TRAGEDI PULAU TRAGEDI

Monacino
Chapter #4

4. ASAL MUASAL PULAU PARANTUA

Royan dan wanita itu sampai di depan istana suku Laringking. Sekali lagi Royan memperhatikan bagunan itu. Istana suku Laringking berwarna putih dengan beberapa sisi bagian istana berwarna cokelat muda. Berbentuk seperti gedung pencakar langit, tetapi tak setinggi itu. Desainnya benar-benar modern. Royan bingung bagaimana cara dirinya untuk mendeskripsikan tempat itu. Semuanya terkesan mewah dan menakjubkan, tetapi tetap saja ada sisi klasik yang kental di sana.

"Mari ikuti aku! Aku akan membawamu ke ruang bawah tanah, di mana Ketua Suku menunggu dirimu," kata wanita yang datang bersama dengan Royan.

"Baik, Mbak."

Royan dibawa ke dalam istana itu, menuruni tangga panjang menuju ke arah bawah. Hingga sampailah mereka di sebuah ruangan luas yang lantainya terbuat dari marmer putih. Tepat di ujung ruangan ada sebuah singasana yang nyaris rata dengan lantai tingginya. Barantunggu duduk di sana bersama dengan istrinya satu-satunya, Furria.

"Permisi, Pak. Pak Baran panggil saya?" tanya Royan berdiri canggung di hadapan ketua suku tersebut.

Royan menoleh ke kanan dan ke kiri, tampak beberapa pengawal istana itu berdiri dalam posisi tegak tanpa memperhatikan mereka.

"Silakan duduk, Royan! Ada yang ingin aku bicarakan denganmu," titah Barantungga.

"Iya, Pak," sahut Royan seraya duduk di sebuah bantal tipis yang telah disediakan.

"Kamu adalah orang baru di sini, Royan. Aku memahami bagaimana kamu merasa bingung dengan keadaan di pulau Parantua ini. Dengarkan baik-baik, aku akan menjelaskan beberapa hal penting padamu tentang pulau ini."

"Baik, Pak," sahut Royan menurut.

Barantungga duduknya sangat tegak dengan pakaian sutera berwarna abu-abu, pengikat kepala berbentuk segitiga, dan beberapa anak panah yang menempel pada bagian belakang tubuhnya.

"Pulau Parantua dulunya adalah sebuah pulau kosong. Leluhur kami adalah seorang buronan yang kabur dari penjara pada masanya. Satu keluarga nekat pindah ke pulau terpencil ini. Seiring berjalan waktu, ada sebuah kapal yang mendarat di pinggir pulau. Sekelompok orang itu adalah seorang imigran yang mencari kediaman baru. Leluhur kami menyambutnya dengan senang hati pada awalnya. Namun, tak disangka mereka membawa beberapa orang lagi tanpa seizin kami. Leluhur kami marah dan merampas kapalnya itu agar mereka tak dapat sembarangan membawa orang lagi ke pulau Parantua. Kapal itulah yang leluhurku gunakan untuk belayar menuju benua Amerika. Di sana, ia mulai menjajal berbagai bisnis dan membawa hasil kerjanya pulang ke pulau Parantua. Tapi ketika ia pulang, terjadi sesuatu yang tak terduga. Para Imigran itu membuat huru-hara di pulau kami. Salah satu dari mereka memperkosa salah satu anggota keluarga leluhur kami. Sejak saat itulah leluhur kami marah dan mengusir mereka. Tetapi dengan jumlah mereka yang banyak, mereka dapat melawan leluhur kami dengan mudah. Maka dengan sebuah kesepakatan damai, dua suku berbeda pun berdiri dengan pembagian wilayah yang adil. Suku Walunggung mendapatkan wilayah Barat dan Suku Laringking mendapatkan wilayah bagian Timur. Namun, tak habis sampai disitu permusuhan dua suku ini. Beberapa tahun kemudian Suku Walunggung menculik perempuan yang telah menjadi korban pemerkosaan itu. Suku Laringkung tak terima dan membalas dengan mencuri induk burung Barkieq yang merupakan hewan paling mereka muliakan entah karena alasan apa. Hingga saat ini, dua suku tersebut masih bermusuhan. Apalagi beberapa tahun yang lalu, suku Walunggung kedapatan menculik seorang budak dari Suku Laringking dan mereka tak pernah mau mengembalikannya. Kami suku Laringking sangat menghargai wanita. Walau hanya seorang budak, tetapi dia adalah bagian dari suku Laringking yang harus kami perjuangkan untuk mendapatkannya kembali. Dua suku ini tak akan pernah berbaikan sampai suku Walunggung memberikan budak wanita itu dalam keadaan sehat seperti sedia kala," tutur Barantungga panjang lebar.

Mendengar pernjelasan tentang asal muasal pulau atau suku yang ada di sini, membuat Royan lebih paham mengapa kedua suku itu berselisih hingga seserius itu. Ternyata adanya dendam leluhur antar kedua belah pihak.

Lihat selengkapnya