TRAGEDI PULAU TRAGEDI

Monacino
Chapter #5

5. SESUNGGUHNYA TIDAK PERNAH ADA

Suku Walunggung adalah suku yang dikepalai oleh seorang wanita bernama Juharia. Seorang wanita dengan raut wajah yang terlihat begis, tetapi memiliki jiwa kepedulian yang tinggi terhadap pengikutnya. Juharia senantiasa andil dalam kegiatan yang ia berikan pada pengikutnya. Mulai dari mengajar, bercocok tanam, mengawasi pembangunan, memastikan kebutuhan pengikutnya. Bahkan panggilan untuk Kepala Suku Walunggung itu adalah Ibu Juharia.

Istana Walunggung berbentuk memanjang dan hanya terdiri dari satu lantai saja. Tidak terbuat dari beton, tetapi dari kayu jati yang sangat kuat dan terlihat classic. Satu-satunya yang dapat membedakan Juharia dengan orang biasa asalah sebuah kalung burung yang senantiasa ia pakai dan sebuah tato burung di bagian belakang lehernya. Rambutnya pendek terhimpun dengan rapi dan mengkilat karena minyak kelapa yang dicampur dengan minyak melati.

Malam hari di paviliun luas khusus bersantai keluarga kepala suku Walunggung, terlihat Juharia bersama dengan ketiga anaknya. Dua anak laki-laki dan satu anak perempuan. Paviliun yang letaknya di tengah sebuah danau buatan itu terlihat bercahaya dari kejauhan. Di sekeliling paviliun terdapat lilin-lilin yang menyala dengan indahnya, menemani perbincangan hangat mereka.

"Bagaimana dengan pelayaran Ibu ke Benua Asia? Apa benar akan dilakukan besok?"

Suara yang empuk itu keluar dari belah bibir tipis dan ranum milik seorang gadis cantik berhidung mancung dengan alis terpahat bagai parang. Dialah Beilabia, gadis berumur 23 tahun yang merupakan putri satu-satunya Juharia.

"Benar, Beila. Ibu akan berangkat besok ke benua Asia. Selama Ibu mengunjungi benua itu, Ibu ingin kamu yang mengawasi wilayah kita," ucap Juharia.

Gadis itu tak membantah, tapi belah bibirnya terkatup rapat dengan mata bergulir pelan ke arah dua saudaranya.

"Kakakmu Beinor akan menemani pelayaran Ibu. Lalu Kakakmu Beisam akan mengawasi bagian ujung wilayah. Sebab ada desas desus dari warga, kalau sebuah kapal mengincar pulau Parantua sejak dua hari yang lalu," ungkap Juharia menjelaskan dengan tenang.

Beila terkejut mendengar kabar itu. Mendadak hatinya begitu gelisah. Traumanya masih begitu terasa akibat kejadian dua tahun lalu, di mana pulau Parantua akan didatangi oleh dua kapal asing yang ingim melakukan penelitian di pulau ini. Beruntungnya, warga suku Walunggung langsung bergerak cepat. Menyerang mereka dengan panah beracun dan sebuah tombok.

"Beila, jangan kamu merasa takut atau teringat kejadian itu lagi. Sekarang para tentara kita lebih kuat berjaga di pinggir pulau siang dan malam. Hingga tak ada celah lagi untuk kapal asing berlayar ke sini. Aku lihat wilayah suku Laringking juga melakukan hal yang sama," ujar anak tertua, Beinor.

Lalu, anak kedua menambahkan. "Suku Laringking dan Suku Walunggung memang bermusuhan, tetapi tentang melindungi pulau kita sama-sama memiliki kekuatan yang sama."

Beila berdiri dan berjalan pelan ke pembatas paviliun sambil memandangi pantulan bulan di air. Tatapannya menyendu penuh harap, seperti ada sebuah keinginan yang sangat ingin ia tunjukkan. Namun, putri cantik itu lebih memilih memendamnya.

"Aku juga ingin ke kota bersama Ibu dan kakak. Bagaimana kota itu keadaannya. Apakah yang membuat milyaran penduduk bertahan di sana, dari pada memilih tinggal di pulau seperti kita. Sudah pasti di sana sangat mengembirakan dan nyaman. Lebih tenang, tak ada kapal asing yang ingin merambas tempat tinggal mereka. Sebab di sana adalah sebuah benua yang teramat besar. Tak akan ada yang berani menyentuhnya, apalagi merampasnya. Jauh berbeda dengan kita yang setiap harinya hanya mengkhawatirkan tempat tinggal kita akan dijajah atau direnggut oleh pemerintahan benua besar itu," tutur Beila dengan sungguh-sungguh.

Lihat selengkapnya