Topeng: Lilianna

Suzie S. Something
Chapter #6

Bab 05: Kehidupan di Panggung Pertunjukan

Lily melangkah tenang dan pelan, meredam suara sepatunya yang menggema di keheningan malam. Tidak dengan pakaian jalang, ia hanya mengenakan kostum biasanya: kemeja hitam, rok span pendek dan sepatu lars hitam, serta tas gendong beludru hitam yang lembut.

“Jadi Agen di Konoha itu nggak banget,” Lily berkata setengah berbisik. “Gak estetik.”

Bayangkan saja, berjalan di jalanan kumuh dengan pakaian biasa agar tidak mencurigakan, jalanan berdebu karena panas alih-alih salju yang lembut, dan ia harus menggunakan pisau yang sama sekali tidak keren. Ya, meski dia memiliki pistol.

Setelah sepuluh menit berjalan, Lily telah sampai di tempat tujuan. Sebuah rumah kumuh dengan halaman yang seolah tidak disapu selama seminggu.

“Siapa pun harusnya bilang kalau rumahnya kayak gini,” bisik Lily. Suara dari earphone yang terpasang di telinganya terdengar membalas, “Emang kenapa? Sebelas dua belas sama kosan lu juga,”

“Bacot. Kalo mau, gue juga bisa tinggal di rumah mewah kayak lu, Viona anjing.”

Seseorang di seberang sana terbahak hingga Lily sontak melepaskan sebelah earphone dari telinganya. “Panggil gue Agen Violet sekarang! Dan jangan marah gitu, dong. Minta aja sama Papi—”

“Diem!”

Lily melangkahkan kakinya dengan malas menuju teras putih yang berubah menjadi kecoklatan karena debu tebal yang menempel.

“Terus kenapa lo milih tempat sempit dan bau apek itu?” Viona kembali berbicara. Lily tak membalas, ia kembali bertanya: “Emang iya, lo tuh simpenan Mr. Black? Tapi, menurut gue, muka kalian tuh—”

“Diem, Violet anak anjing. Gue bakal ceritain kalo kita deket,” Lily akhirnya membalas, meski dengan sedikit atau lebih dari sedikit kesal. “Jadi, kita gak deket?” Viona kembali bertanya di seberang. Lilianna membuang napas dengan malas.

Tanpa menghiraukan suara tawa di seberang sana, Lily mengetukkan jemarinya ke pintu tiga kali, lalu mengucap salam. “Permisi ….”

Tanpa menunggu jawaban, Lily membuka pintu yang untungnya tidak terkunci. Setelah menutup kembali pintu, Lily melangkah pelan mendekati seorang pria yang terbaring di sofa cokelat yang warnanya mulai memudar.

Ruangan sepenuhnya gelap, hanya sinar dari televisi yang menampilkan sinetron kisah cinta murahan.

Lihat selengkapnya