Laporan atas menghilangnya Royan dari tempat mengajar pun mendapatkan respons cepat dari kepala suku Laringking. Barantungga langsung mengerahkan pasukannya untuk mencari keberadaan Royan di segala penjuru wilayah mereka hingga ke pinggir pulau. Puluhan orang suku Laringking yang bekerja sebagai petugas keamaan suku pun langsung bergerak dengan cepat, menyebar ke segala penjuru wilayah untuk mencari keberadaan Royan.
Barantungga berpikir keras di singasananya. Furria yang menyadari kecemasan suaminya pun bertindak untuk menenangkan sang suami yang tengah dilanda perasaan itu.
"Aku merasa jikalau ia hanya tersesat saja karena masih asing dengan wilayah kita, Baran. Dia tak mungkin kabur, sebab tak ada kapal untuk pergi dari pulau ini."
"Bukan itu yang aku khawatirkan, Furria. Aku khawatir Baran malah masuk ke wilayah suku Walunggung. Kita tahu sendiri bagaimana tabiat suku Walunggung. Mencuri dan mengakui dengan tak tahu diri apapun yang mereka temukan. Royan adalah milik suku kita, itu berarti dia adalah rakyatku yang harus aku lindungi dengan perang sekalipun. Aku tak akan bisa melepaskan rakyatku begitu saja di wilayah orang lain," lontar Barantungga.
Barulah Furria terpikir tentang itu. Raut wajahnya juga menunjukkan kekhawatiran yang mendalam. Jika benar Royan berada di wilayah suku Walunggung, maka kemarahan suaminya akan semakin mendalam pada suku Walunggung. Khayalannya tentang perdamaian antara dua suku tersebut pun semakin tak ada harapan lagi.
"Aku akan mengunjungi Walunggung jikalau sampai besok Royan tak kunjung ditemukan. Aku akan meminta izin untuk mencari keberadaan Royan di sana. Jika Juharia tidak mengizinkan, maka aku akan menyusun strategi perang. Jika dengan cara baik mereka tak hargai, maka aku akan memakai cara pintas saja," tegas Barantungga dengan sorot mata yang tajam.
Sementara itu, dua pengawal Beila membantu Royan keluar dari dalam air. Beila meminta mereka merebahkan Royan di sebuah gazebo yang letaknya tak jauh dari tempat penyulingan air tersebut. Royan kembali pingsan saat Beila menanyakan namanya. Terlihat dari kernyitan keningnya yang dalam dan lenguhan sakit Royan, Beila menyimpulkan Royan pingsan karena benturan di kepalanya saat hanyut tadi.
Beila duduk di samping tubuh Royan. Gadis itu memperhatikan wajah Royan dengan saksama. Setiap jengkal wajah Royan begitu sempurna. Bibirnya yang seksi, bulu matanya yang tebal, hidungnya yang mancung, dan kedua alisnya hitam. Tak ada pria setampan Royan di pulau ini. Bahkan hanya karena tak sengaja menatap kedua mata pria itu, membuat jantung Beila berdetak dengan kencang. Rasa yang berdesir di hatinya membuat Beila semakin penasaran dan ingin menatap mata pria itu lagi.
"Putri Beila, apakah kami perlu melaporkan hal ini pada Tuan Beisam?" tanya salah satu pengawal Beila.
"Tidak sekarang, Nim. Aku harus memastikan sesuatu dulu. Tapi ... bagaimana caranya membuat pria itu terbangun, Nim?" Beila sekali lagi menatap Royan dengan saksama.