TRAGEDI PULAU TRAGEDI

Monacino
Chapter #10

10. ROYAN MERASA TERJEBAK

Kedatangan Royan bersama Beila membuat Beisam bertanya-tanya. Terlebih mereka berdua terlihat sangat dekat. Namun, Beisam tak dapat mempertanyakan hal itu sekarang. Di belakangnya ada ketua suku Laringking yang bisa saja menyimpulkan sesuatu jika ia bertanya soal hubungan mereka saat ini juga.

"Siapa orang yang kamu bawa, Beila?"

Beila menoleh pada Royan sebentar, lalu kembali menatap kakaknya. "Dia adalah Royan. Aku menemukannya terseret arus air saat aku memantau penyulingan air di sana. Setelah kami berbincang, aku baru tahu dia adalah guru baru di suku Laringking," tuturnya menjelaskan dengan baik.

Beisam mengangguk mengerti. Ia berbalik menghadap Barantungga dengan raut wajah sedikit angkuh dan senyum penuh kemenangan. "Anda dengar sendiri, bukan? Adikku yang terhormat telah menyelamatkan orang asing baginya yang merupakan rakyat dari sukumu sendiri. Ini hal yang sangat mengangumkan. Ketika lawan berbaik hati dengan sang musuh." Beisam bahkan sedikit terkekeh di akhir.

Barantungga menoleh pada Royan yang menundukkan pandangannya ketika tatapan mereka bertemu. Jujur saja, Royan juga takut dengan tatapan tegas kepala suku tersebut. Walau pada awalnya di matanya Barantungga adalah sosok bapak-bapak biasa pada umumnya, tetapi ketika berada di pulau ini aura pria tua itu benar-benar berbeda.

Barantungga menghampiri Royan tanpa menoleh sedikit pun pada Beisam dan Beila. "Royan, kita harus meninggalkan tempat ini. Kamu harus mendapatkan lebih banyak pengetahuan tentang larangan berada di pulau ini. Termasuk larangan menginjakkan kaki sembarangan di suku Walunggung," cetus Barantungga sebelum melangkah lebih dulu dengan raut wajah yang tampak sangat keras.

Royan menunduk hormat pada Beisam yang menatapnya sinis. Lalu ia beralih menatap Beila juga juga menatapnya dengan kedua mata bulat yang terlihat berkaca-kaca. Ingin rasanya menyentuh pipi bulat gadis itu, tetapi Royan tak ingin kehilangan tangannya. Tatapan Beisam benar-benar sangat menghunus.

"Aku pulang, Beila. Terima kasih atas semuanya. Semoga ada jalan untuk kita saling menemukan kembali," tuturnya sebelum melangkah pergi dari sana.

Beila menatap sendu kepergian Royan yang kini telah mencapai gerbang. Sosok itu kemudian hilang begitu gerbang ditutup oleh penjaga. Kini Beila baru terpikir tentang kakaknya. Kepalanya menoleh takut-takut pada Beisam yang masih berdiri di sana dengan tampang dingin.

"Kamu berhutang penjelasan padaku, Beila. Ikutlah ke ruangan keluarga," ucap Beisam seraya melangkahkan kaki ke dalam istana lebih dulu. Beila tak punya pilihan lain. Anak bungsu dari kepala suku Juhaira itu mau tak mau mengikuti saudara keduanya memasuki istana Suku Walunggung.

Di ruangan keluarga yang tak begitu luas, lantainya terbuat dari marmer, dan setiap dindingnya terdapat berbagai lukisan karya Beinor, mereka berdua duduk berhadapan. Hanya duduk di lantai beralaskan sebauh karpet dan bantal kecil untuk mereka duduk. Di tengah-tengah mereka ada sebuah meja kecil yang di atasnya terdapat lilin aroma terapi.

"Kamu sudah tahu dengan jelas bagaimana kerasnya larangan kita berdekatan dengan orang Suku Laringking, tapi kamu malah terlihat sangat dekat dengan pria bernama Royan itu. Ingat ini baik-baik, Beila. Tak ada toleransi sama sekali dari Ibu tentang hubungan khusus antara dua suku," ucap Beisam.

Lihat selengkapnya