TRAGEDI PULAU TRAGEDI

Monacino
Chapter #15

15. FAKTA TENTANG SUKU WALUNGGUNG

Usai selesai mengajar, Royan memutuskan untuk ke wilayah Paran lagi. Kali ini ia hanya sendiri, sebab Fatma sedang sakit. Royan berjalan di sepanjang pesisir pantai itu dengan pikiran yang sangat berkecamuk. Ia butuh berdiskusi dengan hati dan pikirannya agar berhasil mengurai benang kusut yang membelit pikirannya.

"Ini sudah nggak benar. Ini bukan hanya sebuah kehidupan di pulau terpencil, tetapi ini kehidupan yang menyimpan tindakan kriminal yang sadis. Para pengkhianat ditangkap dan dibawa ke ruang bawah tanah itu untuk disekap. Lalu ketika kesehatan mereka dinyatakan baik, organ-organ mereka diambil dan dijual dengan harga yang tinggi. Orang yang sakit dirawat terlebih dahulu hingga sembuh. Ketika dinyatakan sembuh maka ... dialah korban yang dieksekusi selanjutnya. Wah, gue nggak bisa biarin hal kayak ini. Ini tindakan kejahatan tingkat tinggi. Barantungga harus dihukum atas semua ini!"

"Mbak Fatma pasti terpukul banget setelah liat pacarnya bakal mati sebentar lagi. Keputusan gue berarti bukan soal berjuang untuk cinta Beila, tapi juga untuk mengungkapkan kejahatan yang tersembunyi di pulau ini."

Di tengah diskusi dengan pikiran dan hati itu, seorang gadis cantik di ujung sana melambaikan tangan. Seketika senyuman Royan mengembang. Ia berlari ke arah Beila yang juga berlari ke arahnya. Begitu mereka bertemu, Royan langsung memekluknya sambil berputar-putar. Beila tertawa lepas ketika merasakan tubuhnya melayang diangkat oleh Royan.

"Kamu kok bisa lolos ke sini. Ibu kamu belum datang ya dari tugasnya?"

Beila menggeleng. "Ibu datang nanti sore sesuai perkiraanku."

"Oh, gitu. Bagus deh. Jadi kamu bisa temenin aku di sini. Aku heran kenapa nggak ada satu pun nelayan hari ini. Kapal mereka juga masih berbaris di sini tuh lihat," tunjuk Royan pada kapal-kapal nelayan.

"Itu karena hari ini adalah hari pertengahan bulan. Seluruh penduduk tidak berkegiatan. Sepertinya kedua suku sama-sama menerapkan sistem seperti itu. Ada satu hari libur yang membuat semua orang harus berada di rumah mereka tanpa berkeliaran. Orang-orang di istana pun juga seperti itu," jelas Beila.

Royan melebarkan kedua matanya. Ia tiba-tiba mendapatkan sebuah akal cemerlang setelah mendengarkan celotehan Beila.

"Kenapa, Royan?"

Royan meraih kedua tangan Beila, lalu mengecupnya sambil tersenyum tampan. Gadis itu langsung tersipu malu, pipinya menjadi kemerahan.

"Terima kasih, Beila. Berkat kamu aku mendapatkan akal cermerlang untuk masalah yang sedang membebani pikiranku," ucap Royan semangat.

"Royan ada masalah?"

Royan merasa ia harus memberitahu Beila soal ini, sebab Beila juga memiliki hubungan yang baik dengan Fatma. Namun, ia tak bisa memberitahunya di sini. Mereka harus mencari tempat yang lebih aman.

"Kamu ikut aku ke ujung sana, ya. Supaya nggak ada yang bisa nguping pembicaraan kita," tunjuk Royan pada ujung pantai yang sangat sepi.

"Aku mau ikut kamu sana," sahut Beila.

"Cakep, Sayang!" ucap Royan mencubit dagu gadis itu sebelum menggandeng tangannya dan berlarian ke arah tujuan.

Lihat selengkapnya