TRAGEDI PULAU TRAGEDI

Monacino
Chapter #3

3. PERBATASAN

Puluhan orang suku Laringking dengan pakaian serba abu-abu itu berlarian ke perbatasan. Royan yang menjadi bagian dari mereka pun juga mengenakan pakaian serba abu-abu dan bersembunyi di balik semak-semak bersama seorang pemuda dengan potongan rambut cepak. Rasa ingin bertanya kuat sekali, tetapi Royan memilih untuk menahannya saja. Ia memilih mengikuti alur kegiatan yang sedang mereka lakukan.

Tak lama, dari arah Barat muncul sekelompok manusia dengan pakaian yang lebih terbuka. Pakaian lengan pendek dengan celana dan rok di atas lutut. Mereka memakai perniasan seperti kalung, gelang tangan, gelang kaki, dan cincin yang terbuat dari batu. Merekalah manusia dari suku Walunggung, suku yang bermusuhan dengan suku Laringking dari puluhan tahun yang lalu. Lebih membuat Royan kaget lagi, mereka rata-rata adalah perempuan yang berdiri di barisan depan.

Saat orang-orang dari suku Walunggung ingin memasuki wilayah suka Laringking, tiba-tiba sebuah peluit berbunyi. Sontak saja membuat mereka terkejut dan mengurungkan niat untuk melangkah maju. Orang-orang suku Laringking yang tadinya bersembunyi pun keluar dari persembunyian mereka. Senjata mereka acungkan pada musuh dengan tatapan yang tajam.

"Sungguh tak tahu malu. Orang suku Walunggung ingin memasuki wilayah suku Laringking untuk mencuri burung-burung yang ada di sini. Kalian lebih baik pergi dan datangi kepala suku kalian. Bahwa kami, suku Laringking meludah untuk suku kalian yang hina. Mencuri memang tabiat suku kalian dari zaman dahulu kala," ucap seorang pemimpin pasukan suku Laringking.

Lalu, perwakilan dari suku Walunggung pun angkat bicara. Wanita dengan rambut pendek dan perawakan tinggi itu maju ke depan dengan tampang berani. "Kami hanya ditugaskan untuk mengambil apa yang menjadi hak suku kami, Wilirang! Jangan sekali-sekali kamu merendahkan suku kami. Itu hanya memantik sebuah perang akan terjadi."

Pimpinan pasukan suku Laringking itu tertawa pogah. "Kamu mengkhawatirkan soal perang akan terjadi. Bukankah itu adalah satu satu agenda yang telah kalian rancang? Setelah menyusun strategi kalian akan menyerang wilayah kami untuk mengambil burung-burung Barkieq yang memang habitatnya ada pada wilayah suku Laringking. Dengar ini baik-baik, Ruwana! Aku akan memimpin pasukanku dengan membentuk benteng dan penyerangan yang kuat mulai sekarang! Ingatlah perjanjian antara kepala suku Laringking dan kepala suku Walunggung, bahwa tak ada satu pun dari kita yang boleh memasuki daerah satu sama lain. Jika suku Walunggung tidak memberikan budak Yulastri pada suku Laringking, maka suku Laringking juga tak akan memberikan satu ekor pun burung Barkieq pada suku Walunggung. Jika kalian menerobos wilayah kami untuk menangkapnya, maka kalian telah melanggar perjanjian. Itu berarti! Satu hasta wilayah Suku Walunggung akan menjadi milik suku Laringking," tutur Wilirang mengakhiri ucapannya dengan senyuman miring.

Ruwana mendengkus kesal. Celak mata yang hitam pekat itu menambak kesan tajam pada tatapannya yang tertuju pada Wilirang. Tak terduka, wanita itu mundur tiga langkah sebelum berbalik badan dan meninggalkan tempat itu. Anak buahnya langsung mengikuti dari belakang. Hingga yang tersisa di sana hanyalah suku Laringking saja.

Wilirang berbalik menghadap puluhan prajuritnya. "Sepuluh dari kalian akan tinggal di sini hingga malam menjelang. Lalu akan datang sepuluh orang lagi untuk menggantikan kalian. Suku Walunggung bisa saja kembali untuk kembali menunjukkan aksinya. Maka kita harus lebih berhati-hati."

"Siap, Ketua!" sahut mereka serempak.

Lihat selengkapnya