Wilayah Paran adalah wilayah yang dapat dilewati atau hak milik kedua suku. Artinya baik suku Walunggung maupun suku Lairingking dapat melewati tempat itu untuk mengakses perairan sekitar untuk mencari ikan di laut. Batas untuk mencari ikan pun telah ditetapkan oleh masing-masing ketua suku dan tak boleh melewati batas. Ini pertama kalinya Royan menjajak Wilayah Paran. Berkat informasi dari Fatma, Royan nekat untuk mencari tahu tentang Wilayah Paran.
"Pasti di sekitar sini ada pintu masuk menuju Suku Walunggung," gumam Royan menengok ke arah kanan dan diri.
Saat sibuk pintu masuk menuju Wilayah Suku Walunggung, fokus Royan tersita pada kapal yang dinaiki oleh nelayan Suku Laringking. Kapal tersebut terhubung dengan sebuah tali besar yang terikat ke dahan pohon yang kuat batangnya. Rasa penasarannya membuat Royan mendekati nelayan itu.
"Permisi, Pak. Saya Royan penduduk baru di pulau ini. Kalau boleh tahu, kenapa kapal nelayan ini harus diikat dengan tali ke dahan pohon besar itu, Pak?''
Nelayan pria yang mengenakan pakaian serba warna cokelat sama seperti Royan itu pun menjawab, "Ini sudah menjadi peraturan dari kepala suku kita. Setiap kapal selalu diikat dengan erat pada pohon dan ukuran panjangnya tepat pada garis di tengah laut itu. Di sana ada batas akhir kami boleh berlayar. Setiap sore penjaga Wilayah Paran dari Suku Laringking akan menarik tali ini untuk memastikan masih terhubung dengan kapal nelayan. Jika tidak terhubung, ada dua kemungkinan. Kapal mengalami kecelakaan atau nelayan melarikan diri dengan kapal itu," tutur nelayan tersebut.
Royan manggut-manggut sambil ber-oh ria. "Berarti peraturan Suku Laringking ini sangat ketat, ya. Jadi tak ada orang yang berani untuk melarikan diri dari pulau ini. Pernah tidak ada yang melarikan diri?"
"Pernah ada yang melarikan diri. Kejadiannya tiga tahun yang lalu. Kepala suku Barantungga langsung berlayar bersama para petinggi suku. Mereka yang sudah hapal jalur laut dan memiliki kapal yang sangat canggih, tak sulit untuk menyusul kapal nelayan yang melarikan diri itu. Mereka akhirnya tertangkap juga."
Royan semakin penasaran dibuatnya. "Terus apa yang dilakukan kepala suku pada mereka, Pak?"
Pria nelayan itu menggeleng hampa. "Sampai detik ini kami tidak tahu apa yang terjadi pada orang-orang yang tertangkap itu. Sudahlah, kami akan berangkat sekarang. Jangan sembarang bertanya tentang rahasia suku pada siapapun. Kamu akan dicap sebagai calon pemberontak nantinya," cetus pria itu sebelum benar-benar berangkat dengan kapalnya.
Royan berjalan gontai. Setelah mendengarkan hal yang membuat bulu kuduknya merinding, ia menjadi ragu berencana untuk melarikan diri dari pulau ini. Tapi secara bersamaan ada perasaan ingin membongkar rahasia yang disembunyikan kepala suku tersebut. Tiba-tiba seseorang menyentuh jari tangannya dengan lembut, membuat Royan menoleh ke samping. Tampaklah seorang gadis cantik berambut pendek, bermata bulat, dan berpakaian serba cokelat seperti dirinya.
"Beila kamu—"
Beila membungkam mulut Royan dengan kue bulat berwarna hijau. Sontak saja Royan membenahi kue itu dimulutnya sebelum mengunyah dengan ragu. Kedua matanya tampak berbinar, sambil mengangguk. Tanda bahwa ia menyukai kue itu.
"Ada satu lagi, '' ucap gadis itu kembali menyuapi Royan dengan kue berwarna kuning. Mereka terus berjalan pelan menikmati angin yang berhembus dengan cukup kencang.
"Kamu kok bisa ke sini? Emangnya nggak ada yang marah?"
"Ini Wilayah Paran. Siapa saja boleh ke sini. Baik Suku Laringking maupun Suku Walunggung. Tapi untuk bisa berjalan bersamamu, aku menyamar dengan pakaian ini. Aku mendapatkannya dari pengawalmu. Fatma."
Royan terkejut mendengar fakta itu. Ia tak menyangka Fatma berbuat sejauh ini agar dirinya bisa bertemu dengan Beila.