Langit sore sudah mulai terlihat. Beila dan Royan memutuskan untuk turun dari tempat mereka duduk tadi. Keduanya berjalan santai sambil menikmati keindahan alam. Para nelayan pun ada yang telah pulang dari kegiatan mencari ikan mereka.
"Empat jam kita bersama di atas sana, aku merasa tak pernah berbincang selama itu dengan seseorang. Tapi bersamamu ... mengapa seakan-akan tak ada habisnya hasratku ingin selalu berbincang denganmu," ucap Beila.
Royan tersenyum menyambut pengakuan itu. "Jawabannya tetap sama, itu karena cinta. Bahkan kalau harus bermalam di atas sana, aku akan menyetujuinya."
"Sayangnya itu tak akan pernah terjadi. Sebab Suku Laringking melarang perempuan untuk keluar rumah saat malam hati."
"Tapi kamu bukannya dari Suku Walunggung?"
Beila menoleh pada pakaian yang ia pakai saat ini. "Kamu tak lihat aku memakai pakaian Suku Laringking? Jika aku tetap berada di sini ketika hari akan gelap, aku pasti akan diseret oleh prajurit Suku Laringking dan dipaksa untuk pulang. Oleh sebab itu, aku harus pulang sekarang dan berganti pakaian."
Royan baru tahu soal itu, ia mengangguk paham. "Aku baru tahu soal itu. Tapi Suku Walunggung tak melarang perempuan keluar malam?"
Beila menggeleng. "Tidak. Di sini tak jarang terdengar ada yang melakukan hubungan disembarang tempat. Ini yang aku tak suka dari suku yang aku anut sendiri. Ibuku sama sekali tak berkeinginan mengubah peraturan lama dari leluhur kami, katanya untuk menghormati kerja keras para leluhur. Sedari dulu para laki-laki di Suku Walunggung memiliki kuasa yang lebih tinggi dari perempuan. Mereka boleh memutuskan untuk menikah dengan siapa saja asal jangan dengan keluarga petinggi suku. Jadi para perempuan pasrah ketika seorang pria menginginkannya. Mereka akan menikah di hadapan kepala suku yaitu ibuku. Lalu ... perempuan juga dijadikan tameng di perbatasan. Perempuan yang menjaga tempat itu, dengan pakaian yang terbuka bertujuan untuk membuat lawan melemah dan juga punya hasrat untuk mengalah. Apalagi Suku Laringking itu menjaga sikapnya pada perempuan. Oleh sebab itu, cekcok bagaimanapun tak pernah membesar sejak ditetapkan peraturan menaruh perempuan di garda terdepan. Bukan karena perempuan itu derajatnya lebih tinggi atau lebih hebat dari laki-laki, melainkan karena mereka secara tidak langung menjadi korban pertama jika terjadi sesuatu di perbatasan. Aku sangat muak dengan peraturan itu, Royan."
"Itu tuh keterlaluan banget, Beila. Pantas aku liat banyak perempuan di perbatasan. Mereka cuma pakai rok pendek dan penutup bagian dada. Terus pakai banyak perhiasan di kaki, tangan leher, dam telinga. Jadi tujuannya untuk itu?"
Beila mengangguk. "Kamu bahkan memperhatikan mereka, bukan?"
"A-Aku ...." Royan menggaruk tengkuknya yang tak gatal sambil menunjukkan cengiran polosnya pada Beila.
"Mulai sekarang jangan ke sana. Jangan ke perbatasan. Aku tidak suka lihat kamu ke sana lagi."
"Nggak kok. Kan sudah ada kamu. Besok kita ketemu lagi di sini, ya?"
Beila mengangguk setuju. "Asal ibuku belum datang, aku pasti bisa ke sini bertemu sama kamu. Kita juga bisa ikut nelayan mencari ikan. Aku pernah ikut nelayan ke tengah laut sana. Tapi pakai pakaian Suku Laringking seperti ini."
"Emangnya nggak ada yang kenal sama kamu?"
Beila menggeleng. "Dari Suku Laringking tidak ada kecuali Fatma dan Kepala Suku Barantungga. Tugas aku hanya mengawas para petugas yang bekerja di dalam Wilayah Walunggung saja, jadi aku ke sini nyaris tak pernah. Pernah, tapi ya dengan pakaian Suku Laringking. Aku punya satu pakaian Suku Laringking sadari dulu, tetapi telah dibakar oleh kakakku yang menemukannya. Tapi pakaian yang diberikan Fatma ini aku akan menyembunyikannya dengan baik. Supaya aku bisa bertemu dengan kamu lagi besok."