TRAGEDI PULAU TRAGEDI

Monacino
Chapter #13

13. MENEMUKAN RAHASIA

Tengah malam yang sangat sepi. Fatma terbangun dari tidurnya. Bukan secara tak sengaja melainkan memang sengaja ia lakukan. Wanita itu mengeluarkan pakaian pria dari bawah kasur tipisnya. Tatapan Fatma tampak lain malam itu menatap pakaian tersebut, seperti mengumpulkan sebuah niat yang sudah terpupuk sejak lama. Fatma benar-benar nekat hari ini. Diambilnya pakaian itu dan mulai berganti pakaian dengan sangat teliti tanpa melupakan detail sedikitpun bagaimana cara pria berpakaian.

Rambut cukup panjang itu Fatma himpun dan tempelkan pada kepalanya, lalu dijepit dengan banyak jepitan rambut tipis berwarna hitam. Hingga rambutnya yang tak begitu tebal itu seakan menyatu dan terlihat pendek seperti seorang pria dengan bantuan sebuah topi bulat yang biasa dipakai oleh pria Suku Laringking. Kumis yang sudah ia buat sejak beberapa hari yang lalu dengan potongan ujung rambutnya pun bisa melekat dengan sempurna di bawah hidungnya. Kini Fatma benar-benar terlihat seperti seorang pria.

Semuanya telah ia perhitungkan. Pergerakan penjaga di luar sana, pukul berapa mereka mulai berganti shift jaga, dan tempat keluar istana mana yang kosong pun Fatma sudah tahu soal itu. Malam itu Fatma keluar dari rumahnya, berjalan penuh percaya diri menuju pintu samping untuk keluar dari istana Laringking.

Tempat yang akan Fatma kunjungi adalah tempat yang selama ini menjadi tanda-tanyanya. Tempat yang hanya diketahui oleh Kepala Suku Barantungga dan orang-orang kepercayaannya saja. Fatma bersembunyi di bawah pohon besar sambil mengintai jalanan. Fatma yakin mereka pasti akan melewati jalanan itu. Selama kurang lebih satu tahun menyelidiki fakta ini secara detail, Fatma sudah mengantongi banyak informasi. Pertama tentang kegiatan rutin Barantungga tiap malam Rabu untuk mengunjungi suatu tempat rahasia dengan pakaian serba hitam. Kedua Fatma tahu jikalau kegiatan rutin itu dilakukan tengah malam oleh Barantungga. Ketiga Barantungga akan menuju ke tempat rahasia itu dengan jalur khusus yang hanya boleh dilalui oleh orang-orang penting istana saja.

Tak lama terdengar suara langkah kaki. Fatma langsung mematung sambil mempertahankan posisi diamnya di bawah pohon yang terdapat semak-semak yang cukup tinggi. Tampaklah di penglihatannya empat petinggi istana sedang mengangkat tandu yang isinya sudah pasti kepala suku Laringking. Memastikan keadaan sekitar aman, Fatma pun keluar dari persembunyiannya untuk mengikuti kepergian orang-orang itu.

Mengendap-endap secara lihai dan nyaris tak ada suara, Fatma benar-benar telah mempelajari semuanya sebelumnya. Ia telah berlatih mengendap-endap tanpa menimbulkan suara apapun. Semua itu terealisasikan sekarang. Fatma berhasil mengikuti Barantungga hingga ke suatu tempat yang tak pernah Fatma ketahui sebelumnya. Di sana ada sebuah gua cukup besar dan di kedua sisi pintu gua itu tak dijaga sama sekali. Hanya ada lampu semprong besar saja yang menerangi wilayah sekitar sana.

"Tempat apa ini? Pantas saja akses menuju tempat ini dilarang dimasuki oleh siapapun dengan mengatakan bahwa tempat ini adalah tempat penunggu pulau yang sangat berbahaya. Ternyata ini adalah tempat rahasia Barantungga menyimpan sesuatu. Tapi apa?" gumam Fatma masih keheranan.

Fatma mempertahankan posisinya dalam keadaan meringkuk di dalam semak-semak dan di samping pohon dalam waktu kurang lebih setengah jam. Ketika Barantungga telah meninggalkan tempat itu bersama dengan orang kepercayaannya, Fatma langsung mengendap-endap mendekati gua tersebut.

Nyawa adalah taruhannya, Fatma tahu dengan jelas hal itu. Tetapi dirinya tak peduli, ada hal penting yang harus ia pastikan sendiri untuk memastikan kecurigaannya selama ini benar atau salah dan malam ini adalah waktunya ia membuktikan kebenaran itu.

Fatma masuk ke dalamnya dengan langkah yang sangat pelan. Tak ada satu pun orang di dalam gua yang gelap gulita itu. Hawa dingin kian merapi tubuhnya, kendati peluh membanjiri sebagian wajah tegas Fatma.

Hingga ia menemukan sebuah cahaya temaram di ujung gua itu. Sambil meraba-raba sekitar, Fatma terus melangkahkan kakinya ke arah sana. Kakinya merasakan pijakan demi pijakan yang aman barulah benar-benar melangkah. Akhirnya sampailah dia depan sesuatu yang menghalangi langkahnya. Fatma baru ingat, ia membawa korek api dari rumah.

Dinyalakannya satu batang korek api dengan perlahan. Cahaya kecil dari korek api itu memperlihatkanya pada sebuah lingkaran besi tepat di hadapannya. Belum lagi selesai ia mengamati besi berwarna abu-abu itu, api korek telah padam. Kali ini Fatma memiih menyalakan sebuah lampu semprong yang melekat di dinding gua. Barulah ia bisa menerangi wilayah itu dengan lampu tersebut. Tampaklah lebih jelas besi bulat besar di hadapannya. Besi itu memiliki pengunci dari luar, tetapi hanya diselopkan antara lubang besi dengan besi pipih saja. Sehingga Fatma bisa membuka penutup itu dengan mudah.

Tenaganya sebagai wanita tak dapat diragukan. Fatma menggeser besi bulat itu sekuat tenaga, hingga menciptakan celah untuk dirinya bisa melihat isi yang ada di bawahnya.

Ternyata ada sebuah tangga menuju ke arah bawah ruangan itu. Tempatnya sangat gelap, nyaris tak ada yang terlihat jika dari atas. Fatma pun memberanikan diri untuk turun ke bawah sambil memegangi lampu semprong tersebut.

Tak pernah terbayang oleh Fatma sebelumnya jika di bawah bumi yang ia tinggali ada sebuah ruangan bawah tanah rahasia seperti ini. Di dalamnya ada benda-benda yang tak ia mengerti, sebab keadaan sekitar yang sangat gelap. Satu-satunya yang bersinar di ruangan itu hanyalah lampu yang ia pegang, hingga merambat pada wajahnya. Sedang kakinya terus melangkah waspada.

Lihat selengkapnya