"Ya. Sebentar lagi aku akan dieksekusi kepala suku Barantungga."
Fatma terkejut mendengar penuturan Yudan. Ia lebih mendekati kekasihnya itu dengan tatapan bertanya-tanya dan harap-harap cemas. "Yudan, apa maksudmu itu? Eksekusi apa maksudmu, Yudan?"
Yudan meneteskan air matanya meski dengan bibir yang tersenyum. "Aku ditahan di sini karena penyakitku, Fatma. Aku memiliki masalah pada jantungku dan aku harus disembuhkan dulu. Selama tiga tahun kematianku ditunda. Kamu lihat di belakangku, bukan?" tunjuk Yudan pada dua temannya yang sedang tidur pulas. "Eksekusi mereka ditunda juga karena mempunyai penyakit dan harus disembuhkan. Sedangkan teman kami yang lainnya sudah dieksekusi dengan sadis untuk mengambil semua organ penting yang ada pada tubuh mereka," tutur Yudan menjelaskan dengan tangisan tertahan yang sangat menyakitkan. Fatma membekap mulutnya sendiri saking terkejutnya mendengar penuturan Yudan.
"A-aku setiap hari menderita memikirkan hal ini. Aku takut kepala suku mempergunakan uang penjualan organ itu untuk kepentingan rakyatnya yang mana kamu juga pasti akan menikmatinya. Aku ... aku benar-benar merasa putus asa ketika penyakitku ternyata sudah membaik. Itu berarti satu minggu lagi adalah giliran eksekusi kami, Fatma. Tak ada harapan lagi."
Fatma menggeleng. "Jangan putus asa, Yudan. Sekarang kamu memiliki aku. Aku yang akan membebaskanmu dari sini. Pegang janjiku. Aku akan membebaskanmu. Sekarang kamu harus lebih tenang. Aku akan segera kembali dengan sesuatu yang besar. Ya, anggap ini hal ternekat yang pernah aku lakukan. Jangan larang aku melakukan hal nekat apapun sebab kamu telah melakukannya lebih dulu dari aku. Aku akan pergi sekarang. Tetap pertahanan hidupmu apapun yang terjadi. Aku pergi dulu," ucap Fatma lekas pergi dari sana sambil membawa lampu semprong itu dengan terburu-buru. Fatma menaiki tangga ke atas dengan perlahan. Begitu sampai di atas, Fatma kembali mengembalikan semuanya ke tempat asalnya. Menutup pintu rahasia itu dan menguncinya kembali. Memungut bekas korek api yang ia pakai sebelumnya, meletakkan lampu semprong ke tempatnya, dan kembali memakai kumis buatan yang ia lepas saat bertemu dengan Yudan tadi.
Malam itu tak ada yang tahu, jikalau seseorang telah berani masuk ke daerah larangan kepala suku. Dan orang itu adalah Fatma. Bahkan pergerakan wanita itu ketika kembali ke rumahnya juga sangatlah mulus. Ia dapat memperhatikan setial detail pergerakan penjaga hingga dapat lolos masuk ke dalam rumahnya.
Di rumah itulah Fatma menangis sejadi-jadinya. Hatinya sangat terluka mengingat kondisi kekasihnya yang begitu memprihatinkan.
"Tunggu sebentar lagi, Yudan. Aku akan menyelamatkanmu meski nyawaku adalah taruhannya. Aku tak peduli lagi hal apapun. Aku akan melakukan yang terbaik untuk kamu."
***
Esok harinya, Fatma sudah ada di depan rumah Royan. Tepat pukul delapan pagi, Royan keluar dari rumahnya. Hari ini mereka mengenakan pakaian serba biru yang menandakan hari Senin.
"Eh, Mbak Fatma udah ada di depan rumah aja. Sudah lama, Mbak?"
"Lumayan."
"Kenapa nggak ngetuk pintu sih, Mbak. Saya kan bisa keluar rumah lebih cepet jadinya. Tadi saya sempat santai dulu malah," ujar Royan seraya mengunci pintu rumah.
"Jadwal mengajarmu hari ini pukul sembilan, Royan. Sebab anak-anak akan melaksanakan upacara adat terlebih dahulu," kata Fatma menjelaskan.
"Gimana tuh, Mbak? Saya perlu ikut juga?"