Di sebuah pulau terpencil yang nyaris tak terjamah oleh sembarang manusia, ternyata memiliki kehidupan semi modern. Mereka yang tinggal di pulau itu terbagi menjadi dua suku yakni suku Walunggung dan suku Laringking. Di mana setiap suku memiliki peraturan hidup yang berbeda, ciri-ciri fisik yang khas, dan pantangan khusus yang tak boleh sama sekali dilanggar. Perbedaan yang mencolok dan dendam leluhur mereka, membuat kedua suku itu tak pernah akur. Hingga akhirnya pada puluhan tahun yang lalu, pulau yang bernama Pulau Parantua itu terbagi menjadi dua wilayah. Pertama wilayah suku Walunggung di bagian timur dan wilayah suku Laringking di bagian barat. Sejak pembagian wilayah itu, pulau Parantua bagaikan mempunyai dua sisi yang berbeda.
Pada setiap suku ada yang namanya kepala suku. Satu-satunya orang yang berhak menaiki kapal untuk pergi dari pulau itu menuju sebuah benua besar untuk melakukan perjalanan bisnis dan mengeruk kekayaan di sana. Sebagian besar hasil kekayaan yang kepala suku miliki bukan semata-mata untuk kekayaan pribadi, tetapi untuk pembangunan di wilayahnya. Agar sukunya menjadi suku yang paling maju dan nyaman dari suku lawan. Oleh sebab itu, meski ratusan penduduk itu tinggal di pulau terpencil, pakaian mereka tetap seperti manusia kota pada umumnya. Hanya sebagian kecil yang memakai pakaian yang terbuat dari anyaman daun. Soal pendidikan pun tak tertinggal. Mereka diajarkan bagaimana cara membaca, berhitung, dan melukis.
"Apa benar jikalau suku kita akan kedatangan seorang guru baru?" tanya seorang wanita paruh baya yang memakai pakaian batik mewah berwarna merah. Dialah Furria yang tak lain adalah istri dari kepala suku Laringking—Barantungga.
"Benar, Istriku. Aku sudah menemukan seseorang yang tepat untuk guru terbaik suku Laringking. Dia pemuda tampan yang sangat pintar. Dia adalah pria yang aku selamatkan ketika nyaris mati terbawa arus sungai yang landas di benua Asia," sahut Barantungga.
Furria yang duduk di hadapan suaminya yang sedang menikmati seduhan teh rempah itu pun mengerut keningnya. Furria terlihat tak yakin dan meragukan suaminya untuk mengambil keputusan yang besar itu.
''Ada apa padamu, Furria? Kamu terlihat sangat gelisah."
"Apakah pria itu pantas menjadi guru di suku kita? Ingat, Baran ... tak ada orang manapun yang berhak menginjakkan kaki di pulau ini selain suku kita sendiri. Pria itu orang luar yang berasal dari sebuah benua yang sangat besar. Kamu yakin dia tidak akan melakukan sesuatu yang buruk terhadap pulau kita? Jangan lupakan hal ini, semua orang luar berhak dicurigai dan diintai dengan sangat teliti," ujar Furria panjang lebar.
Barantungga beranjak dari singasananya dan berjalan mendekati sebuah tanaman pohon yang memiliki panjang seperempat meter. Tanaman tersebut ada di sebuah pot yang letaknya di atas meja. Barantunga memperhatikan pohon itu dengan saksama.
"Dia sedang mengalami yang namanya hilang ingatan. Sesuai medis, pria itu akan melupakan identitasnya dengan waktu yang tak bisa diperkirakan. Luka kepalanya membuatnya kehilangan nyaris semua ingatan itu. Termasuk pengetahuan tentang siapakah dirinya. Kita bisa membuat pria itu tinggal di sini dan terikat dengan suku Laringking. Maka setelah keterikatan itu, dirinya tak akan pernah bisa kembali. Itulah yang dilakukan oleh para leluhur kita untuk mendapatkan sumber daya manusia terbaik," tutur ketua suku tersebut dengan keyakinan yang penuh. Selama ini, Barantungga tak pernah salah mengambil sebuah keputusan apapun. Ia begitu dipercayai oleh para pengikutnya.
"Baiklah. Aku mempercayai itu. Apakah pria itu sudah ada di dalam ruangan ritual?"
"Benar. Setelah ritual itu selesai, dia boleh diperkenalkan pada suku Laringking sebagai guru terbaru yang sangat pintar."