TRAGEDI PULAU TRAGEDI

Monacino
Chapter #7

7. CINTA MEMBUAT KEPERCAYAAN MENGUAT

Langkah sepasang muda-mudi itu tampak beriringan. Berjalan santai sambil melihat-lihat alam sekitar di wilayah suku Walunggung. Sementara pengawal Beila masih setia mengawasi mereka berdua dengan jarak cukup jauh di belakang sana. Beila tak ingin diganggu, ia lebih leluasa tanpa pengawal di sekitarnya. Terlebih, ada seorang pemuda tampan di sampingnya yang pertama kali membuat hatinya bergetar.

"Jadi kamu menjadi guru di suku Laringking?"

Royan mengangguk membenarkan. "Aku nggak menduga bakal dibawa ke pulau terpencil seperti ini. Niat awalku cuma ingin membalas jasa Pak Baran karena udah menolongku pas aku nyaris sekarat di sungai."

"Jadi kamu sungguh penduduk asli benua Asia itu?"

Royan tersenyum seraya mengangguk lagi. "Ya. Aku penduduk benua Asia. Tepatnya di negara Indonesia. Semenjak bangun dari koma, aku mengalami hilang ingatan. Aku tak dapat mengingat di mana keluargaku berada. Mungkin sebab itulah aku bersedia di bawa ke pulau ini. Jika tak ikut bersama Pak Baran atau Barantungga kepala suku Laringking, aku tak tahu harus ke mana. Aku tak tahu harus membayar biaya rumah sakit dengan apa."

Beila mendengarkan dengan saksama sambil terus menatap wajah pria itu dari samping. Hingga tak sengaja kakinya tersandung batu, membuatnya memekik nyaris terjatuh.

"Beila!" Royan memegang punggung Beila dengan kedua tangannya. Jarak yang sangat dekat itu semakin membuat Beila tak berdaya. Pertama kalinya merasakan jatuh cinta membuatnya ingin jatuh sejatuh-jatuhnya. Begitu indah perasaan itu hingga ia tak ingin beranjak dari sana sedikitpun.

Royan memperhatikan bagaimana gadis itu tak bergerak sedikitpun dengan kedua tangan meringkuk di depan dadanya. Tatapan mata bulat itu sama sekali tak berkedip tertuju pada dirinya. Royan tersenyum hangat, lalu mengedipkan matanya. Sontak saja membuat Beila membolakan matanya. Gadis itu gelagapan segera menjauh dari Royan.

"Apa tadi itu," ucapnya dengan tarikan napas yang terdengar berat.

Royan mengulum senyumnya sambil berjalan dengan kedua tangan bertautan di belakang tubuhnya. "Ada seorang gadis yang menatapku penuh damba. Gadis itu begitu polos dan lembut. Beruntungnya dia dipertemukan dengan pria yang bisa memandangnya sebagai wanita yang berharga. Juga menghormatinya. Menurut kamu, hubungan pria biasa dan gadis anak kepala suku itu bagaimana? Apakah itu hal terlarang?"

Beila merasa narasi itu ditujukan padanya. Gadis anak kepala suku itu adalah dirinya dan pria biasa itu adalah Royan. Maka dengan kedua tangan bertautan ke belakang dan meniru langkah santai Royan tadi, Beila mencoba menjawab pertanyaan pria itu dengan lebih berwibawa.

"Memangnya apa salah hubungan anak kepala suku dengan pria biasa? Mereka tampak sama saja. Gadis itu adalah wanita yang memiliki hati dan pria biasa itu adalah manusia yang memiliki hati juga. Tak ada salahnya, bukan?"

Royan semakin tertarik, lalu mengimbangi jalan santai Beila dengan hati-hati di sampingnya.

Lihat selengkapnya