Topeng Ibu: Luka di Balik Rahasia

Selfia Wulandari
Chapter #1

1. Rasa Sakit

"Ayo kita bermain disini Sayang!!"ucap dengan paksaan oleh Seorang Pria paruh baya berumur 40 tahunan, wajahnya arogan, dengan kumis tebal di bawah hidungnya, serta berkulit sawo matang, matanya tertuju ke arah gadis muda berumur 20 tahunan.

Gadis itu bernama Lidia, dia adalah gadis cantik yang memiliki rambut berukuran sepinggang, Serta berkulit kuning langsat, dia biasa disebut gadis kembang desa.

"Aku tidak mau!! jangan paksa Aku lagi!!" teriak Lidia dengan suara yang menggelegar di seluruh ruangan kamarnya itu.

Pria itupun tidak peduli dengan Lidia, pada akhirnya ia menghempaskan tubuh lidia tepat di Atas ranjang yang berukuran minimalis itu, raut wajahnya bringas.

Mata Lidia terus menatap ke arah pria yang berada dihadapannya dengan tatapan penuh Ketakutan, Seperti sedang melihat monster di depannya, dengan nafas yang terengah engah, jantungnya terus Berdebaran sangat kencang, situasi kamarnya menjadi neraka.

Pria itu tidak peduli dengannya, ia terus menikmatinya dengan penuh kesenangan, sedangkan Yang dirasakan oleh Lidia adalah kesakitan dan ia tidak rela, jika tubuhnya terus dinikmati oleh pria Hidung belang.

"Tolong!! aku gak mau lagi!! sudah cukup!! Tolong!!!"

Teriakan wanita itu terus terdengar di seluruh ruangan kamarnya, tetapi pria hidung belang Terus menikmatinya dengan penuh kenikmatan, tanpa ada rasa belas kasihan.

Ia melakukannya kepada Lidia hingga 30 menit lamanya, waktu itu adalah waktu yang sangat Lama banget yang dirasakan oleh Lidia, karena harus menahan rasa sakit serta begitu membenci Situasi ini.

"Percuma kamu dari tadi berteriak dan meminta tolong!! tapi ujung ujungnya udah selesai juga Permainannya!! Saut Pria hidung belang itu sambil menutup kancing celananya yang sedang Terbuka.

Lidia kini masih terkapar di atas ranjangnya itu, dengan mata yang berkaca kaca dan penuh air Mata yang terus menetes membasahi pipinya, nafasnya terburu buru, serta menutupi tubuhnya Dengan selimut putih yang ada disampingnya itu, rasa sakit terus menghantuinya.

Lihat selengkapnya