Di dunia yang digerakkan oleh hasrat, hukum hanyalah sebuah hambatan teknis yang membatasi efisiensi. Manusia adalah makhluk penuh lubang, dan setiap lubang itu menuntut untuk dipenuhi.
Di celah-celah kebutuhan yang tak terpenuhi itulah, sebuah mesin raksasa berputar tanpa suara, mengonsolidasikan segala bentuk dosa ke dalam satu birokrasi yang efisien, namanya Syndicate of Unified Necessities.
S.U.N.
Dunia mereka tidak diatur oleh hukum, melainkan oleh distribusi cahaya. Di puncak piramida kekuasaan yang berpusat di Amerika Serikat, berdirilah Sunlight. Ia adalah inti atom dari seluruh sistem, sebuah menara kaca tanpa nama yang menyerap seluruh data mentah dari belahan bumi mana pun.
Namun, matahari tidak bisa menyentuh setiap sudut gelap sendirian. Ia membutuhkan transmiter.
Maka, di bawah perintah Sunlight, ribuan Starlight dinyalakan di seluruh permukaan bumi. Dari pusat kota London yang berkabut hingga sudut-sudut kumuh di pinggiran kota tanpa nama yang pengap, Starlight adalah sel-sel operasional yang bertindak sebagai ujung tombak.
Di negara maju, sebuah Starlight mungkin berwujud firma hukum prestisius di lantai teratas gedung pencakar langit. Namun di negara yang bobrok, Starlight bisa saja bersembunyi di balik dinding retak sebuah panti asuhan atau yayasan amal gadungan. Mereka adalah titik-titik cahaya yang nampak tidak saling berhubungan bagi mata awam, namun secara sistematis terhubung dalam satu jaringan saraf yang sama.
Starlight di negara tempat Agen Lily lahir—Lilianna dan Narator sepakat tidak mengatakan nama kotannya—adalah sebuah studio foto tua di tengah kota kecil yang tidak begitu peduli dengan keberadaannya.
✾
Jalanan gelap, namun cahaya dari gemerlap bintang menerangi jalan kegelapan menuju Studio Foto Cahaya Abadi.
Suara entakan dari sepatu heels terdengar bergema di keheningan. Kini, bukan “suara Anna” yang bergema di lorong sekolah, namun “suara Lily” yang menggaung di lorong malam.
Lily meraih gagang pintu paling ujung, memasuki ruangan yang dipenuhi aroma rokok. Seorang pria berjas mengamati Lily yang masih dengan seragam sekolah, berdiri di depan mejanya. Pria yang berdiri di sebelahnya segera melangkah menuju Lily, memberikannya sebuah amplop.
“Dicky Kusuma,” ucap Lily, seringai keji terukir di bibirnya selagi ia membaca nama itu dalam secarik kertas dalam amplop.
“Ke mana saja kamu, Agen Lily?” tanya pria berjas rapi yang duduk di mejanya dengan elegan. Namanya adalah Mr. Black, ketua organisasi. Itulah yang Lily perkenalkan kepada kita.
“Tidak mengecek permintaan yang Handler berikan kepadamu?” tanya pria itu lagi. Suaranya terdengar datar dan tenang, seperti rupanya. “Tidak ada internet?
Mr. Black terlalu sering mendengar alasan semacam itu, jadi ia tahu betul apa yang akan gadis itu katakan. Namun, Lily menggeleng. “Anna tiba-tiba ditunjuk jadi wakil ketua OSIS.”
Mr. Black tidak mengangguk. Namun ia mengiyakan. “Kalau begitu, segera penuhi permintaan.”
Lily berbalik tanpa mengatakan apa pun lagi, meninggalkan ruangan penuh foto-foto yang terasa menyesakkan itu.
Di pinggir jalan dua jam kemudian, Lily telah bersiap dengan pakaian jalangnya. Rok denim ketat yang memperlihatkan kakinya yang jenjang dan mulus, dan blus merah marun yang memperlihatkan belahan dadanya.
Sebuah mobil berwarna hitam mengkilap berhenti tepat di hadapannya. Kemudian, seorang pria paruh baya dengan kumis yang berujung tajam mempersilakan Lily untuk masuk.
Dengan gerakan anggun sembari memamerkan lekuk tubuhnya, Lily duduk di jok depan. Pria itu menatap Lily dari ujung kepala, lalu tatapannya terkunci di pahanya yang mulus tanpa noda.
Lily memerhatikan pria itu dengan senyum simpul yang terukir di wajahnya. Ia kemudian mendekatkan tubuhnya ke arah pria itu, lalu berbisik tepat di telinganya, “Ayo, kita jalan.”