuk mengakhiri hubungan mereka.
Sadar dengan pikirannya, Alex menggelengkan kepalanya. Ia terus meyakinkan diri bahwa hubungannya dengan Fina akan baik-baik saja. Setelah ia meminta maaf, Fina pasti akan memaafkannya karena gadis itu bukanlah orang pendendam.
Alex menoleh pada Angga yang masih ada ditempatnya, “Ga, Dino kemana?” tanya Alex pada Angga yang sedang sibuk menyalin catatan Dino, kebiasaannya setiap hari sepulang sekolah.
Angga mengedikan bahunya tanpa menoleh pada Arfika. “Gak tahu, lagi rapat kali,” jawabnya acuh.
“Yaudah, gue keluar dulu ya,” pamit Alex, menepuk pundak Angga lalu bergegas keluar kelas, meninggalkan Angga yang masih sibuk dengan catatannya.
Sebenarnya Alex masih takut untuk bertemu dengan Fina. Ia belum berani melihat sorot kecewa dari mata Fina. Apa Fina mau memaafkannya? Apa Fina juga mau menerimanya kembali setelah apa yang ia lakukan belakangan ini?
Alex sadar, bahwa caranya menghindar dari masalah bukanlah cara yang benar. Seharusnya, sebagai laki-laki, ia harus bisa bertanggungjawab atas perbuatannya, bukan malah menghindar yang membuat masalah semakin runyam. Dan kini, hubungannya dengan Fina jadi tak jelas. Tidak ada balas-membalas pesan. Tidak ada telepon bahkan sekedar saling sapa dan yang lainnya pun tak ada.
Dan ia pun sadar, bahwa yang membuat hubungannya seperti ini adalah dirinya sendiri. Fina mungkin saja menunggunya memberikan penjelasan, tapi apa yang dilakukannya? Menghilang tanpa kabar dan mungkin saja membuat Fina merasa bahwa dirinya tak lagi dibutuhkan.
Ini memang kesalahannya, sekarang Alex akan mencoba memperbaiki semuanya. Walaupun, mungkin, rasanya sudah tak akan lagi sama seperti saat semuanya masih baik-baik saja. Semoga saja ia bisa memperbaiki hubungannya.
Alex terus berjalan, menuruni tangga dengan cepat sebelum Fina keburu pulang. Tapi sepertinya, setelah hampir dua bulan lebih berpacaran dengan Fina, ia rasa gadis itu belum pulang dan sedang mengerjakan tugasnya atau sekadar membaca novelnya sendirian di kelas.
Tepat setelah ia menginjakkan kakinya di anak tangga terakhir dan berbelok, langkahnya terhenti ketika ia melihat Fina baru saja keluar dari perpustakaan. Dia mematung, bukan karena Fina, namun karena keberadaan Melodi yang bersama cewek itu.
“Melodi? Sejak kapan mereka dekat?” gumam Alex. Ia menyipitkan matanya, takut salah lihat. Karena yang ia tahu, Melodi begitu membenci Fina tapi sekarang kedua cewek itu terlihat dekat bahkan saling bergenggaman tangan.
Alex jadi ragu untuk menghampiri Fina. Bukan apa-apa, saat ini pun masalahnya dengan Melodi belum selesai. Masalah satu belum selesai, yang lainnya sudah muncul dihadapan, gumamnya dalam hati.
Meski demikian, Alex tetap berjalan dengan pelan untuk menghampiri kedua cewek itu. “Fina,” panggilnya ketika sudah berada sekitar tiga langkah di belakang Fina.