Lantai semen kamar itu terasa sangat dingin, menyedot sisa kehangatan dari telapak kaki Ranti yang tanpa alas. Di tangannya, kotak bekal berwarna tosca itu terasa berat, seolah isinya bukan lagi sekadar plastik kosong, melainkan beban dari ribuan kebohongan yang membeku.
Cahaya lampu neon di plafon yang sedikit berkedip—mengeluarkan bunyi dengung listrik yang halus namun menyakitkan telinga—memantul di permukaan kotak tosca itu, menciptakan kilatan yang menyilaukan.
**Sebelum pindah ke Dumai, Ranti tumbuh dengan memori yang kelam di kampung halamannya. Ia menyaksikan ayahnya sebagai pesulap ulung dalam kebohongan, sementara ibunya hanyalah penonton yang hancur. Ingatan saat ia berusia dua belas tahun, ketika ia memergoki ayahnya memberikan bros bunga kepada wanita lain—bros yang sama yang dijanjikan untuk ibunya—menjadi tonggak awal hilangnya kepercayaan Ranti pada ketulusan pria. Sejak saat itu, ia memandang wajah tampan dan senyum manis hanyalah topeng untuk menyembunyikan kebusukan. Ia membawa skeptisisme itu sebagai perisai, bahkan hingga ia terdampar di kota ini untuk melarikan diri dari genetik kepercayaan yang ia anggap sebagai kutukan.**
Dengan langkah gontai yang hampir membuatnya pingsan karena amarah yang memuncak di ubun-ubun, Ranti menyeret kakinya keluar dari kamar utama. Ia berdiri di ambang pintu ruang tengah, napasnya memburu, menciptakan uap tipis di udara malam yang lembap.
Di hadapannya, ayahnya masih duduk bersimpuh di lantai, sebuah pose pura-pura hancur yang kini terlihat sangat teatrikal dan menjijikkan.
"Bukti apa lagi yang Ayah butuhkan untuk menyangkal semuanya? Lihat!"
Ranti mengangkat kotak berwarna tosca itu tinggi-tinggi ke udara. Di bawah cahaya lampu yang temaram, warna tosca itu tampak kontras secara brutal dengan dinding rumah yang kusam. Ia memamerkannya seperti sebuah hadiah kematian yang mengerikan, sebuah trofi yang ia curi dari liang lahat kejujuran keluarganya.
"Lihat benda ini! Atau perlu aku bacakan nama di stiker yang aku tempel sendiri ini tepat di telinga Ayah? Agar Ayah tidak bisa lagi berpura-pura tuli terhadap kebenaran?!"
Suaranya menggelegar, memantul di dinding-dinding ruang tengah yang kosong, menciptakan gema yang menyayat. Sontak, di sudut ruangan, tangis Ibu kembali pecah secara histeris.
Itu bukan lagi sekadar isak tangis, tapi raungan primal, suara gesekan antara jiwa yang hancur dengan kenyataan yang tajam. Ibu meringkuk di atas lantai yang berdebu, jemarinya mencengkeram kain daster lusuhnya hingga urat-urat tangannya menonjol.
Ranti menoleh sejenak. Pemandangan ibunya yang bergetar hebat di lantai terasa seperti luka terbuka yang disiram cuka pekat—perih, panas, dan membuat matanya perih. Ia segera membuang muka, kembali menghujamkan tatapannya pada sang ayah.
Sorot mata Ranti kini bukan lagi milik seorang anak yang mencari perlindungan, melainkan sorot mata seorang hakim yang sedang membacakan vonis mati.
"Sumpah Ayah... dan air mata Ayah... semuanya cuma sampah!" Kata-kata itu meluncur dari bibir Ranti yang bergetar, membawa rasa pahit yang nyata di pangkal lidahnya.
Ayah Ranti masih mematung. Tubuhnya kaku, seolah otot-ototnya telah berubah menjadi kayu yang lapuk. Matanya yang tadi basah kini terpaku pada kotak tosca di tangan Ranti. Baginya, kotak itu bukan sekadar wadah plastik, itu hulu ledak yang baru saja meratakan seluruh hidup dan harga dirinya.
Secara perlahan, Ayah mencoba merangkak maju. Suara gesekan celana kainnya di lantai semen terdengar seperti bisikan ular. Tangannya yang dipenuhi bintik-bintik penuaan gemetar hebat, terjulur ke arah kotak itu seolah-olah dengan menyentuhnya, ia bisa menghapus jejak Riris dari rumah ini.
"Kamu salah paham, Ranti! Itu... itu terbawa saat Ayah bawa barang dari kota!" Suara ayahnya parau, pecah di ujung kalimat. Napasnya berbau rokok murah dan kepanikan yang tajam. "Riris tidak seburuk itu! Dia cuma ingin kita tetap baik-baik saja!"
Ranti mundur selangkah dengan sentakan kasar. Ia merasa jijik melihat tangan itu—tangan yang sama yang mungkin baru saja mengelus pipi Riris, tangan yang kini mencoba menyentuh kesucian rumah ibunya.
"Menjaga hubungan baik?" Ranti tertawa getir. Tawa itu terdengar hampa, bergaung di sela-sela isak tangis ibunya. "Dengan cara menyelinap ke kamar ibuku saat dia tidak ada? Ayah bukan sedang membela keluarga. Ayah sedang mati-matian menyelamatkan selingkuhan Ayah!"
Seketika, atmosfer di ruangan itu berubah secara drastis. Isak tangis Ayah yang tadinya mendominasi mendadak berhenti, seolah-olah seseorang baru saja menekan tombol mute pada remote kontrol kehidupan. Bahu ayahnya yang tadi membungkuk kini tegak kembali.
Wajahnya mengeras. Garis-garis iba di wajahnya lenyap, digantikan oleh ekspresi dingin yang membeku seperti batu granit. Topeng itu telah hancur sepenuhnya, dan apa yang ada di baliknya jauh lebih mengerikan daripada kebohongan itu sendiri.
Ayah berdiri dengan sentakan kuat, menghapus sisa air mata di pipinya dengan punggung tangan secara kasar, seolah air mata itu noda yang mengganggu.
Ia menatap Ranti dengan sorot mata yang belum pernah Ranti lihat selama hidupnya: sebuah kebencian murni yang kering, tanpa sedikit pun kasih sayang yang tersisa di sudut matanya.
"Setengah tahun, Ranti! Setengah tahun kamu di kota ini, ternyata kamu tumbuh jadi anak yang sombong dan durhaka, ya?!" Bentakan itu menggelegar, menggetarkan kaca-kaca jendela yang kusam. Suaranya tidak lagi parau tapi otoritas yang beracun, menusuk gendang telinga Ranti hingga terasa ada denyutan nyeri di kepalanya.
Ranti terperanjat. Bahunya menciut secara naluriah, sebuah reaksi tubuh yang masih menyimpan memori tentang ayah sebagai figur pelindung. Ia merasa oksigen di ruangan itu semakin tipis, digantikan oleh aroma kemarahan yang panas dan kering.
"Yah? Ayah yang tertangkap basah berbohong, kenapa Ayah yang membentak Ranti?" Suara Ranti lirih, namun ada nada keberanian yang bergetar di dalamnya, seperti senar biola yang ditarik maksimal.
"Karena kamu tidak tahu diri! Kamu pikir kamu siapa, hah?!" Ayahnya melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka. Bau keringat amarahnya kini menyerbang indra penciuman Ranti. Telunjuknya yang kasar mengarah tepat ke hidung Ranti, hanya berjarak beberapa inci.
"Kalau bukan karena Riris, kamu itu mungkin masih jadi pengemis kerjaan di kampung! Kamu makan dari tangannya, tidur di atas kasur empuk karena koneksinya, tapi di belakangnya kamu bertingkah seperti mata-mata murahan! Kamu pikir Riris bodoh? Dia tahu semuanya, Ranti! Dia cerita semuanya ke Ayah!"
Jantung Ranti seolah dihantam godam raksasa. Riris tahu?
Sebuah rasa dingin yang menjalar dari tulang ekor hingga ke tengkuk membuatnya lemas. Ia membayangkan Riris duduk di sofa beludru apartemennya, menyesap teh mahal sambil memerhatikannya membongkar laci melalui kamera tersembunyi atau sekadar insting tajam seorang pemangsa.
"Dia tahu kamu sering menggeledah tasnya seperti pencuri! Kamu membongkar lemarinya, mencari-cari kesalahan orang yang sudah berbaik hati mencuci bajumu dan memberimu martabat! Di mana adabmu?!" Ayahnya tertawa sinis. Tawa itu kering dan tajam, mirip bunyi logam yang beradu.
Ranti merasa dunianya runtuh. Ternyata selama ini, setiap kali ia merasa sedang menjadi detektif yang cerdik di apartemen itu, Riris sebenarnya sedang menontonnya dengan senyum kasihan yang merendahkan.
Setiap langkah Ranti di atas karpet mahal apartemen itu ternyata pertunjukan sirkus yang dinikmati Riris, lalu dilaporkan kepada ayahnya sebagai bahan tertawaan malam mereka.
"Ayah lebih membela dia daripada harga diri Ibu yang Ayah injak-injak di kamar ini?" bisik Ranti. Suaranya hampir hilang, tercekat oleh rasa mual yang meluap ke tenggorokan. Rasa jijik itu kini terasa seperti lendir yang menempel di seluruh tubuhnya.
Ia memandang sekeliling kamar yang kini terasa asing. Cahaya lampu yang memantul di ubin memperlihatkan jejak-jejak debu dan kemiskinan moral yang nyata.