"Bagaimana jika ... kamu membawaku pergi dari sini?"
Permintaan sang putri kepala suku itu nyaris membuat Royan tak bisa berkata apa-apa. Kepalanya celingak-celinguk kalau ada yang bisa mendengar pembicaraan mereka. Bisa gawat kalau ada orang yang menyangka bahwa dirinyalah yang memulai perkara lebih dulu. Mengajak putri seorang kepala suku kabur, itu sama saja dengan mencari mati.
"Beila, kamu ngomong apa? Nanti kalau ada yang dengar, aku yang mati. Kamu itu anak kepala suku, bisa dihukum aku sampai macam-macam sama kamu," komentar Royan.
Beila menunduk sedih dengan bibir mengerucut. Bukan tanggapan seperti itu yang ia harapkan dari Royan. "Jadi kamu tidak mau ya, Royan?"
"Bukannya nggak mau. Aku mau ngajak kamu ke benua besar itu. Tapi aku nggak mungkin bawa kabur kamu ke sana. Jangankan bawa kabur kamu pergi dari pulau ini. Bawa kamu ke suku Laringking aja nggak mungkin. Katanya suku Laringking dan suku Walunggung itu bermusuhan, kan?"
Beila mengangguk membenarkan. "Sudah dari awal dua suku ini tak akur, Royan. Kami tinggal di satu pulau yang sama, tetapi begitu banyak perbedaan yang masing-masing suku terapkan. Terkadang aku ingin tinggal di suku Laringking saja. Aku tak suka berada di suku Walunggung."
Royan mengeryit bingung mendengar penuturan Beila. Setahunya suku Laringking juga memiliki peraturan yang menyebalkan. Royan jadi penasaran bagaimana banyaknya perbedaan Suku Laringking dan Suku Walunggung itu.
"Kalau boleh tahu, apa perbedaan peratusan di Suku Walunggung dan Suku Laringking?"
Beila terdiam sebentar sebelum menjawab. Tanpa diduga gadis itu menyandarkan kepalanya pada pundak lebar Royan. Pemuda itu tersenyum gemas melihat rambut pendek Beila yang imut. Ternyata tingkah gadis itu juga imut seperti rambutnya.
"Suku Walunggung tak memperbolehkan pernikahan beda suku. Kami harus menikah dengan orang yang berasal dari suku Walunggung juga. Perbedaan perlakuan antara perempuan dan laki-laki adalah hal yang ingin aku hapus dari daftar peraturan yang ada disuku ini. Perempuan tak boleh setara dengan laki-laki. Pekerjaan perempuan adalah melakukan pekerjaan di rumah, tak boleh bepergian keluar pulau, lalu harus memakai banyak perhiasan dan pakaian yang terbuka. Keindahan tubuh perempuan itu harus diperlihatkan terutama pada bagian leher, punggung, dan lutut. Aku adalah perempuan yang paling beruntung di sini. Sebab hanya aku yang boleh menutupi punggungku, meski lututku harus diperlihatkan juga. Kami juga tak diperbolehkan bernyanyi sedikitpun. Dan satu yang paling fatal dan tak boleh dilanggar ... jangan memakan daging burung Barkieq," lontar Beila panjang lebar.