Di meja kantin, Lilianna duduk menyantap nasi gorengnya dengan tenang. Meski di sekitarnya, pembicaraan tentang berita pembunuhan semalam terus terdengar di telinganya.
“Pak Kusuma itu yang pengusaha itu, kan? Mana mungkin dia bunuh diri.”
“Katanya, dia ketahuan selingkuh sama istrinya, tahu!”
Gadis berambut hitam bergelombang dengan kacamata oval itu menggebrak meja, mengagetkan siapa pun yang ada di sana, kecuali Anna yang malah memutar bola matanya malas.
“Jangan-jangan, istrinya …?”
Wajah bulat gadis berkacamata itu sengaja menunjukkan ekspresi penuh pertanyaan. “Mungkin aja, yang selingkuh itu sebenernya istrinya,” si ratu konspirasi mulai membuat deduksi bodoh.
“Bener banget!” seorang pemuda ramping dengan rambut pendek rapi di sebelahnya menjentikkan jarinya. “Itu cuma akal-akalan istrinya karena dia ketahuan selingkuh. Dan mungkin dia takut gak kebagian hartanya Pak Kusuma kalau …”
—nye nye nye.
Lilianna menyeringai, ia memutar matanya malas, seolah ia sedang mendengarkan sekumpulan orang kampung yang membicarakan gosip murahan.
Tanpa dia sadari, seseorang memperhatikannya. Matanya yang abu kehijauan menatap Anna seolah ia melihat makhluk aneh, namun memiliki suatu keunikan yang membuatnya tertarik.
Lilianna mengunci pandangannya pada sang Ketua Kelas. Lelaki itu tidak segera membuang pandangannya ke arah lain seperti remaja yang mencuri pandang dengan gadis yang ia sukai.
Anna membawa omprengnya, beranjak dari mejanya menuju meja yang diduduki Nathan “Kenapa lo liatin gue kayak gitu, Ketua Kelas?” tanyanya.