Topeng Di Balik Kemeja Flanel

Shanty Dewi Shanty
Chapter #2

PAKTA DALAM KEGELAPAN VISUAL

Dumai tidak pernah menjanjikan kelembutan. Kota ini adalah tungku raksasa yang membakar mimpi-mimpi menjadi jelaga; bentang alam besi, beton, dan keringat yang menguap sebelum sempat mengering. Udara di sini pekat, seolah oksigen kalah bertarung melawan aroma industri yang tajam, belerang menyengat, dan debu jalanan yang terbang liar dari ban-ban raksasa truk pengangkut minyak. Setiap sudut kota bergetar oleh aktivitas pelabuhan yang tak pernah tidur, tempat tanker raksasa bersandar seperti monster purba yang menunggu giliran menyedot isi bumi.

Aroma kunyit dan asam di kampung halaman hanya mampu menidurkan luka Ranti selama dua minggu. Realitas kemudian mengetuk pintu dengan keras. Di atas meja kayu yang reyot, Ranti menatap buku tabungan ibunya yang menipis—nominal yang bahkan tak cukup untuk biaya pengobatan sendi ibunya, apalagi melunasi sisa utang kontrakan mendiang ayahnya. Ibunya tidak pernah mengeluh, tetap tersenyum tipis meski hanya berlauk garam. Namun, bagi Ranti, tatapan kosong ibunya adalah cambuk yang paling menyakitkan. Dari balik dinding kamar yang tipis, ia kerap mendengar ibunya terbatuk-batuk, disusul isak tangis tertahan yang diredam bantal usang.

Ranti menyadari pelarian singkatnya telah tiba di penghujung jalan. Tangisan pilu di bawah ketiak sang ibu tercinta, tak akan pernah mampu mengubah sebutir beras pun menjadi hidangan yang mengenyangkan. Jika ia terus menetap di kampung halaman, mereka berdua hanya akan menghadapi kematian perlahan, terperangkap dalam jerat kemiskinan yang jujur namun mematikan.

Sementara itu, di Dumai, sebuah kota yang diselimuti jelaga industri dan dikenal sebagai sarang maksiat, uang seolah berputar dengan kecepatan roda gila, tak kenal lelah. Di sana, berdenyutlah jantung industri, terhampar pelabuhan yang ramai, dan terbuka lebar kesempatan emas bagi siapa saja yang bersedia menukar sebagian jiwa mereka dengan pundi-pundi rupiah yang menggiurkan.

"Ranti harus kembali ke Dumai, Bu," ucapnya suatu subuh, ketika kabut tebal masih setia menyelimuti pucuk-pucuk pohon pisang di pekarangan. Ibunya sempat tertegun sesaat, jemarinya yang bergetar halus berhenti mengaduk teh hangat di cangkir usang. Tatapan khawatir terpancar dari netra yang mulai keriput. "Kamu tidak takut bertemu dengan mereka lagi? Setelah semua yang terjadi?"

"Ranti tidak akan menemui Ayah atau Riris," jawabnya, suaranya terdengar begitu mantap dan terkunci rapat oleh tekad baja. Sorot matanya memancarkan keteguhan yang tak tergoyahkan. "Kali ini Ranti pergi untuk Ibu. Bukan untuk melarikan diri lagi dari kenyataan pahit yang mengejar."

Tanpa sedikit pun niat untuk menahan, sang ibu tercinta lantas menyerahkan seluruh sisa uang jajan hasil jerih payahnya menjual pisang di pasar. Dengan bekal seadanya dan hati yang penuh keberanian, Ranti pun kembali melangkahkan kaki menuju kota pelabuhan itu sendirian. Ia bersumpah dalam hati, tidak akan membawa ibunya ke sana sebelum berhasil membangun benteng kehidupan yang kokoh dan aman bagi mereka berdua.

Kembali ke Dumai tanpa koneksi atau bantuan dari Riris, terasa seperti bentuk bunuh diri yang disengaja. Selama bulan pertama yang terasa begitu panjang dan menyiksa, ia benar-benar mencicipi pahitnya arti "terlunta-lunta"; tidur di losmen murah yang pengap dan berbau pesing, mengonsumsi mi instan mentah untuk mengganjal perut, dan berjalan kaki puluhan kilometer di bawah terik matahari yang membakar ubun-ubun, sembari tak henti membawa map berisi riwayat hidupnya.

Setiap kali matanya tak sengaja melihat papan nama perusahaan yang terafiliasi dengan Riris, Ranti spontan membuang muka dengan rasa muak yang tak tertahankan, sebuah pengingat akan masa lalu yang ingin ia kubur dalam-dalam.

Namun, keberuntungan pada akhirnya berpihak pada kegigihan dan kenekatan keras kepalanya. Sebuah perusahaan audit logistik multinasional yang terkemuka, membuka seleksi buta—sebuah sistem perekrutan inovatif yang hanya menilai ketajaman analisis dan potensi pelamar, tanpa sedikit pun melihat latar belakang atau koneksi internal yang dimiliki.

Ranti tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Ia menghabiskan tiga hari tiga malam yang melelahkan di perpustakaan kota, dengan tekun mempelajari manual logistik maritim hingga matanya memerah karena kurang tidur. Usahanya berbuah manis. Dari dua ratus pelamar yang bersaing ketat, ia berhasil menempati urutan pertama, sebuah prestasi yang membanggakan.

Gaji pertamanya terasa bagaikan sebuah mukjizat yang turun dari langit. Uang itu ia bagi menjadi dua: sebagian besar segera dikirimkan ke kampung halaman untuk ibunya, sisanya ia gunakan sebagai uang muka untuk menyewa apartemen tipe studio. Unit itu memang kecil, catnya sudah banyak mengelupas akibat korosi uap laut yang terus-menerus, namun memiliki jendela besar yang langsung menghadap ke Selat Dumai yang luas.

Di sanalah, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Ranti bisa mengunci pintu dengan rapat dan bernapas lega tanpa beban. Ia telah membuktikan kepada dirinya sendiri, bahwa tanpa belas kasihan dan bantuan dari Riris, ia tetap mampu berdiri tegak di atas kedua kakinya sendiri, mandiri dan kuat.

Namun, kemandirian yang baru saja ia raih itu, menuntut harga yang tak murah. Jam kerja yang brutal dan sangat panjang, ditambah lagi dengan isolasi diri yang ia sengaja lakukan untuk menghindari lingkaran sosial ayahnya yang bermasalah, perlahan tapi pasti mulai mengubah Ranti menjadi semacam "manusia gua".

Jiwanya terasa kering, sekering tanah Dumai di puncak musim kemarau yang panjang. Hari-harinya terasa seperti medan perang yang tak pernah usai; bau solar yang menyengat menempel erat di seragamnya, layaknya parfum murahan yang tak bisa hilang, sementara debu-debu industri yang halus menyelip di setiap pori-pori kulitnya.

Di tengah suara rem udara truk yang mendesis tajam dan bisingnya aktivitas pelabuhan, ia merasa hanyalah sekrup kecil yang dipaksa berputar melampaui batas kemampuannya, kehilangan esensi kemanusiaannya.

Hingga suatu sore yang begitu melelahkan di gerbang kilang, di tengah keramaian pekerja yang berlalu lalang, sebuah notifikasi masuk ke ponselnya. Getaran kecil itu, di tengah bisingnya pelabuhan yang tak pernah sepi, terasa bagaikan oase yang menyegarkan di tengah gersangnya kehidupan kota pesisir yang brutal.

Itulah awal mula kehadiran Gilang dalam hidupnya.Di Dumai yang keras, kotor, dan tanpa ampun, Ranti adalah seorang auditor lepas. Sejak meninggalkan rumah masa kecilnya yang penuh dengan kepalsuan, Ranti telah memangkas interaksi manusia hingga ke batas paling minimal. Ia bekerja sebagai auditor lepas, sebuah pekerjaan yang memungkinkannya untuk membedah kesalahan dan kebohongan di balik angka-angka perusahaan dari balik layar ponsel dan laptop.

Ia masuk kembali ke dalam, mengunci pintu dengan dua lapis kunci tambahan. Ritual ini adalah bagian dari benteng yang ia bangun.Malam itu, ponselnya tiba-tiba bergetar. Sebuah notifikasi dari aplikasi perpesanan yang jarang ia gunakan.

Ada sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal: "Langit Dumai mungkin terlihat abu-abu dari bawah, tapi di atas sini, ia adalah satu-satunya tempat di mana bintang masih bisa bernapas. Apa kau juga merasa sesak di sana?"Ranti tertegun.

Kalimat itu terasa aneh, puitis, dan sedikit mengganggu. Ia mencoba menganalisis motif di baliknya. Apakah ini salah kirim? Atau seseorang yang sedang mencoba melakukan teknik cold reading? Ia mematikan layar ponselnya, namun bayangan kalimat itu terus terngiang di kepalanya.

Ranti kembali ke balkon. Ia menatap ke arah kilang minyak, melihat gumpalan asap yang membumbung tinggi. Untuk pertama kalinya selama ia tinggal di Dumai, ia merasa bahwa kota ini tidak lagi cukup besar untuk menyembunyikannya.

Ia kembali duduk di depan laptopnya, namun jemarinya justru bergerak membuka kembali aplikasi tersebut. Ia mengetikkan balasan, ragu-ragu, lalu menghapusnya lagi. Sebuah permainan psikologis yang tak terlihat telah dimulai.

Ranti menatap layar ponselnya yang kini menyala terang. Balasan dari orang asing itu muncul, singkat namun presisi: "Sesak adalah cara kota ini memastikan kita masih hidup. Tapi bukankah lebih baik merasa sesak bersama daripada tenggelam dalam sunyi yang tak berujung?"Alih-alih merasa takut, Ranti justru tertegun.

Kalimat itu tidak mengandung gombalan murahan. Ada kedalaman melankolis yang meresonansi dengan ruang kosong di dadanya.

Lihat selengkapnya