Topeng Sang Ratu Mawar Merah

Titah Kesumawardani
Chapter #1

Bab 1 - Perjanjian Di Balik Topeng

Hujan turun perlahan, membasahi kaca jendela vila tua bergaya Prancis yang terletak di pinggiran Paris. Di dalam kamar yang beraroma lavender dan kayu tua itu, seorang wanita tua berambut perak terbaring di ranjang besar. Selimut wol yang hangat membalut tubuhnya. Nafasnya terengah, namun matanya tetap tajam, meski usia dan sakit telah menggerogoti tubuhnya.

Dialah Simone Dubois—wanita yang dikenal sebagai bangsawan tua penuh wibawa, serta satu-satunya orang yang mampu menjinakkan Milena Petrović. Di saat kedua orang tua dan kakak laki-lakinya gagal menjadikan gadis itu anggun, lembut, dan menawan seperti gadis pada umumnya, Simonelah yang mampu mendekatinya.

Tak ada yang tahu bahwa Milena sesungguhnya seorang mafia, kecuali neneknya itu sendiri. Simone menyimpan rahasia itu rapat-rapat, bahkan dari lingkaran kalangan bangsawan dan jaringan bisnis yang ia lindungi. Ia tahu siapa cucunya yang sebenarnya, dan tetap mencintainya tanpa syarat apa pun.

Milena yang baru saja tiba segera duduk di tepi ranjang. Ia mengenakan pakaian serba hitam yang kontras dengan kulitnya yang pucat. Tangan keriput sang nenek digenggamnya erat.

"Sayang... Dengarkan Nenek baik-baik..."

"Nenek harus istirahat. Bicaranya nanti saja," bisik Milena berusaha tetap tenang, meski di matanya tersembunyi rasa takut yang jarang ia rasakan.

"Tidak... Ini penting. Jauh lebih penting daripada nyawa Nenek sendiri." Simone menatap cucunya dengan pandangan penuh kasih namun tegas. "Nenek ingin kau menikah, sayang. Bukan sekadar karena tradisi, melainkan karena kau butuh seseorang di sisimu. Dunia ini terlalu kejam untuk dilawan sendirian."

Milena tertawa singkat, penuh rasa getir. "Aku bukan gadis lemah yang harus diselamatkan lewat pernikahan."

"Tapi Nenek ingin engkau mendapat perlindungan... yang bukan berasal dari senjata atau darah. Dan Nenek ingin engkau menikah dengan Lucien Beaumont."

Milena tersentak kaget. "Si 'Kutub Es' itu?"

"Dia anak yang baik. Memang dingin sikapnya, benar. Namun ia orang yang bisa engkau andalkan. Saat ini pun, ia dikelilingi banyak musuh—sama sepertimu. Kalian berdua jauh lebih mirip daripada yang kalian kira."

"Nenek menjodohkan kami semata-mata demi keuntungan bisnis?"

"Bukan. Nenek menyatukan kalian demi kebaikan. Suatu hari nanti engkau akan mengerti. Berjanjilah pada Nenek untuk melakukannya... Lakukan ini demi Nenek."

Suasana hening sejenak, cukup lama. Hanya suara mesin oksigen dan rintik hujan di luar yang terdengar memecah keheningan.

Akhirnya, Milena mengecup tangan Simone dan berbisik lirih:

"Baiklah. Aku akan menikah dengannya. Bukan karena aku percaya padanya, melainkan karena aku percaya pada Nenek."


--


Beberapa hari kemudian, Milena dan Lucien duduk di ruang pertemuan vila Petrović, meninjau surat perjanjian yang telah disiapkan oleh notaris keluarga.

Lucien tampak ragu, alisnya berkerut dalam kebingungan. "Aku sungguh tak mengerti mengapa Nona Simone mempersyaratkan hal seperti ini."

"Aku juga sama," jawab Milena tenang dan santai, sambil menyilangkan kakinya dengan anggun. "Namun aku takkan membantah permintaan yang kemungkinan besar... menjadi yang terakhir baginya."

"Ini terasa konyol. Kita bahkan belum saling mengenal satu sama lain."

"Bukankah itu justru baik? Kita tak saling kenal, takkan jatuh cinta, dan takkan saling menyakiti hati. Pernikahan ini murni sebuah formalitas belaka. Kau tetap bisa fokus sepenuhnya pada urusan bisnismu, begitu pun denganku."

Lihat selengkapnya