TRAGEDI PULAU TRAGEDI

Monacino
Chapter #9

9. KEDATANGAN KEPALA SUKU LARINGKING

Di ujung Timur wilayah Suku Walunggung, terdapat sebuah pembangkit listrik tenaga air yang beroperasi sebagaimana mestinya setiap hari. Dari sinilah sumber listrik di Suku Walunggung berasal. Beisam sedari tadi terus memperhatikan air dari bendungan kecil itu terus saja menggerakan turbin yang terhubung dengan generator. Memastikan perputarannya tetap stabil tanpa kendala apapun. Namun, fokus Beisam kini teranggut oleh kedatangan seorang pria yang merupakan prajurit penjaga daerah perbatasan.

"Lapor, Tuan Beisam. Ketua Suku Laringking datang ke istana untuk melakukan pertemuan mendadak."

Beisam terkejut, sontak menoleh pada prajurit itu. "Apa? Pertemuan mendadak? Tapi, apa yang terjadi? Apakah sesuatu terjadi di perbatasan?"

"Tidak, Tuan Beisam. Keadaan tetap aman terkendali. Sepertinya memang ada alasan khusus yang akan Kepala Suku Laringking sampaikan. Tapi ... bisa saja menjadi awal terjadinya peperangan. Kami semua telah bersiap untuk menghadang prajurit Suku Laringking di perbatasan."

Beisam mengangguk yakin. "Baiklah. Aku akan segera menemuinya dan kamu tetap komando prajurit yang lain untuk tetap waspada."

"Baik, Tuan Beisam!"

Beisam langsung naik tandu. Empat orang pria yang dengan perawakan besar mengangkat tandu itu, lalu membawa Beisam pergi dari sana menuju istana yang letaknyanya di tengah-tengah wilayah Suku Walunggung. Kurang lebih lima belas menit berlalu, tandu Beisam diturunkan tepat di depan gerbang istana Suku Walunggung. Pintu gerbang dibukakan oleh pelayan, Beisam memasuki halaman istana dengan langkah yang gagah perkasa. Benar saja, di depan istana mereka, tampak kepala suku lawan duduk dengan tenang dengan secangkir teh di hadapannya. Beisam menghampiri Barantungga, lalu berdiri tepat di hadapan kepala suku tersebut.

"Pertemuan mendadak bagaimana yang Anda maksud, Tuan Barantungga? Tak ada pertemuan yang dilakukan saat kepala suku sedang tidak ada di wilayah. Tapi Anda melakukannya," ucap Beisam bermaksud sekalian menyindir sang kepala suku.

Barantungga pun berdiri dengan gagahnya di depan beberapa para pengawalnya yang sedari tadi berdiri di belakangnya. Raut wajah tegas dan dingin Barantungga terpatri jelas, menatap tak suka sikap Beisam yang kurang sopan padanya.

"Aku melihat etika seorang putra kepala suku yang kurang menyenangkan. Tapi maksud kedatanganku bukan untuk mengomentari perilaku seseorang, jadi aku akan langsung pada point pentingnya saja. Serahkan guru terbaik Suku Laringking pada kami. Dia kemungkinan tersesat, tercebur, atau diculik oleh salah satu orang dari suku ini."

Beisam sontak saja menatap marah, raut bengisnya keluar, satu-satunya gen yang sangat kental antara dirinya dan ibunya. Wajah kebengisan itu ketika marah. "Kurang ajar, Anda. Beraninya menuduh Suku Walunggung mencuri salah satu rakyatmu. Itu tidak benar. Kami tidak menemukan atau menculik siapapun dari Suku Laringking!"

"Kalau begitu, izinkan prajuritku untuk mencari keberadaan Royan di wilayah ini. Aku tak akan pergi sebelum Royan ditemukan. Apalagi kamu menolak untuk mengizinkan, maka terpaksa peperangan akan menjadi jalan terakhir. Tak peduli dengan kepala sukumu sedang tidak ada, kami tetap akan melakukan penyerangan," tegas Barantungga.

Beisam mengepalkan kedua tanggannya erat-erat, matanya berapi-api. Menatap tajam ke arah Barantungga yang tampak berdiri dengan tenang di tempatnya. Namun, Beisam tak dapat melampiaskan amarah itu. Peraturan tetaplah menjadi peraturan yang harus ditaati. Suku Walunggung melarang anggota keluarga kepala suku melakukan penyerangan langsung pada kepala suku lawan tanpa adanya perintah dari kepala Suku Walunggung sendiri. Oleh sebab itu, diam adalah pilihan yang diambil Beisam untuk saat itu.

"Prajurit! Kerahkan prajurit lainnya untuk mencari orang Suku Laringking yang tersesat di wilayah ini. Cari ke setiap penjuru dan segera berikan kabar pada kami!" titah Beisam.

"Siap, Tuan Beisam!"

Lihat selengkapnya