“Kamu mau apa nyuu bilang??” Tanya pak Mardi yang terlihat panik melihat kondisi nyunyu yang meresahkan dan juga tampak lemas, dengan baju dan peralatan kerja yang masih terpakai dan beradai di dekat Pak Mardi. “Nyunyu kenapa pak???” tanya Tono yang ikut panik keluar dari rumah melihat pak Mardi terus menerus memerhatikan kondisi nyunyu—”Ini leee, Nyunyu koyok’e mau lahiran tapi bapak nggak ngerti cara mandu nya ki piye???” jawab Bapak yang masih terus berusaha mengusap dan menyuapkan Nyunyu pisang kedalam mulutnya. “Wahyu mana lagi ini sudah mau gelap tapi belum pulang juga!” Suasana makin merunyam karena Pak Mardi mengkhawatirkan Wahyu yang belum kunjung pulang karena hari mulai gelap.
“Ah nanti paling juga pulang si mas tuh pak,,, biasanya main bola paling itu juga sama temen-temennya” jawab Tono yang dilanjut ikut jongkok disamping Pak Mardi yang masih menyuapi Nyunyu. — “Yowis le,,, ambilkan bapak air hangat lagi yang di termos ada di meja le—tadi bapak udah masak banyak!” Ucap Pak Mardi meminta tolong kepada Tono, — “Oke siap pak!” Tono pun mengambil termos yang ada di meja dan membawany dengan sedikit keberatan karena termos yang berukuran besar tersebut dan langsung memberikan nya kepada pak Mardi— “Ini pak”. Pak Mardi pun kembali menuangkan ke dalam dua buah wadah yang digunakan untuk tempat minum dan juga mengompres badan Nyunyu. Alih-alih diminum, Nyunyu terlihat tidak mau menerimanya dan menunjukan gestur seperti mual dan ingin muntah dan mulai uring-uringan serta mengeluarkan suara teriakan yang membuat suasana makin terasa panik.
Sesekali teriak tak karuan, sesekali terdiam lemas,,, hanya itu yang dilakukan Nyunyu sepanjang siang hingga sore hari kala itu yang membuat pak Mardi kehabisan akal harus melakukan apalagi disaat mengompres dan memberinya minum terlihat tidak membuahkan hasil apapun,,, hingga hari mulai gelap, matahari pun mulai meninggalkan singgasananya dan siap berganti dengan Bulan yang akan menghiasi langit hari itu namun Pak Mardi sedikit tenang, karena Wahyu akhirnya terlihat diujung jalan yang diantar pulang oleh seseorang pria dewasa yang identitasnya tidak dikenali menggunakan sepeda motor.
“Pak! Iku Mas pulang pak!” Tono yang menyadari bahwa itu adalah kakak laki-lakinya yang datang dari arah ujung perumahan memberitahu pak Mardi kearah yang dimaksud. — “Leee!! Iku sopo lee ?! Neng ndi ae awakkmu ? Jam semene lagi mulih? (Nak!!! Itu siapa nak?!
Dari mana saja kamu ? Jam segini baru pulang ?)” Tanya bapak yang mukanya langsung berpaling ke arah yang Tono maksud dengan ditambah nada bertanya yang penuh kekhawatiran. “Main bola paaak itu mah palingg kayak kata akuuu” Saut Tono dengan nada sok tahu dan perasaan ingin dimenangkan. “Bukaaaan leee! Itu dia sama mas-mas dewasa kok sudah bawa motor gitu” Jawab bapak dengan nada meyakinkan ke arah wajah Tono yang polos. Dari arah kejauhan Wahyu terliihat jalan dengan perasaan yang tidak berubah seperti biasanya, tidak terlihat bersedih, tidak terlihat murung, tidak membuat cara dan gaya berjalannya berbeda dari biasanya, yaa tetap seperti Wahyu yang biasa pulang sekolah, yang membedakan hanya… ada orang yang mengantar nya kali ini dan tidak diketahui siapa, serta waktu pulang yang berbeda dari biasanya.
“Bapak…Maaf Wahyu kesorean ya pak,,,tadi aku” — “Yaampun,,, jam berapa ini lho Le mepet maghrib begini baru sampe rumah,, kamu pulang jam 4 sore lho, masa 2 jam main bola nya ? terus tadi siapa itu yang anter kamu pulang ?” Wahyu yang sedang memberi penjelasan, kemudian dipotong oleh bapak karena kekhawatiran masih menyelimuti perasaan bapak saat itu karena ditambah dengan kepanikan melihat kondisi Nyunyu yang tak kunjung membaik. “Terus ? tadi itu kamu diantar sama siapa ? kok gak diantar sampai depan rumah sini ?” Pak Mardii lanjut menanyakan hal tersebut. “Gurunya mas kali pak itu” celetuk Tono sambil menatap Pak Mardi “Tono !! Bisa nggak ? Nggak usah ikut nyaut kalau nggak diajak ngomong ?! Udah Masuk aja sana ke kamar !” Nada membentak Pak Mardi terhadap yang keluar karena celetukan Tono yang mengalihkan pembicaraan antara Pak Mardi dan Wahyu.
“Eee… iya pak, Tono minta maaf” Tono kemudian bangkit dan beranjak maauk kedalam kamar nya dengan memasang muka murung sekaligus ketakutan karena mendengar nada Pak Mardi yang sangat ditinggikan saat itu. “Eee.. itu pak, tadi itu Mas Randi dia…” Jawab Wahyu terputus dan disambung dengan pertanyaan bapak yang cukup mendesak ingin mempertanyakan hal seputar pria yang mengantar Wahyu pulang sore itu — “Guru ? Bukan kan ? nggak mungkin guru masa nggak nganterin kamu sampai depan rumah sini sih ? Apa karena bapak mu ini ,, keluarga kita ini keluarga miskin gitu ?” Tanya Pak Mardi mendesak kepada Wahyu diiringi dengan perasaan resah dan ketidakpercayaan.
“Iyaaa paaaak,,,,,ini Wahyu mau jawab tapi bapak tenang dulu dengerin dulu Wahyu mau ngomong ini bapak jangan putusin ucapan Wahyu dulu makanya”. Jawab Wahyu dengan sedikit menjelaskan dengan nada yang agak meninggi dengan niat untuk menegaskan Pak Mardi untuk mendengarkan terlebih dahulu penjelasannya— “Bapak,,, tadi aku main bola kayak biasa sama temen-temen,,,nah udah itu tadi tiba-tiba Mas Randi tuh lewat lapangan desa ku biasa kebetulan aku sama yang lain juga udah selesai mainnya, terus udah dia nawarin permen-permen aja buat yang ada disitu, sambil ngobrol-ngobrol aja sama temen sekolah ku pak” Jawab Wahyu yang mulai kembali menurunkan nada bicaranya agar tidak terkesan balik membentak Pak Mardi. “Permen ? Permen apa ? Permen Kayak gimana ?” Tanya Pak Mardi setelah Wahyu memberikan penjelasannya. “Bawa lebih buat pulang nggak mas ? Tono mau mas!” Saut suara Tono yang kembali muncul dari dalam pintu kamarnya dengan mengeluarkan sedikit kepalanya kearah teras karena mendengar Wahyu diberikan permen.
“Ssssttt! Halah kamu le,,, Permen aja denger, kamu kan bapak suruh masuk tadi,,, yowis sini-sini sekalian bapak kasih tau (ucap bapak ke Tono) Sekarang,,, kamu makan gak tadi permennya ? atau kamu bawa pulang ? (tanya bapak kembali melanjutkan perbincangan kepada Wahyu)” — “Nah kebetulan, tadi aku nggak makan pak, karena minum ku habis jadi takut tenggorokan seret sama lengket wong habis main bola terus makan permen karet— Ini sih pak permennya (Jawab Wahyu yang kemudian mengeluarkan permen yang tidak dimakannya itu)”. “Ya ampun,,, permen apa coba (Pak Mardi mengambil permen yang Wahyu keluarkan dari tasnya) nih kamu dengerin juga ya (tengok bapak kemudian ke arah Tono yang sudah hadir dan duduk disebelahnya, kemudian mengalihkan pandangan ke Nyunyu) — Sabar yaaa cah ayuuu aku ngomong sama dua lanang bandel ini dulu” Ucap pak Mardi ke Nyunyu sambil mengusap kaki nya yang dibentangkan selagi selonjoran di tiang rumah. “Ehiya pak ? ini kenapa Nyunyu lemes banget kayaknya” Tanya Wahyu yang teralihkan danmelihat kondisi Nyunyu setelah melihat Pak Mardi berbicara ke Nyunyu “Nah kan kamu sih pulangnya telat makanya jadi gini” Jawab Pak Mardi, yang hanya memberikan respon mata melirik dan bibir mengucap kata tak jelas yang menganggap alasan pak Mardi tak masuk akal. “Ini (pak Mardi sambil menunjuk permen) sebenarnya mau apapun makanan,,,minuman atau hal apapun yang sifatnya dimakan,,,dimasukkan kedalam mulut terus di telan— itu jangan dan nggak boleh sembarangan nerima dan harus lihat tempat asalnya,,, dari mana,,, dari siapa,,,, itu harus diperhatikan yaa leee yaaa. Sekarang lagi zaman nggak bener kayak gini,,,lagi banyak penjualan organ yang diambil dari anak kecil kayak kalian karena masih dianggap bersih dan belum terkontaminasi apapun” Pak Mardi menjelaskan kepada Wahyu dan juga Tono perihal bahayanya mengambil atau menerima sesuatu dari orang asing.
“Organ itu apa pak ?” Tanya Tono dengan nada polos setelah Pak Mardi menjelaskan. “Gini No, Organ itu adalah bagian yang ada didalam tubuh yang penting buat manusia agar bisa terus hidup, kayak jantung,,paru-paru,,,lambung,,,ginjal,,,gitu—nanti pokoknya kamu belajar deh di sekolah” Jawab Wahyu menjawab pertanyaan adiknya yang polos itu. —“Nah itu kamu ngerti lee” ucap Pak Mardi kepada Wahyu sambil mengelus kepala Wahyu dengan lembut setelah menjelaskan jawaban dari pertanyaan Tono. “Karena nanti yang ditakutkan itu adalah biasanya ada aja kandungan buruk didalm makanan atau minuman yang diberikan oleh orang asing tersebut,,, terus nanti kamu nggak sadar diri ,,, pingsan ,,, tiba-tiba nanti udah sampe tempat jauh yang kamu nggak tau pas udah sadar. — Kalau bangunnya pas masih udah sadar ,,, kalau kamu bangun pas udah dibelek (dibelah / dibedah) perutnya ? udah diambil organ-organnya ? bangun-bangun wis di alam laen kon! “ Jawab Pak Mardi. “Lhoiya pak??,,, terus kalau jantung atau apa tuh lumbang kita diambil, kita jadi nggak punya itu dong ?” tanya Tono dengan nada polos. “Yaaaa nyawa mu juga hilang alias nggak punya lagi noooo (Jawab Wahyu singkat kepada Tono, dan kembali menjawab pertanyaan Pak Mardi) — iya pak,,, Wahyu minta maaf ya pak,,, Wahyu nggak kepikiran kesana,,, Wahyu janji nggak nerima-nerima makan atau minum dari orang asing lagi”.
“Sebenarnya itu bener,,, tapi ada lagi yang lebih penting sebenernya yang perlu kamu nggak lakuin lagi le! — Pulang sekolah tuh langsung pulang!,,, mencegah juga kamu ketemu sama orang lain atau asing diluar sana! Ya ? paham ya ?” Tanya dan sedikit penjelasan dari Pak Mardi setelah menjawab respn Wahyu. “Iyaa pak” Jawab Wahyu dengan kepala sambil menunduk dengan sedikit perasaan takut. “Kamu No! Ngerti nggak yang bapak sampe’in ? Jangan nerimo (terima) apa saja yang diberikan oleh orang asing atau yang belum kita kenal ya!” Saut Pak Mardi kepada Tono sambil mencoleknya yang hanya diam saja sambil menggaruk-garuk kakinya—”Iyoo pak ngerti aku” Jawab Tono dengan lembut.
Setelah menyelesaikan diskusi kecil dari konflik pulangnya Wahyu dengan orang asing tersebut, akhirnya mereka bertiga baik Pak Mardi, Wahyu dan juga Tono, kembali melihat dan memperhatikan ke arah Nyunyu untuk memastikan bagaimana kondisi baik kesehatannya dan juga keberisikkannya. “Nyuuu,,, kamu gimana nyuu ? (tanya Tono sambil mengelus dan menggerakkan sedikit kakinya) — udah agak antengan tuh pak kayaknya si Nyunyu (ucap Tono setelahnya)”.
“Yauwis Pak! Wahyu beberes dan ganti baju ya pak, makasih dan maafin Wahyu ya pak” Wahyu pun meninggalkan ruang tamu dan masuk kedalam rumah setelah mencium tangan bapak dan mengucapkan tersebut, tapi kemudian Wahyu menengok kembali ke arah teras setelah sudah melewati pintu masuk rumah “Emmm tapi pak? sebenernya mereka tuh kenapa Pak sampai organ orang lain dijual ke orang lainnya lagi ?”,
“Udah ganti baju dulu bebersih, kalau bisa mandi—Jangan lupa direndem juga bajunya biar bisa langsung dicuci, nanti kapan-kapan kita bahas lagi pertanyaanmu” saut Pak Mardi yang kembai mementingkan Nyunyu saat itu.
”Yoo enggak pak, maksudnya ya aku itu ya penasaran aja,,aku pengen tau aja maksud dan tujuan mereka itu untuk apa, dan kenapa organ anak kecil yang diambilnya gitu” Tanya Wahyu mengelak ke arah kamar mandi.
“Yooo yaiya nanti kita obrolin lagi nya— le ambilkan bapak handuk warna hijau yang di kursi le tolong!” Ucap Pak Mardi lanjut ke Tono untuk meminta tolong.
“Siap pak!” Jawab Tono yang langsung bergegas berdiri.
Setelah handuk sudah dibawakan oleh Tono, Pak Mardi merapihkan dan menyiapkannya untuk menjadi alas untuk tempat beristirahat Nyunyu. “Mengko ya Nyu, nek aku wis duwe dhuwit akeh, tak tukokne panggonan turu sing apik. (Nanti yaa nyu,, kalau aku sudah punya banyak uang, aku belikan kamu tempat tidur yang bagus)”. Ucap Pak Mardi sambil merapikan lokasi Nyunyu beristirahat