Topeng: Lilianna

Suzie S. Something
Chapter #5

Bab 04: Pekerjaan Bernilai Uang setelah Pekerjaan Merepotkan

Anna mengetuk-ngetuk meja dengan jarinya. Matanya menatap lurus jam dinding di depan kelas. Lima menit lagi sebelum bel tanda pelajaran berakhir berbunyi. Dan sebelum itu, handphone-nya harus berbunyi. Dia harus memiliki urusan penting untuk menghindari Gabriel.

“Bangsat,” Anna mengumpat pelan. Ia tidak begitu mengerti arti dari kata bangsat, namun itu adalah umpatan favoritnya.

Bel akhirnya berbunyi. Dan hingga piket selesai, tidak ada notifikasi penting dari handphone-nya.

“Anna,” panggil Gabriel tepat ketika Lilianna keluar dari kelas. Gadis itu melontarkan sebuah senyuman, lalu melangkah ke arahnya. “Mau di perpus aja, Kak?” tanya gadis itu, hanya sekedar basa-basi.

Dia bukan tipe orang yang tidak enakan dan mementingkan orang lain, sebenarnya. Ia hanya menjalani prinsipnya: lakukan apa yang kaukatakan.

“Apaan, sih, caper banget,” bisik seseorang di belakang Anna ketika mereka berjalan melewati koridor. “Dikira semua cowok suka sama spek LC, kali,” ucap yang lainnya, diringi tawa kecil.

“Udah, jangan didengerin,” bisik Gabriel, mencoba menenangkan, mungkin.

Anna menyunggingkan senyum. Peduli setan dengan mereka, pikir Anna. Kemudian, ia menarik tangan Gabriel, dan mengalungkan tangannya di pinggang lelaki itu. Wajah Gabriel segera memerah. Sementara dua siswi di belakang mereka membelalak tak percaya.

Anna segera melepaskan tangannya dari Gabriel begitu memasuki perpustakaan. Mereka segera mengambil bangku yang paling dekat dengan pintu. Gabriel dengan canggung menjelaskan konsep video kampanye, dan Anna mendengarkan tanpa memedulikan apa pun.

“Kita buat videonya sekarang aja,” ajak Anna setelah selesai dengan acara membosankan itu. Gabriel mengangguk setuju. “Tapi, kita butuh satu orang lagi buat—”

“Tuh,” Anna menunjuk ke arah seseorang yang membaca buku dengan fokus di pojok ruangan. Dengan segera, ia bangkit dari kursinya dan menghampiri gadis di pojok.

“Hei,” sapa Anna. “Boleh minta tolong?”

Gadis itu mengadahkan kepalanya, kemudian menutup buku yang sedang dibacanya. “Kamu …?” ucap gadis itu. Matanya melirik ke arah Anna, memancarkan suatu kilatan yang aneh. Dia adalah gadis di koridor kelas XI.

Lihat selengkapnya