TRAGEDI PULAU TRAGEDI

Monacino
Chapter #1

1. BALAS BUDI

"Selamat, Nak. Kamu berhasil menyelesaikan S2 kamu dengan baik. Nilai yang kamu peroleh itu bikin Papa dan mama bangga banget. Pokoknya Papa nggak ragu lagi buat ngasih perusahaan Papa ke kamu!" ujar pria paruh baya yang terlihat sangat berwibawa dengan balutan jas hitam.

"Terima kasih, Pah," sahut sang putra kebanggaan dengan senyuman yang begitu melegakan.

Mempunyai gelar sarjana ekonomi dengan perolehan nilai tertinggi di Aussie, membuat Royan Pramuda menjadi kebanggaan pihak keluarga. Hari ini ia disambut keluarga besar dengan hangat di kediaman orang tuanya yang berlokasi di salah satu perumahan elit Jakarta Selatan. Di ruang tengah itu, beberapa kerabat dekatnya berkumpul untuk merayakan hari wisudanya. Beberapa orang tampak bangga dan segelintir orang lagi tampak memasang ekspresi palsu. Royan tahu, tetapi memilih untuk tidak tahu menahu.

Pada pembicaraan itu, telah ditetapkan bahwa Royan yang menjadi pemegang perusahaan utama keluarga. Sementara kakak laki-laki Royan dan kakak perempuan Royan hanya mendapatkan anak perusahaan saja. Memang tak ada yang menentang keputusan pada malam itu. Namun, kilat kemarahan muncul di kedua netra salah satu kakak Royan, yakni Dion Pramuda.

Sanjaya Pramuda—kepala keluarga Pramuda pun dengan bangga menandatangani surat wasiat di hadapan anak-anaknya.

"Dengan ini Papa telah terbuka pada kalian semua tentang surat wasiat Papa. Jadi nggak ada yang bisa mengubahnya. Keputusan ini Papa buat dengan berbagai pertimbangan yang matang dan Papa lebih bisa menilai anak-anak Papa dibandingkan yang lainnya. Jadi Papa harap, nggak ada yang protes tentang keputusan surat wasiat ini," tegas Sanjaya.

Malam semakin larut. Acara perayaan kepulangan Royan pun telah selesai. Royan telah memasuki kamarnya yang sudah sekian lama ia tinggalkan.

"Hah ... akhirnya bisa juga tidur di kamar ini lagi," monolog Royan sumringah.

Ia rebahi kasur empuk itu dengan nyaman. Kamarnya sangat tertata rapi. Sangat jelas bahwa kedatangannya benar-benar sangat ditunggu dan diistimewakan. Royan merasakan hal itu. Namun, ia juga merasa tak enak dengan kedua saudaranya yang lain. Apakah mereka menerima keputusan yang Sanjaya ambil.

Ketukan pintu membuat lamunannya buyar. Royan mengubah posisinya menjadi duduk begitu pintu kamarnya terbuka, menampilkan sosok Narina—kakak keduanya yang kini telah berkeluarga.

"Eh, Mbak Narin. Sini duduk, Mbak!" Royan mempersilakan kakaknya duduk di sampingnya.

Narina menggeleng dengan tampang dinginnya. "Cuma mau naroh baju tidur lo nih. Mama yang nyuruh," ujarnya seraya menaruh baju itu di atas kasur.

"Bang Dion ... pulang ya, Mbak?" tanya Royan hati-hati.

"Ya. Lo tau sendiri gimana egoisnya keputusan papa. Gue ngomong kayak gini bukannya mau lo bilang ke papa, ya. Keputusan papa tuh bulat dan terkunci. Nggak bisa diubah. Tapi gue cuma mau lo tau aja. Papa itu nggak adil. Yang duluan S2 siapa? Gue, kan? Anak tertua siapa? Bang Dion. Lah, perusahaan utama jatuh ke elo. Berarti jelas dong nggak adilnya papa? Gue sih tau kenapa papa nggak ngasih perusahaan utama ke gue. Katanya karena gue perempuan. Tapi gue heran. Emang kenapa kalau perempuan pegang tanggung jawab besar?"

Royan tak enak hati mendengarnya, tetapi ia juga bingung bagaimana cara menanggapi ucapan kakaknya barusan. Apalagi kalau harus bicara dengan ayahnya soal ini. Bukannya dapat solusi malah kedua kakaknya yang akan dihakimi.

"Besok gue ke rumah Bang Dion deh. Masih tinggal di sana, kan? Di desa itu?"

"Ya," sahut Narina seraya melenggang pergi.

Royan mengangguk. "Gue emang harus ngejelasin ke Bang Dion. Kalau gue nggak begitu tertarik kelola perusahaan besar," gumamnya yakin.

Lihat selengkapnya