Lilianna kecil memandangi mayat perempuan yang tergeletak bersimbah darah di tanah yang lembap. Di atas mereka, tajuk pohon beringin raksasa yang meranggas seolah meregangkan cakar-cakar hitamnya, mencengkeram langit sore yang kian menggelap. Hutan dekat rumah yang biasanya bising oleh jangkrik mendadak senyap mencekam. Bahkan angin pun enggan berembus, menyisakan udara yang berat dan pekat oleh bau anyir darah segar bercampur aroma tanah busuk.
Hujan sebentar lagi akan turun. Gemuruh guntur merayap rendah di kejauhan, bersiap menghapus bersih noda darah yang menempel di mayat itu, juga di tangan Roseanna.
“Kenapa …” Lily berkata lirih.
Roseanna kecil menyeringai. “Kenapa?” ia mengulang, menatap saudarinya yang ketakutan.
Kilat menyambar sekilas, memantulkan cahaya putih pucat pada wajah Rose, membuat seringainya tampak ganjil dan mengerikan di balik remang hutan. Sungguh tak pantas. Sangat tak pantas ekspresi tolol itu terlukis di wajahnya. Lily sungguh tak mengerti. Karena itulah Rose lebih suka memandang cermin daripada melihat wajah penakut saudari kembarnya.
“Kenapa harus—”
“Kenapa harus membunuhnya?”
Lily menatap Rose dengan matanya yang tertawa getir. Air matanya mengalir lebih dulu sebelum tetes pertama hujan jatuh menembus celah-celah daun tua di atas mereka. Lily melangkahkan kakinya, satu langkah lebih dekat dengan Rose, mengabaikan ranting kering yang patah di bawah kakinya dengan bunyi krak yang tajam, terdengar seperti tulang yang patah di keheningan itu.
“Aku mohon, Rose … ini yang terakhir kalinya,” gadis kecil itu berkata lirih, suaranya gemetar menahan isak. “Mama tidak di sini, jadi Rose tidak perlu—”
“Kamu mengira aku melakukan ini karena terpaksa? Lily, kamu bodoh,” Rose membalas dengan cibiran dingin yang menusuk hingga ke tulang.
Gadis itu melangkah maju, merapatkan jarak hingga Lily bisa mencium bau besi dari darah yang memercik di baju saudarinya. Rose menggenggam tangan Lily. Jari-jemari Rose terasa sangat dingin, kontras dengan darah hangat yang mulai mengering di kulitnya. “Gak apa-apa, kakak akan kasih kesempatan kedua. Kakak yang baik akan mengajari kamu.” Dia akan membuat dirinya melihat senyuman yang sama di wajah Lily—senyuman tanpa beban seorang pemangsa.
Rose melepaskan genggaman tangannya, lalu berbalik mendekati mayat wanita yang mulai kaku di atas hamparan lumut seolah itu adalah boneka rusak yang tak berharga. Angin malam tiba-tiba berembus kencang, membuat dedaunan pohon besar di atas mereka berbisik riuh, seolah-olah hutan kecil itu sedang bersorak menantikan kengerian selanjutnya.
Dengan gerakan yang teramat santai, Rose memegang gagang belati yang masih tertancap dalam di punggung wanita itu. Suara srek yang basah terdengar menjijikkan saat besi tajam itu ditarik keluar. Rose berbalik, lalu menyodorkannya pada Lily. Darah kental menetes lambat dari ujung bilah belati, jatuh tepat di kaki telanjang Lily.