Lidia terus menangis tersedu sedu, air matanya terus menetes tanpa henti mengarah ke Ibunya Yang sedang berdiri penuh emosi didepannya itu.
"Bukannya aku durhaka bu! aku ini capek begini terus,"berontak Lidia.
Wanita tua itu seketika langsung menatap ke arah anaknya yang sedang menangis tersedu sedu Di atas ranjang, rahangnya mengeras, nafasnya memburu keluar melalui hidung dengan tarikan Yang pendek dan kasar, tanda jelas dari kesabaran yang sudah di ambang batas "Seharusnya kamu Bersyukur!! udah bisa sekolah sampai tamat SMA!!"Bentaknya bernada suara tinggi, hingga Terdengar diseluruh ruangan kamar.
"Kenapa sih itu selalu berbohong sama aku soal biaya kuliah?"
Tanya wanita muda itu matanya mengarah ke ibunya yang menatapnya dengan penuh amarah.
Seharusnya ibunya menajawab pertanyaan sang anak, ia malah mendadak terdiam tanpa Bersuara, hanya bisa menatap tajam ke arah anaknya itu, serta mengeluarkan suara dengisan dari Mulut ibunya itu, kemudian ia berjalan dengan terburu burunya dari kamar, serta menutup pintu Kamar anaknya dengan dentuman keras.
Hingga Lidia hanya seorang diri didalam kamarnya itu, dengan Sekujur tubuhnya terasa berat, Seolah baru saja dihantam beban ribuan ton yang tak kasat mata. Ia duduk meringkuk di atas kasur, Menarik kedua lututnya rapat-rapat hingga menyentuh dada. Wajahnya ia benamkan di antara Lipatan tangan, berusaha meredam isakan yang mendesak keluar dari tenggorokan.
Napasnya memburu dan tersenggal-senggal, menciptakan suara gemetar yang pecah di tengah Sunyinya kamar. Bahunya bergetar hebat setiap kali tarikan napas pendek itu berubah menjadi Tangisan tertahan. Tidak ada teriakan, tidak ada drama, hanya tangis lelah seorang manusia yang Benar-benar kehabisan tenaga untuk bertahan.