Lilianna, nama siswi yang selalu absen tanpa keterangan itu anehnya berada di jajaran kandidat calon wakil ketua OSIS. Para siswa yang mengamati poster di mading menggemuruhkan koridor dengan bisik-bisik dan obrolan-obrolan kecil.
Di dalam topeng kehidupan sekolah yang “normal” ini, Narator akan memperkenalkan gadis itu sebagai Anna.
Gadis itu berjalan dengan anggun menuju kerumunan. Roknya yang selalu paling pendek, dengan kaus kaki putih yang panjang hingga menutupi lutut. Sepatu pentopelnya mengeluarkan “suara Anna” yang semua orang tahu. Para siswa menoleh ke belakang begitu menyadari kehadirannya, memberinya jalan seolah dia adalah bintang paling bersinar di sekolah.
Anna mendecak lidah, sambil menggumamkan kata-kata yang untungnya tidak didengar siapa pun.
“Kenapa gua jadi calon waketos?” tanyanya pada dirinya sendiri. Terlebih, dia adalah paslon nomor 02. Menyebalkan—tidak ada alasan khusus, hanya terasa menyebalkan—lebih dari apa pun
“Gabriel sendiri yang milih lu buat jadi wakilnya,” jawab seseorang yang kebetulan mendengar keluhannya. Seorang pemuda yang badannya dua sentimeter lebih pendek dari Lilianna.
Gadis itu kembali mendecak lidah. “Dasar bangsat,” gumamnya seraya berjalan menjauhi koridor. Atas dasar apa dia seenaknya milih gue? Anna membatin.
“Anna!” panggil seseorang ketika Anna dalam perjalanan menuju kelas XI-2, kelas sang calon Ketua OSIS yang dengan seenaknya memilihnya sebagai wakil. “Mau ke mana?” tanya Raisa, gadis yang berlari seperti kesetanan setelah melihat Anna melewati kelasnya.
“Mau ke kelas Kak Gabriel,” jawab Anna singkat. Tanpa disangka, Raisa tersenyum dengan sendirinya seperti orang yang kerasukan. “Enak banget bisa disukain kakel yang ganteng,” godanya.
“Dih!” protes Anna dengan memiringkan bibinya. Ia kemudian mendorong bahu Raisa menjauh darinya, lalu segera mempercepat langkahnya.
“Annaa …!”
“Ngapain masih ngikutin?” Anna protes lagi. “Mau ketemu si Maman?
Senyuman di wajah Raisa semakin mengembang tak tertahankan. Mengetahui tujuan teman sekelasnya itu, Anna segera menghiraukannya, dan semakin mempercepat langkahnya.
“Kak Gabriel,” panggil Anna di ambang pintu kelas. Di wajahnya, terukir sebuah senyuman yang terlihat tulus namun jelas tidak ia maksudkan. Raisa tetap mengekor di belakangnya. Pemuda bertubuh ramping itu segera menghentikan obrolan dengan teman-temannya, lalu menghampiri Anna.
“Kenapa, Ann?” tanyanya, membawa Anna menjauh dari pintu, menuju tembok pembatas lantai. Raisa melirik Anna dengan senyuman yang tak memudar di wajahnya, kemudian seseorang segera menarik tangannya, membawanya masuk ke kelas.
“Eum … kenapa nyalonin aku jadi waketos?” tanya Lilianna, masih dengan nada sopan. Tidak langsung menjawab, manik cokelat gelap Gabriel bergerak ke arah kanan. “Karena kamu tegas, Anna. Kamu bisa mendisiplinkan semua orang, termasuk kakak kelas.”
Anna berdeham. Entah kenapa rasanya itu terasa seperti sindiran yang menohok baginya. Untung saja itu tidak diucapkan oleh Raisa atau teman sekelasnya yang lain. “Aku jarang masuk sekolah,” Anna membalas.